POJOKSATU.ID - Kondisi habitat gajah di Pulau Sumatera berada dalam ancaman serius.

Guru Besar Manajemen Lanskap IPB University, Syartinilia, mengungkapkan bahwa habitat gajah Sumatera diproyeksikan menyusut hingga 66 persen apabila tidak ada perubahan signifikan dalam pengelolaan lingkungan dan tata guna lahan.

Penurunan habitat tersebut tidak berdiri sendiri. Sumatera disebut sebagai wilayah dengan tingkat kehilangan biodiversitas tertinggi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Setelah Drama Panjang Akhirnya PBNU Tekan Tombol Reset, Muktamar Siap Digelar!

Laju deforestasi, alih fungsi lahan, serta tekanan aktivitas manusia menjadi faktor utama yang mempercepat degradasi ekosistem alami satwa liar, termasuk gajah Sumatera yang kini berstatus terancam punah.

Berdasarkan hasil analisis Biodiversity Intactness Index (BII), Sumatera mencatat penurunan biodiversitas paling signifikan selama periode 2017 hingga 2020.

Indeks ini mengukur seberapa jauh kondisi keanekaragaman hayati suatu wilayah dibandingkan dengan kondisi alaminya sebelum terjadi intervensi manusia secara masif.

Baca Juga: Gaji 13 PPPK 2026 Kapan Cair? Ini Prediksi Jadwalnya dan Faktor yang Mempengaruhi Jadwal Cair

Syartinilia menjelaskan, dalam skenario bisnis seperti biasa atau business as usual, kehilangan biodiversitas di Sumatera hingga tahun 2050 diperkirakan mencapai sekitar 15 persen.

Angka tersebut mencerminkan kondisi apabila eksploitasi sumber daya alam terus berlangsung tanpa kebijakan perlindungan lingkungan yang ketat dan berkelanjutan.

Namun, masih ada harapan. Menurutnya, jika skenario keberlanjutan diterapkan secara konsisten, tingkat kehilangan biodiversitas dapat ditekan hingga sekitar 11 persen.

Baca Juga: Geger Nasional! Profesor IPB Sebut Siswa Unggah Belatung di MBG 'Tak Bersyukur', Publik Meledak

Upaya tersebut mencakup perlindungan kawasan hutan, restorasi habitat, serta integrasi konservasi dalam perencanaan pembangunan wilayah.

“Perubahan pendekatan dalam pengelolaan lanskap sangat menentukan masa depan biodiversitas di Sumatera,” ujar Syartinilia, dikutip pojoksatu.id dari kompas.com (26/12/2025).

Habitat gajah Sumatera selama ini tersebar di hutan dataran rendah yang kini menjadi wilayah paling rentan terhadap konversi lahan.

Baca Juga: Membongkar Deretan Mega Korupsi Terbesar Indonesia, Dari Asuransi hingga e-KTP

Konflik antara manusia dan gajah pun semakin sering terjadi akibat menyempitnya ruang jelajah satwa tersebut.

Para ahli menilai, tanpa langkah strategis dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, serta masyarakat, gajah Sumatera berpotensi kehilangan habitat alaminya secara permanen.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satwa, tetapi juga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan lingkungan hidup di Sumatera secara keseluruhan.

Baca Juga: LOWONGAN KERJA Lion Group Posisi Management Trainee 2026! Ini Syarat dan Cara Daftarnya

Isu ini menjadi pengingat bahwa perlindungan biodiversitas bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga warisan alam Indonesia bagi generasi mendatang.***