POJOKSATU.id - Laporan terbaru Densus 88 mengungkap pola baru perekrutan anak oleh jaringan teroris.

Prosesnya dimulai lewat game online, kemudian berlanjut ke percakapan pribadi yang lebih intens.

Platform seperti game RPG, battle arena, dan survival menjadi ruang awal pendekatan.

Para pelaku memanfaatkan fitur “clan”, “guild”, atau “squad” dalam game untuk membangun kedekatan.

Ketika kedekatan terjalin, perekrut mengajak anak berpindah ke chat privat seperti WhatsApp, Telegram, atau Discord.

Pada tahap ini, ideologi ekstrem mulai disisipkan secara halus.

Pendekatan ini disebut grooming digital, yaitu strategi memancing emosional korban hingga percaya penuh pada perekrut.

Baca Juga: Densus 88 Tangkap Lima Perekrut Anak-anak yang Mau Bergabung di Kelompok Teroris, Modusnya Bikin Orang Tua Was-was

Penelitian keamanan siber menunjukkan bahwa pendekatan seperti ini mirip dengan metode predator seksual, hanya saja tujuannya adalah ideologisasi.

Densus 88 menegaskan bahwa pola ini sangat sulit dideteksi orang tua karena tidak ada indikasi awal yang mencurigakan.

Anak terlihat hanya “bermain game”, padahal sedang membangun hubungan intens dengan orang asing yang memiliki agenda ekstrem.

Dalam sejumlah kasus, perekrut menggunakan bahasa yang sangat ramah dan mengaku sedang mencari “anak baik yang mau berjihad”.

Narasi ini dikemas dalam sentuhan moralitas palsu sehingga anak merasa sedang melakukan sesuatu yang penting dan terhormat.

Baca Juga: Densus 88 Antiteror Ungkap Inspirasi Ideologi yang Diserap Pelaku Bom SMAN 72 Kelapa Gading

Tidak hanya itu, beberapa anak diminta bergabung dalam grup diskusi khusus yang berisi materi-materi manipulatif.

Mereka diminta membaca doktrin, menonton video propaganda, hingga mengikuti tantangan tertentu yang dianggap sebagai proses pembuktian diri.

Metode ini semakin efektif karena anak cenderung menghabiskan waktu lebih lama di ruang digital, terutama setelah jam sekolah.

Tanpa pengawasan, hubungan dengan perekrut berkembang sangat cepat dan cenderung tidak disadari keluarga.

Pakar psikologi digital mengingatkan bahwa interaksi melalui game membuat anak merasa nyaman sebab tidak terasa seperti proses perekrutan ideologis.

Baca Juga: Densus 88: Total Ada 7 Peledak di SMAN 72, Faknya Hanya 4 yang Meledak, Sisanya Gagal

Hubungan sosial yang terbentuk secara online acap kali lebih kuat bagi anak yang mengalami kesepian atau kurang dukungan emosional.

Fenomena ini menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi aktivitas digital anak.

Tidak cukup melarang game, tetapi mengawasi interaksi, mengajarkan literasi digital, dan memastikan anak tidak mencari pelarian emosional di ruang virtual yang berbahaya. ***