POJOKSATU.id - Indonesia, tanah air yang subur dengan beragam latar belakang sejarah dan budaya, telah mengukuhkan beberapa pahlawan nasional baru yang mencerahkan perjalanan perjuangan bangsa ini.

Dalam sebuah pengumuman yang membanggakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyetujui dan menetapkan calon pahlawan nasional.

Penetapan gelar Pahlawan Nasional ini akan diselenggarakan pada Hari Pahlawan, tanggal 10 November 2023.

Apa yang membuat pengumuman ini begitu mengesankan adalah keragaman latar belakang para penerima gelar Pahlawan Nasional.

Baca Juga: Menyambut Hari Pahlawan, Ini Pedoman Lengkap Upacara Bendera 10 November 2023

Mereka tidak hanya berasal dari kalangan pejuang kemerdekaan yang terlibat dalam perang fisik melawan penjajah, tetapi juga dari berbagai bidang yang memainkan peran kunci dalam perjuangan menuju kemerdekaan.

1. Kisah Pertama: Ida Dewa Agung Jambe

Salah satu penerima gelar Pahlawan Nasional adalah Ida Dewa Agung Jambe.

Meskipun bukan pemimpin utama pada era Kerajaan Klungkung, namanya terukir dalam sejarah saat dia memimpin perlawanan melawan Belanda selama Perang Puputan Klungkung pada tanggal 28 April 1908.

Ia dan rakyatnya melakukan Puputan, bertempur habis-habisan di depan istana Klungkung, bahkan anggota keluarga kerajaan turut bertempur dan gugur.

Tindakan berani ini menggambarkan kesatria sejati yang berkorban demi tanah air.

Baca Juga: Menghormati Jasa Para Pejuang, Inilah Pedoman Pelaksanaan Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2023

2. Kisah Kedua: Raja Bataha Santiago

Raja Bataha Santiago adalah contoh lain dari pahlawan yang berani.

Dia menentang Belanda dan menolak perjanjian kerja sama dengan Gubernur Belanda, Robertus Padtbrugge, yang berbasis di Maluku.

Keputusannya didasarkan pada keyakinan bahwa perjanjian itu merugikan masyarakat dan ia menolak tunduk kepada penjajah.

Meskipun tindakannya membuat Belanda sangat marah, dia tetap kukuh dalam keyakinannya.

Akhirnya, pada tahun 1675, Raja Bataha Santiago ditangkap dan dihukum gantung oleh Belanda.

Baca Juga: Kisah Pahlawan Minangkabau Usir Penjajah dengan Kecerdasan Diplomasi

3. Kisah Ketiga: Mohammad Tabrani

Mohammad Tabrani, seorang jurnalis dan politikus Indonesia, adalah tokoh yang memperjuangkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Dia melawan kolonialisme dan diskriminasi ras serta suku bangsa.

Bahkan ketika ia dipanggil "negro" di Belanda pada tahun 1927, Tabrani tidak pernah mundur.

Dia melihat bahasa Indonesia sebagai alat untuk menyatukan berbagai kelompok di Indonesia, dan ide ini menjadi dasar konsep kebangsaan yang berbeda dari organisasi pemuda pada masa itu.

Tidak ada kata menyerah dalam kamus Tabrani, dan gagasannya akhirnya diterima oleh banyak.

4. Kisah Keempat: Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat, seorang pemimpin wanita yang bijaksana, adalah penerima gelar Pahlawan Nasional yang kisahnya menginspirasi.

Ia memerintah sebagai Adipati Jepara selama sekitar 30 tahun, mulai dari tahun 1549 hingga 1579.

Selama masa kepemimpinannya, ia aktif dalam politik dan dekat dengan ulama.

Ratu Kalinyamat berupaya mensejahterakan masyarakat Jepara dan melakukan dakwah Islam di wilayah pantai utara Pulau Jawa.

Baca Juga: Mengenal Sosok Mayor Bismo, Pahlawan yang Gugur oleh Rakyatnya Sendiri

5. Kisah Kelima: Abdul Chalim

Abdul Chalim, seorang ulama dari tatar Sunda dan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), adalah contoh nyata pemimpin pergerakan.

Lahir pada tahun 1898, Abdul Chalim memiliki latar belakang yang terkait dengan kepemimpinan dan perjuangan republik.

Dia berguru kepada beberapa ulama di Mekkah dan menjadi anggota Syarikat Islam.

Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1914, Abdul Chalim aktif dalam perjuangan untuk memerdekakan Indonesia.

Dia bergabung dengan organisasi seperti Nahdlatul Wathan dan Taswirul Afkar, serta memiliki hubungan yang erat dengan KH. Hasyim Asy'ari.

Baca Juga: Kisah Pahlawan Minangkabau Usir Penjajah dengan Kecerdasan Diplomasi

6.Kisah Keenam: Ahmad Hanafiah

Ahmad Hanafiah adalah tokoh agama dan pemimpin pergerakan di Lampung.

Lahir pada tahun 1905, dia memiliki ilmu kebal yang digunakan dalam perlawanan fisik terhadap penjajah Belanda.

Hanafiah aktif dalam pergerakan nasional dan memainkan peran penting dalam organisasi seperti Masyumi dan Hisbullah Sukadana.

Dia memperkuat semangat kebangsaan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Lampung.

Penetapan gelar Pahlawan Nasional bagi sosok-sosok ini adalah pengakuan atas kontribusi luar biasa mereka dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Baca Juga: Rilis Teaser Pertama! Nam Joo Hyuk Jadi Pahlawan Kegelapan Penuh Aksi di Drama Korea Vigilante

Mereka adalah pahlawan yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat, menunjukkan bahwa semangat perjuangan dan keberanian tidak mengenal batasan.

Kesatria sejati bisa berasal dari mana saja dan berperan dalam perjuangan apa pun yang diperlukan demi kemerdekaan.

Para pahlawan ini adalah inspirasi bagi kita semua, mengingatkan bahwa semangat perjuangan masih hidup dan harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Mereka adalah penjaga warisan dan simbol tekad tanah air untuk meraih kemerdekaan.

Selamat kepada para Pahlawan Nasional baru Indonesia yang membangkitkan semangat patriotisme dan kebangsaan!***