CILEGON, POJOKSATU.id - KMP Batumandi mengangkut 420 orang penumpang dan 89 unit kendaraan. Banyak anak-anak di kapal Feri yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera ini.
Anak-anak kecil bahkan sempat menangis karena situasi di dalam kapal semakin mencekam.
Gina (43) salah satu penumpang menceritakan detik-detik mencekam sebelum KMP ini terbakardi tengah laut di Selat Sunda sesaat mau sandar ke Pelabuhan Merak, Banten.
Kapal yang ditumpanginya terbakar saat hendak sandar di Dermaga VI Pelabuhan Merak, Banten, Selasa sore (20/10/2026).
Gina menceritakan, kepanikan bermula ketika alarm terdengar dari dalam ruang penumpang menjelang kapal bersandar.
Saat itu, ia sempat bertanya kepada petugas atau anak buah kapal (ABK) yang melintas mengenai kondisi kapal.
"Awalnya ada petugas yang lewat, katanya kepencet, tapi enggak lama kemudian keponakan saya lari dari luar dan bilang ada kebakaran," ungkap Gina.
Tak lama kemudian, kepulan asap hitam tebal terlihat membubung dari bagian belakang kapal.
Suasana di dalam kapal yang semula tenang berubah riuh. Penumpang berlarian mencari jalan keluar dan berebut mengambil jaket pelampung.
Asap yang semakin pekat membuat sejumlah penumpang ketakutan. Anak-anak kecil bahkan sempat menangis karena situasi di dalam kapal semakin mencekam.
Gina mengatakan, kepulan asap sempat mereda setelah sekitar 10 menit. Namun, kondisi kembali menegangkan ketika terdengar ledakan kecil dan asap kembali membubung.
"Awalnya sekitar 10 menit, hampir reda tuh si asapnya. Enggak lama dari itu ada ledakan lagi, udah ngebul lagi. Ledakan ketutup akses halan, (asal ledakan) enggak tahu mungkin dari kendaraan kali," ujar dia.
Di tengah situasi tersebut, penumpang yang berada di dalam kapal diarahkan menuju anjungan atau area tempat kapten berada. Mereka diminta menjauhi sumber asap yang berasal dari bagian belakang kapal.
Sejumlah kendaraan, termasuk mobil pribadi milik penumpang, terpaksa ditinggalkan di dek kendaraan karena api dan asap menghalangi akses untuk menjangkaunya.
Setelah berhasil mencapai anjungan dan dek atas, para penumpang kemudian dievakuasi keluar kapal melalui seluncuran.
Gina mengatakan, proses evakuasi berlangsung dramatis. Para penumpang dipindahkan menggunakan perahu-perahu kecil dan kapal nelayan yang berdatangan ke sekitar lokasi kejadian.
Proses tersebut berlangsung sekitar 15 hingga 30 menit di tengah cuaca panas dan kepulan asap yang menyengat.
Setibanya di daratan, Gina mengaku bersyukur dirinya dan penumpang lainnya bisa selamat.
Meski kendaraan dan barang bawaan masih tertinggal di dalam kapal, ia memilih mengutamakan keselamatan.
"Alhamdulillah, saat ini yang penting badan selamat, nanti pelan-pelan diurus yang lainnya (kendaraan). Mudah-mudahan ada titik lanjutnya dari semua," jelasnya.***





