POJOKSATU.id, JAKARTA-- Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala memberikan analisa mengenai tewasnya ibu bersama dua anaknya di kontrakan di Jalan Warakas 8, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Kasus tersebut mengarah kepada dugaan keracunan Sianida di dalam tubuh korban. Namun apakah bunuh diri (bundir) atau dibunuh hingga saat ini masih dalam penyelidikan polisi.
Adrianus Meliala mengatakan ciri-ciri tubuh para korban kerap muncul pada kasus keracunan bahan kimia salah satunya dilihat dari busa di mulut korban, kemudian konndisi tubuh melepuh.
“Kemungkinan kena kimia seperti sianida yang kemudian lalu membuat tampilan tubuh seperti itu," kata Adrianus di Kompas TV, Sabtu (3/1/2026).
Baca Juga: Kejadian Pilu Warakas, Mulut Ibu Bersama 2 Anaknya Berbusa, Diduga Keracunan Makanan
Kendati demikian, ia menegaskan kepastian penyebab kematian masih harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
"Tapi dari segi kepastiannya itu menunggu pemeriksaan laboratorium dulu," katanya.
Menurut Adrianus, kasus ini perlu terlebih dahulu diungkap apakah korban diracun oleh orang lain atau keracunan karena sengaja bunuh diri.
Menurutnya, jika diracun maka perlu melihat situasi apakah keluarga ini memiliki musuh, mungkin memiliki hutang yang tidak bisa dibayar, utang kontrakan sehingga ada orang yang ingin membunuhnya.
Baca Juga: Keracunan Makanan di Kontrakan Warakas, Terdiri Dari Ibu dan Dua Orang Anaknya
Atau karena berbuat pencemaran nama baik sehingga musuh ada yang dendam lalu berujung kepada upaya untuk membunuh dengan cara meracun.
Yang kedua adalah bunuh diri melalui minum racun atau makan sesuatu yang sudah ada racunnya. Di mana kemudian hal ini lalu dikonsumsi oleh anak dan ibunya bersama-sama.
Mungkin pada saat anak yang terakhir yang kemudian mengonsumsi tidak terlalu banyak sehingga kemudian tidak mengakibatkan kematian, sementara yang lain ibu dan dua anak yang lain mungkin mengonsumsi sudah banyak sudah keburu meninggal duluan," katanya lagi.
Jika mengarah kuat ke kasus bunuh diri, Adrianus menduga disebabkan karena kesulitan hidup atau keterbatasan ekonomi.
"Sehingga membuat sang ibu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena dia tidak ingin anak-anaknya menderita. Dia mengajak anak-anaknya untuk juga bunuh diri bersamanya," jelasnya.***




