POJOKSATU.id - Dari total 6.012 responden, sebanyak 66,93 persen diantaranya menyebut bahwa program MBG belum tepat sasaran.
Hal itu tergambar dari hasil polling yang digelar 8 media di bawah naungan Metropolitan Grup.
Antara lain Pojoksatu.id, Metripolitan.id, Metro Bogor, Radar Bandung, Radar Bekasi, Radar Depok, Radar Cianjur, dan Radar Sukabumi.
Dalam polling tersebut publik diberikan pertanyaan "Apakah program MBG sudah tepat sasaran?".
Baca Juga: Menteri PPPA Minta Maaf Usai Heboh Usulkan Gerbang Khusus Wanita Dipindah ke Tengah
Sementara model jawaban tertutup dengan jawaban "Sudah" dan "Belum".
Sebagai informasi, polling ini dilakukan melalui media sosial TikTok dan Instagram selama periode 13-17 April 2026.
Total ada sembilan akun media sosial media baik TikTok maupun Instagram, yang ikut menayangkan polling ini.
Hasilnya, sebanyak sebanyak 4.024 responden atau 66,93 persen menyatakan bahwa program MBG belum tepat sasaran atau "Belum'.
Baca Juga: Orang Tua Korban Tuntut Ganti Rugi dari Pemilik Daycare Aresha, Berharap Pelaku Dimiskinkan
Lalu yang menjawab "Sudah" dan menilai program MBG sudah tepat sasaran sebanyak 1.988 responden atau 33,07 persen saja.
Dari pendataan, total jangkauan polling melalui sembilan akun TikTok resmi media mencapai 92.228 tayangan.
Sedangkan di platform Instagram, mencapai 10.060 tayangan.
Jika dirinci, di platform TikTok, sebanyak 65,95 persen responden memberikan jawaban "Belum", dari total responden yang mencapai 5.357.
Akan tetapi di platform Instagram, prosentase publik dengan persepsi negatif dengan memberikan jawaban "Belum" ternyata lebih tinggi.
Yakni mencapai 74,96 persen meski jumlah responden di platform ini lebih sedikit, 655.
Dari angka ini, menunjukkan adanya kecenderungan persepsi negatif yang cukup kuat di kedua platform tersebut.
Hasil Penelitian
Hasil Polling Metropolitan Grup ini ternyata sejalan dengan hasil penelitian Kluster Kesejahteraan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan yang diungkap Pengamat Kemiskinan Universitas Indonesia, Prof Fentiny Nugroho.
Baca Juga: Sosok Korban Meninggal KRL Bekasi Timur Ternyata Perempuan-perempuan Hebat, Ini Sebagian Profesinya
Penelitian tersebut digelar dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, focus group discussion (FGD) dan observasi di tiga wilayah, yakni Jakarta Timur, Depok, dan Tangerang Selatan.
Sebanyak 93 informan dilibatkan, mulai dari pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), relawan, masyarakat, pemerintah daerah, kepala sekolah, guru, siswa, komite sekolah, orang tua, hingga Badan Gizi Nasional (BGN).
Dari sisi ketepatan sasaran, MBG dinilai sebagian sudah tepat karena menjangkau masyarakat miskin.
Namun, pendekatan yang digunakan masih bersifat universal (universalistic), bukan selektif (selectivist), sehingga tidak seluruh penerima manfaat berasal dari kelompok yang paling membutuhkan.
Baca Juga: Trump Klaim Iran di Ambang Kolaps usai Desak Selat Hormuz Dibuka
"Kondisi ini membuat sebagian kelompok miskin yang seharusnya menjadi prioritas justru belum terjangkau secara maksimal," ungkap Prof Fentiny Nugroho.
Kendati demikian, penelitian juga menemukan adanya persepsi positif dari program andalan Presiden Prabowo Subianto itu.
Diantaranya kontribusi pemenuhan kebutuhan dasar, peningkatan pendapatan, pengurangan pengeluaran, serta penciptaan lapangan kerja baik di SPPG maupun sektor UMKM.
Sementara dalam jangka panjang, program ini berpotensi meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan gizi.
Anak-anak penerima manfaat diharapkan tumbuh lebih sehat, cerdas, dan memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi.
"Program ini bahkan menjadi salah satu faktor pendorong anak lebih semangat ke sekolah. Ini penting untuk menciptakan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045," jelasnya.
Partisipasi masyarakat juga mulai meningkat dalam mendukung keberhasilan program.
"Meski demikian, sejumlah kendala masih dihadapi, di antaranya lemahnya koordinasi antar kementerian/lembaga serta keterbatasan kapasitas UMKM dalam memenuhi kebutuhan bahan baku SPPG," ujar dia.
Semua Bisa Ikut Polling
Ketua Forum Pemimpin Redaksi (Pemred) Metropolitan Grup, Azam Munawar mengungkap, media sosial kini tak lagi bisa dipandang sebelah mata karena sudah bertransformasi menjadi platform yang bukan saja berisi curhatan.
Baca Juga: Bus Rombongan Jemaah Haji Kecelakaan di Madinah, Berasal dari Kloter Surabaya dan Jakarta
Melainkan sudah menjadi platform bagi publik untuk menyampaikan aspirasi, pendapat, sampai kritik dan gagasan.
Bahkan pemerintah saat ini juga telah menggunakan media sosial bukan saja sebagai media sosialisasi program dan capaian kinerja.
Tapi juga media komunikasi langsung dengan masyarakat sekaligus menjaring aspirasi publik.
"Karena semua orang sekarang punya medsos, apa-apa di medsos. Menyampaikan aspirasi juga mudah, tidak ribet dan tidak ada birokrasi. Tapi bisa langsung sampai ke orang yang dituju pada saat itu juga," papar dia, Kamis, 30 April 2026.
Baca Juga: Mengenal May Day yang Diperingati Esok Hari Dari Tuntutan Delapan Jam hingga Hari Libur Nasional
Yang tidak kalah penting dan menjadi keuntungan lain medsos adalah kecepatan dan daya kuat untuk membangun opini publik.
Dimana sebuah narasi, opini atau persepsi publik bisa dibangun dengan sangat cepat, bahkan dalam hitungan jam sekalipun.
Karena itu, Azam mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalma polling yang digelar delapan media di bawah naungan Metropolitan Grup.
"Tinggal cek Story TikTok atau Story Instagram lalu suarakan pendapat atau aspirasi Anda," tandas Azam.***




