POJOKSATU.id - Kasus kopi Sianida Jessica Wongso yang merenggut nyawa Mirna Salihin kembali ramai diperbincangkan.

Padahal, kasus kopi Sianida Jessica Wongso ini terjadi pada awal 2016 silam.

Dalam kasus kopi sianida ini, Jessica Wongso sebagai tersangka pembunuhan Mirna Salihin juga sudah dijatuhi vonis.

Baca Juga: Blak-blakan, Yunita Lestari Akui Pernah Dibayar Puluhan untuk Settingan Jadi Pelakor usai Cerai dari Daus Mini

Ramainya kembali kasus ini setelah film dokumenter netflix Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso.

Film dokumenter tersebut resmi dirilis pada akhir September 2023 lalu.

Film Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso itu juga membuat publik berbalik.

Baca Juga: Eden Hazard Resmi Pensiun dari Sepak Bola, Tolak Tawaran Lanjutkan Karir ke MLS dan Liga Arab Saudi

Jika sebelumnya yakin Mirna Solihin dibunuh Jessica Wongso melalui kopi sianida, kini publik mempercayai sebaliknya.

Bahwa pelaku pembunuhan yang sebenarnya bukanlah Jessica yang saat ini mendekam di penjara.

Publik kini juga beranggapan bahwa Mirna Salihin meninggal dunia bukan karena kopi sianida.

Baca Juga: Pesan Menyentuh Wiljan Pluim: Berat Tinggalkan PSM Makassar

Hal itu pula yang dipercaya ahli forensik, dr. Djaja Surya Atmadja.

Melalui podcast dr Richard Lee, dosen Unversitas Indonesia yang mengotopsi jenazah Mirna ini mengungkap fakta.

Untuk diketahui, ayah Mirna, Edi Darmawan Salihin awalnya menolak keras jasad Mirna Salihin diotopsi.

Akan tetapi keluarga Mirna berubah pikiran 3 hari kemudian.

Baca Juga: Wiljan Pluim ke mana Usai Tinggalkan PSM? Ternyata Gabung Klub Papan Atas Ini

Mereka akhirnya mengizinkan jenazah Mirna diotopsi oleh dr. Djaja Surya Atmadja.

Tapi hal itu berubah lagi sesaat sebelum otopsi dilakukan.

Akhirnya diputuskan otopsi hanya boleh dilakukan dengan mengambil sampel berupa isi lambung, darah, hati dan urine.

Baca Juga: Klasemen Terbaru Liga 2 Semua Grup Selasa 10 Oktober, Paling Ketat Wilayah Sumatera

"Waktu itu dibuka perutnya doang, diambil isi lambungnya, ambil jaringan hatinya, ambil darah, ambil urine. Udah, ditutup lagi," ungkap dr. Djaja Surya Atmadja, dikutip.

Sampel pertama kemudian lagsung dikirim ke Purlabfor Polri.

"Yang pertama racun dikirim ke Puslabfor, hasilnya sianida negatif. Tidak ada," beber dia.

Baca Juga: Gibran Rakabuming Diusulkan Jadi Cawapres Prabowo, Partai Nasdem Gerah, Singgung Legalkan Dinasti Politik

Dia mengakui memang ditemukan adanya kandungan sianida pada lambung Mirna Salihin.

Akan tetapi kandungan sianida yang ditemukan sangat kecil yakni 0.2 mg.

Baca Juga: Usai Bungkam Soal Kasus Pemerasan SYL dan Firli Bahuri, Kombes Irwan Anwar Akhirnya Buka Suara, Katanya Gini

Sianida tersebut, kata dr Djaja, muncul dari akibat pembusukan jasad Mirna Salihin.

"0.2 mg itu kecil banget, logikanya kalau dia ada sianida besar, kemudian jadi kecil itu mungkin masuk di akal, tapi kalau tidak ada kemudian jadi ada, itu kan tanda tanya, dari mana?" jelasnya.

"Bisa juga karena pembusukan, pembusukan bisa menghasilkan sianida walaupun kecil,” sambung dr. Djadja.

Baca Juga: Masih Berstatus Sebagai Saksi, Syahrul Yasin Limpo Rencananya Bakal Diperiksa KPK Besok

Ia juga menegaskan bahwa racun sianida bisa menyebabkan kematian jika masuk ke darah, bukan masuk ke lambung.

Bukti lain Mirna Salihin meninggal bukan karena sianida adalah tidak ditemukan tiosianat di dalam hati, darah, dan urine.

Tiostat tersebut, jelasnya, jadi salah satu tanda bahwa racun sianida masuk ke dalam tubuh.

Baca Juga: Sosok Panglima Militer Hamas 30 Tahun Dicari Israel, Terpaksa Menyamar Saat Ibunya Meninggal

"Dan pas diperiksa di air liur juga harusnya ada (tiostat). Tapi itu tidak ada,” bebernya.

Bukti lain yang menepis Mirna meninggal bukan karena sianida adalah jasadnya yang membiru biru.

Sebab jika karena sianida, jasadnya harusnya berwarna merah terang.

Baca Juga: Lagu '3D' Debut di Top 5 Billboard Hot 100, Jungkook BTS Samai Rekor Olivia Rodrigo

"Saya lihat mukanya, salah satu tanda utama orang keracunan sianida adalah bikin mukanya merah terang, lebam mayatnya merah terang," papar dia.

"Ini lebam mayatnya biru, mukanya biru, semuanya biru. Jadi nggak cocok (dengan indikasi terkenca racun sianida)," terangnya.

Baca Juga: Kasus Janda Tewas Usai Tolak Nikah, Ternyata Sempat 'Mblaem-mblaem' Sebelum Dicekik Pelaku

Hal lain yang mendasasi pendapatnya adalah jumlah kandungan sianida yang ditemukan dalam organ tubuh korban.

Sebab sianida akan mematikan jika dikonsumsi antara 150 mg hingga 250 mg.

"Soal kadar, yang lethal dose itu dosisnya kalau dimakan tuh 50 persen orang pasti mati. Itu antara 150 sampai 250 mg," jelas dia.

Baca Juga: Profil Dini Sera Afrianti, Wanita yang Alami Kematian Tragis Usai Dianiaya Kekasihnya

Atas bukti-bukti forensik hasil otopsi itulah, dr Djaja menegaskan bahwa Mirna Salihin bukan meninggal karena sianida.

Atau kebalikan dari semua asumsi, tudingan dan keyakinan publik selama ini.

Kendati demikian, dr Djaja tidak bisa memastikan penyebab kematian Mirna Salihin.

Baca Juga: Yura Yunita Panik Gegara Satu Bagian Panggung Konsernya Ambrol, Nyaris Mencelakai Band Pengiringnya

Pasalnya, saat itu jasad Mirna Salihin sahabat Jessica Wongso itu memang tidak diotopsi.***