POJOKSATU.id – Sebuah video sederhana dari warga Dusun Mak Ilau, Desa Sarang Burung Usrat, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, mendadak jadi bahan perbincangan nasional.
Dalam video itu, terlihat pondasi tiang listrik yang baru dicor tampak retak dan rapuh.
Namun yang mengejutkan bukan hanya keretakannya tapi isi di baliknya.
Baca Juga: Bukan Invalid, Tapi Tertunda! Ini Arti Status 07 di Info GTK dan Kenapa Belum Berubah Jadi 08 SKTP
Bukan batu, bukan besi, melainkan kelapa utuh dan serabutnya.
Video tersebut diunggah ke media sosial oleh warga bernama Fahrial Ghifary, pada Senin, 11 November 2025.
Dalam unggahannya, ia memperlihatkan potongan coran yang terbelah, memperlihatkan serabut kelapa yang menonjol keluar dari semen.
“Baru beberapa hari dicor sudah retak. Isinya kelapa!” tulisnya.
Rekaman itu langsung viral dan menuai ribuan komentar yang mempertanyakan mutu proyek di daerah tersebut.
Di lokasi kejadian, beberapa warga memastikan bahwa bukan hanya satu tiang yang rusak.
Baca Juga: Bukan Invalid, Tapi Tertunda! Ini Arti Status 07 di Info GTK dan Kenapa Belum Berubah Jadi 08 SKTP
Setidaknya ada tiga tiang listrik dengan kondisi pondasi serupa dua sudah retak, satu lainnya masih utuh tapi tampak sabut kelapa di bagian bawah coran.
“Kayak nggak niat ngerjain. Padahal ini untuk listrik warga,” ujar salah satu warga kepada DetikKalbar.
Sejak video itu menyebar, muncul dugaan bahwa proyek ini dikerjakan tanpa pengawasan memadai.
Beberapa warga bahkan menuding adanya praktik penghematan bahan atau korupsi kecil-kecilan di lapangan.
Baca Juga: Yusril Benarkan Orang Tua Reynhard Sinaga Surati Presiden Prabowo Minta Anak Dipulangkan
“Semen tiga zak pun mau dikorup,” kata seorang tokoh masyarakat dalam laporan KalbarOnline, menyindir keras praktik kotor yang sering terjadi di proyek desa.
Hingga berita ini ditulis, PLN dan kontraktor pelaksana belum memberikan penjelasan resmi.
Belum diketahui apakah proyek tersebut bagian dari program perluasan jaringan listrik desa atau pekerjaan swadaya.
Namun dari visual yang beredar, kualitas material tampak jauh dari standar.
Di permukaan pondasi, terlihat retakan halus yang menjalar ke seluruh sisi tiang, menandakan adukan semen tidak padat atau tercampur bahan tak layak.
Fenomena ini membuka mata publik tentang rapuhnya pengawasan proyek infrastruktur di pelosok.
Baca Juga: Ngeluh Target Minyak Belum Tembus, Bahlil Pilih Doa daripada Data?
Di kota, tiang listrik berdiri kokoh dengan pondasi baja bertulang.
Tapi di ujung kampung, warga justru mendapat pondasi yang diisi kelapa.
Perbedaan kualitas ini menggambarkan kesenjangan nyata antara pembangunan di pusat dan daerah.
Kasus Sambas hanyalah satu contoh kecil bagaimana proyek publik bisa kehilangan maknanya ketika pengawasan longgar dan integritas pelaksana luntur.
Mungkin nilainya hanya beberapa juta rupiah, tapi dampaknya bisa mengancam nyawa warga bila tiang listrik itu roboh.
Warga kini menunggu langkah tegas dari pihak terkait audit proyek, pemeriksaan material, dan pertanggungjawaban kontraktor.***




