POJOKSATU.id - Nama Indonesia kembali ramai dibicarakan. Bukan karena isu ekonomi global atau utang negara.

Melainkan karena satu video singkat yang memicu perdebatan panjang di media sosial.

Video tersebut menampilkan seorang alumni LPDP yang memperlihatkan paspor Inggris milik anaknya.

Baca Juga: Pelatihan Bahasa Jepang Gratis Batch 2: Peluang Emas Berkarir di Negeri Sakura!

Dalam pernyataannya, ia menyebut cukup dirinya saja yang menjadi Warga Negara Indonesia, sementara anak-anaknya tidak perlu.

Alasannya sederhana hanya demi masa depan sang anak.

Pernyataan itu langsung viral dan memantik reaksi beragam. Ada yang menilai itu sepenuhnya hak pribadi sebagai orang tua.

Baca Juga: VIRAL Video Diduga WNI Bangunkan Sahur di Jepang, Netizen Indonesia Ramai-Ramai Minta Maaf

Namun tak sedikit pula yang menganggap persoalan ini lebih dari sekadar pilihan keluarga.

Bagi sebagian publik, ada dimensi moral karena pendidikan sang alumni dibiayai negara melalui dana LPDP.

Di tengah polemik yang semakin melebar, Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, akhirnya angkat bicara.

Baca Juga: Tuntutan Mati ABK Sea Dragon Disorot, Komisi III Tegaskan KUHP Baru Ubah Pidana Mati Jadi Opsi Terakhir

Dalam pernyataannya di Jakarta Pusat 23 Febuari 2026, ia menyinggung fenomena warga yang mudah menilai Indonesia secara pesimistis.

Nada bicaranya tidak emosional, namun pesannya jelas. Purbaya mengingatkan bahwa 20 tahun ke depan kondisi ekonomi Indonesia bisa sangat berbeda.

Ia optimistis dalam dua dekade mendatang Indonesia akan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat baik.

Pernyataan itu segera menyebar luas di berbagai platform. Sebagian menganggapnya sebagai sindiran halus, sebagian lain melihatnya sebagai teguran terbuka.

Lebih jauh, Purbaya juga menyinggung tanggung jawab moral penerima beasiswa LPDP.

Baca Juga: Tuntutan Mati ABK Sea Dragon Disorot, Komisi III Tegaskan KUHP Baru Ubah Pidana Mati Jadi Opsi Terakhir

Dana tersebut berasal dari pajak masyarakat dan bahkan pembiayaan negara.

Tujuannya jelas membangun sumber daya manusia yang kembali berkontribusi untuk Indonesia.

Ia menegaskan tidak semua orang harus menjadi sosok paling patriotik. Namun setidaknya, jangan sampai menghina negara sendiri.

Baca Juga: VIRAL Video Diduga WNI Bangunkan Sahur di Jepang, Netizen Indonesia Ramai-Ramai Minta Maaf

Perdebatan pun terus bergulir,ada yang membela sang alumni dengan alasan kewarganegaraan anak adalah hak orang tua.

Namun ada pula yang mempertanyakan, jika sejak awal merasa Indonesia tidak menjanjikan, mengapa menerima beasiswa dari negara.

Kasus ini kembali membuka diskusi lama tentang nasionalisme, tanggung jawab moral, dan masa depan Indonesia di mata generasi terdidik.***