POJOKSATU.id - Dugaan pemerasan yang melibatkan aparat kepolisian terhadap penonton Djakarta Warehouse Project (DWP) 2024 masih terus diproses hukum.

Tak main-main, sebanyak 34 polisi kini diperiksa atas dugaan pemerasan terhadap 45 penonton, yang di antaranya berasal dari Malaysia.

Dalam operasi yang dilakukan Propam Polri, uang sebesar Rp 2,5 miliar diamankan. Dana tersebut diduga merupakan hasil pemerasan yang dilakukan kepada para penonton.

Berdasarkan pengakuan salah satu korban, kejadian tersebut berlangsung saat ia tengah menikmati acara.

Polisi datang bergerombol mencari penonton yang diduga mabuk, bahkan korban mengaku dirinya memang dalam kondisi mabuk saat itu.

Baca Juga: Sidang Etik 18 Anggota Polisi Terlibat Pemerasan di DWP 2024 Diagendakan Pekan Depan, Mencoreng Nama Baik Indonesia, Anggota DPR Minta Mereka Dipecat

Selain itu, beberapa korban lainnya mengungkapkan bahwa aksi pemerasan terjadi di lokasi berbeda, seperti di pintu hotel hingga di depan kamar.

Ketakutan atas ancaman masuk penjara membuat para korban diduga terpaksa menyerahkan sejumlah uang kepada oknum polisi.

Tindak Cepat Polri

Merespons kasus tersebut, Polri bergerak cepat. Sebanyak 34 polisi yang diduga terlibat langsung dimutasi guna memudahkan proses pemeriksaan.

Ironisnya, tiga di antaranya adalah perwira berpangkat Kasubdit di Ditresnarkoba Polda Metro Jaya.

Baca Juga: Buntut Pemerasan 18 WNA oleh Polisi Saat DWP, Bamsoet : Titik Awal Polri untuk Melakukan Pembenahan dan Perbaikan

Salah satu nama yang mencuat adalah AKBP Malvino Edward Yusticia Sitohang, sosok polisi berprestasi sekaligus jebolan FBI Academy.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ady Ary Syam Indradi, membenarkan bahwa AKBP Malvino kini tengah menjalani pemeriksaan. "Ya benar (diperiksa)," ungkap Ady saat dikonfirmasi terkait mutasi tersebut pada Kamis (26/12/2024).

Malvino beserta 33 polisi lainnya dipindahkan ke Pamen Yanma Polda Metro Jaya untuk mendukung proses investigasi.

Baca Juga: Aksi Mahasiswa Tolak Kenaikan PPN 12 Persen Berujung Ricuh, Massa Bentrok Diwarnai Kekerasan, Polisi dan Mahasiswa Terluka

Profil AKBP Malvino Edward Yusticia Sitohang

Malvino, yang lahir di Medan pada 9 Agustus 1985, berasal dari keluarga berlatar hukum. Ayahnya adalah seorang hakim di Pengadilan Tinggi Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Ia menamatkan pendidikan di Akademi Kepolisian pada 2006 sebagai bagian dari Detasemen 38. Karier akademisnya terus cemerlang, menyelesaikan pendidikan Sarjana Ilmu Kepolisian di STIK-PTIK (2013), Sarjana Hukum di Universitas Negeri Jenderal Soedirman (2010), hingga meraih gelar Magister Hukum dan Magister Manajemen pada 2012.

Di bidang internasional, Malvino menyelesaikan Master of Strategic Studies di Victoria University of Wellington, Selandia Baru, pada 2016.

Baca Juga: Ungkap Kronologi Tewasnya Tahanan yang Diduga Dianiaya, Kapolrestabes Medan: 6 Personel Polisi Diperiksa Propam

Ia juga mengikuti berbagai pelatihan, termasuk Program Investigasi Keuangan di JCLEC (2007), Investigasi Anti-Korupsi (2008), hingga pelatihan di Western Australia Police Academy dan International Law Enforcement Academy, Bangkok.

Sebagai alumni FBI Academy, Malvino pernah mewakili Polri dalam konferensi Federal Bureau of Investigation National Academy Associates (FBINAA) 24th Asia Pacific Chapter di Vietnam.

Selain itu, ia mendapat penghargaan kenaikan pangkat luar biasa (KPLB) setelah berhasil mengungkap sejumlah kasus besar, seperti penyelundupan sabu seberat 1 ton pada 2017, 800 kilogram di Banten, dan 1,2 ton di Aceh pada 2021.***