POJOKSATU.ID – Kasus kematian Nazwa Aliya (19) wanita asal Deli Serdang, Sumatera Utara tengah ramai disorot publik.
Seperti diketahui, Nazwa Aliya dikabarkan telah meninggal dunia usai jadi pekerja migran ilegal di Kamboja.
Berdasarkan informasi dihimpun, jasad wanita lulusan SMK tersebut diketahui masih tertahan di negara tempatnya bekerja.
Menyikapi hal ini, organisasi kemasyarakatan (ormas) Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya Medan turut membantu proses pemulangan jenazah tersebut.
Sebagaimana dikutip Pojoksatu.id dari portal media sumutpos.jawapos.com pada Kamis (21/8/2025).
Dalam artikelnya, pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua OKK Grib Jaya Medan, Dudi Efni Pasaribu.
Baca Juga: 75 Ribu Buruh Kepung Jakarta pada 28 Agustus, Tuntut Upah Naik 10% dan Hapus Outsourcing
“Kami sedang berupaya agar jenazah Nazwa bisa segera dipulangkan. Hamba Allah sudah menghubungi timnya di Kamboja,” jelasnya.
“Dan memang benar biaya yang diminta sebesar 8.500 USD. Kami mohon doa agar proses ini bisa berjalan lancar,” lanjutnya.
Bukan main, Dudi menuturkan bahwa pihaknya akan mengawal proses pemulangan jasad korban hingga sampai ke rumah duka.
“Kami akan membantu sampai jenazah anak kita ini tiba di tanah air,” jelasnya dalam laporan artikel.
“Ini bentuk kepedulian kami dan kemurahan Allah SWT melalui Hamba-Nya yang simpati dengan derita keluarga Bu Lanniari (ibu Nazwa),” lanjutnya.
Perlu diketahui, kasus ini juga turut ditanggapi langsung oleh Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Abdul Kadir Karding.
Yang mana, dirinya menuturkan bahwa terkait pemulangan jenazah korban akan ditanggulangi sepenuhnya oleh pihaknya.
“Begitu jenazah tiba di Tanah Air, sepenuhnya menjadi tanggung jawab KP2MI,” jelasnya yang dikutip dari portal antaranews.com.
“Untuk menerima, dan mengantar jenazah dan menyerahkan kepada keluarga di rumahnya,” lanjutnya.
Baca Juga: Ibu Nazwa Aliya soal Biaya Pemulangan Jenazah Anaknya Rp138 Juta dari Kamboja: Saya Tidak Punya Uang
Karding juga mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak tergiur dengan pekerjaan yang berada di Kamboja.
Sebab, belum lama ini negara tersebut dikenal dengan tempat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
“Kami tegaskan kerja di Kamboja ilegal. Kami tidak ingin masyarakat Indonesia tergoda dengan gaji tinggi di awal, tapi nyatanya ditipu,” tuturnya.
Baca Juga: Sosok Nazwa Aliya, Wanita asal Deli Serdang Tewas saat Jadi Pekerja Migran Ilegal di Kamboja
“Dieksploitasi, jadi korban kekerasan, lukanya saat menjadi pekerja migran Indonesia ilegal membekas, hingga dirasakan keluarga di Tanah Air,” tambahnya. ***
Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat dan mudah bisa download aplikasi Pojoksatu.id untuk Android dan iOS dengan link di bawah ini:
Versi Android/ Versi iOS
Untuk mendapatkan artikel melalui saluran Whatsapp Pojoksatu.id atau Fanpage Edugov Pojoksatu.id bisa klik link di bawah ini:
Channel Whatsapp/ Fanpage Edugov



