POJOKSATU.id, BANDUNG—Gubernur Jawa Barat bertemu dengan salah satu anggota keluarga korban penyekapan dan penganiayaan berat Yuvita Tri Rezeki (29) yang dilakukan Taufik Hidayat.
Dedi yang akrab disapa KDM ini menyebut Pemprov Jabar akan menanggung semua biaya perobatan korban Yuvita Tri Rezeki di rumah sakit.
Dalam video Instagram @dedimulyadi71, Dedy mengaku sudah bertemu dengan kakak ipar korban Yuvita Tri Rezeki yaitu Melanie.
Baca Juga: Menteri PPPA Minta Polisi Segera Tangkap Pelaku Penyekapan Yuvita Tri Rezeki di Cileunyi Bandung
Dari keterangan Melanie, Yuvita hilang dari rumah sekitar dua tahun lalu dibawa laki-laki bernama Taufik Hidayat, dan korban kini ditemukan di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dalam kondisi mengenaskan.
“Dan pelakunya masih buron. Saya yakin Polda Jabar tidak akan lagi akan menangkapnya,” kata Dedi Mulyadi.
“Karena ini tindakan keji yang latar belakangnya kita belum tahu,” katanya.
Menurut Dedi, Yuvita adalah seorang perempuan yang punya karier, pekerjaan yang baik, punya kekayaan yang cukup karena punya motor, punya laptop, punya tabungan, punya penghasilan.
“Kemudian nasibnya berubah mengenaskan,” ujarnya.
Baca Juga: Alami Trauma Berat, Ini Pengakuan Yuvita Tri Rezeki Korban Penyekapan di Cileunyi kepada Dokter
Terkait BPJS yang tidak bisa digunakan, Dedi Mulyadi menyebutkan bahwa Pemprov Jabar akan menanggung semua biaya perobatan korban Yuvita di rumah sakit.
Dedi lalu berpesan kepada semua wanita di Indonesia agar berhati-hati pada bujuk rayu laki-laki.
“Untuk itu kepada semua wanita di indonesia, khususnya wanita di Jawa Barat, hati-hati terhadap bujuk rayu laki-laki,” katanya.
Akui Alami Penyiksaan
Sementara itu kepada dokter yang merawatnya di RSHS Bandung, Yuvita awalnya mengaku terjatuh di kamar mandi saat ditanya mengenai penyebab luka yang dialaminya.
Namun seiring waktu, korban mengungkap bahwa dirinya mengalami penyiksaan dari pelaku Taufik.
"Pas ditanya dokter lukanya kenapa, dia malah nangis dan bilang kalau dia jatuh dari kamar mandi. Lalu kelamaan dia bilang, kalau dia disiksa," ungkap Melanie, kakak ipar korban.
Melanie menduga adiknya sempat menutupi kejadian yang dialaminya karena mengalami trauma berat terhadap pelaku.
"Awalnya enggak (jujur). Ke sini-ke sini baru ngomong. Karena katanya kalau dia macam-macam ya, itu pasti dipukuli habis-habisan," tambah Melanie.
Korban takut menerima kekerasan yang lebih parah jika berani menceritakan apa yang sebenarnya terjadi selama ini.
Melanie menyatakan, penanganan terhadap korban akan dilanjutkan jika cairan nanah di bagian kepalanya sudah bersih.
"Baru dibersihkan luka-luka yang infeksi di bagian kepala dan wajah, soalnya di kepalanya masih ada cairan nanah," kata Melanie.
"Nunggu itu keluar dulu semua, baru operasi lanjutan untuk memperbaiki struktur wajah yang hancur," ungkapnya.
Dalam kejadian ini, Melanie minta polisi untuk segera menangkap pelaku dan memberikan hukuman setimpal kepada pelaku.
"Harapan saya, semoga pelaku cepat ketangkap dan diberikan hukuman yang seberat-beratnya. Kalau bisa hukum mati supaya tidak meresahkan," tegasnya.***




