POJOKSATU.ID – Kasus SMAN 1 Sungai Tabuk, Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel) belakangan ini kian memanas.
Seperti diketahui sebelumnya, SMAN 1 Sungai Tabuk sempat viral di media sosial usai gelar acara perpisahan.
Yang mana, acara perpisahan tersebut digelar pihak sekolah di sebuah klub malam bernama Hexagon.
Baca Juga: Pemerataan Gizi MBG Jadi Faktor Pendukung Tingkatkan IQ Masyarakat
Menyikapi hal tersebut, pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel turut mengambil langkah tergas.
Sebagaimana yang dilansir Pojoksatu.id dari portal media Antaranews.com pada Sabtu (17/5/2025).
Dalam artikelnya, langkah tegas itu disampaikan langsung oleh Plt Kepala Disdikbud Kalsel M Syarifuddin.
Baca Juga: Tak Bisa Akses Hasil Tes Online 1 Rekrutmen BUMN 2025? Ini yang Harus Anda Lakukan!
Yang mana, Syarifuddin tidak hanya memberlakukan hukuman kepada pihak SMAN 1 Sungai Tabuk saja.
Melainkan, dirinya juga akan memberikan sanksi tegas kepada pihak sekolah yang telah atau akan melanggar aturan.
“Sudah ada kejadian, saya mengimbau sekolah lain tidak melakukan hal yang sama,” jelasnya Syarifuddin.
“Kami tidak segan-segan memberikan sanksi tegas, acara perpisahan sekolah yang sederhana sajalah,” lanjutnya.
Diketahui sebelumnya, Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN 1 Sungai Tabuk Elly Agustina telah mendapatkan teguran dari pihak Disdikbud Kalsel.
Yang mana, teguran itu dikonfirmasi langsung oleh Kepsek SMAN 1 Sungai Tabuk saat diwawancarai oleh awak media.
Baca Juga: Cara Cek Hasil Tes Online 1 Rekrutmen BUMN 2025: Cek Akun RBB Sekarang!
Elly menyebutkan bahwa dirinya ditegur langsung oleh Kepala SDA Disdikbud Kalsel pada Rabu (14/5/2025) kemarin.
“Saya dipanggil Kepala Bidang SMA Disdikbud Kalsel, saya mendapat teguran lisan berupa peringatan keras,” jelas Elly.
“Agar kejadian ini tidak terulang kembali, dan jika terulang maka mendapatkan sanksi yang lebih berat,” lanjutnya.
Elly juga menambahkan bahwa viralnya acara perpisahan sekolah yang digelar di klub malam lantaran adanya suatu kesalahan.
Yang mana, kesalahan itu timbul lantaran kurangnya koordinasi internal pihak sekolah dalam melangsungkan acara tersebut.
“Selama acara di Hexagon guru mendampingi meskipun siswa sudah membentuk panitia secara mandiri,” jelasnya.
“Kesalahannya adalah kami kurang koordinasi dalam kegiatan ini, sehingga menyebabkan banyak asumsi di publik,” tandasnya. ***



