POJOKSATU.id — Demonstrasi yang mengusung isu "Indonesia Gelap digagas mahasiswa dari berbagai universitas ternama di Indonesia dan berlangsung serentak hari ini Senin, (17/2/2025).
Aksi ini juga digelar di pusat pemerintahan masing-masing kota dan membawa berbagai tuntutan yang dianggap penting bagi kondisi sosial dan ekonomi saat ini.
Sebagai informasi, tagar "Indonesia Gelap" dan "Peringatan Darurat" pertama kali mencuat pada 3 Februari 2025.
Sejak saat itu, tagar ini langsung menjadi trending di berbagai platform media sosial seperti Instagram dan X (Twitter), bahkan menduduki posisi teratas di platform X (Twitter) Indonesia.
Gerakan ini menyoroti berbagai isu krusial yang tengah dihadapi masyarakat, termasuk reformasi kepolisian, permasalahan subsidi energi, serta kesejahteraan tenaga pendidik.
Selain itu, demonstrasi ini juga berangkat dari permasalahan ekonomi yang kian meresahkan, seperti kelangkaan gas LPG 3 kg yang berdampak besar bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
Baca Juga: Konvoi Demo Muncul di Kediaman Jokowi di Solo, Adili Mulyono Keluarga Bersama Kroninya
Selain kelangkaan LPG, pemotongan anggaran pendidikan dan kesehatan turut menjadi sorotan.
Kebijakan tersebut dinilai bertentangan dengan upaya pemulihan dan kesejahteraan masyarakat.
Kondisi inilah yang kemudian memicu kembalinya tagar "Peringatan Darurat" sebagai bentuk protes atas kebijakan pemerintah yang dianggap kurang berpihak pada rakyat.
Dalam aksi kali ini, mahasiswa juga mengusung tuntutan yang terangkum dalam singkatan "PENTOL".
Sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi telah mengeluarkan seruan kepada seluruh mahasiswa untuk turun ke jalan dalam aksi bela rakyat ini.
“Bersama surat ini kami ingin menyerukan rapatkan barisan dan menyampaikan kepada Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) mengenai situasi bangsa kita hari ini makin gelap kebijakannya yang hari demi hari makin mencengkamkan dan menyengsarakan rakyat,” demikian isi dokumen yang dikutip pada Senin (17/2/2025).
Dokumen tersebut ditandatangani oleh Koordinator Pusat Aliansi BEM SI, Herianto, yang menegaskan bahwa Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila harus diimplementasikan secara nyata bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro menyatakan bahwa sebanyak 1.623 personel gabungan diterjunkan untuk mengamankan aksi di kawasan Monas, Jakarta Pusat.
"Dalam rangka pengamanan aksi penyampaian pendapat dari sejumlah aliansi, kami melibatkan 1.623 personel gabungan," ujarnya Senin (17/2/2025).
Personel gabungan yang terdiri dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, TNI, Pemerintah Provinsi Jakarta, dan instansi terkait akan disebar di beberapa titik strategis.
Petugas akan berada mulai dari Bundaran Patung Kuda hingga Istana Negara. Susatyo juga menambahkan bahwa pengalihan arus lalu lintas akan dilakukan secara situasional sesuai perkembangan di lapangan.
Sementara itu, Koordinator Aksi UI, Muhammad Rafid Naufal Abrar, menyampaikan bahwa BEM UI juga turut serta dalam aksi ini. "Untuk aksi besok, sasaran utama kami adalah Istana Negara. Kami akan berangkat dari Depok sekitar jam 11.00 siang," ujarnya.
Menurut Rafid, demonstrasi ini bertujuan untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah terkait berbagai kebijakan yang dinilai memperburuk situasi negara. Koordinator BEM SI, Herianto, menjelaskan bahwa dalam aksi yang berlangsung selama tiga hari ini, mahasiswa membawa tujuh tuntutan utama kepada pemerintah.
"Satu, menuntut presiden mencabut Inpres No. 1 Tahun 2025 yang merugikan rakyat. Dua, transparansi status pembangunan. Tiga, transparansi keseluruhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Empat, tolak revisi UU Minerba. Lima, tolak dwifungsi TNI. Enam, tangkap dan adili Jokowi. Tujuh, sahkan RUU Perampasan Aset," ungkapnya.
Diperkirakan, aksi hari pertama ini akan diikuti oleh sekitar 5.000 mahasiswa dari berbagai universitas.
"Di daerah, titik aksi berada di depan DPRD masing-masing," tambahnya.
Aksi ini akan mencapai puncaknya pada Rabu, dengan kemungkinan digelar di depan Kompleks Parlemen, Jakarta.
Herianto optimistis bahwa jumlah massa aksi akan terus bertambah hingga hari puncak. ***




