POJOKSATU.ID - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali mencuri perhatian publik setelah menyatakan siap memulai produksi skala kecil bahan bakar nabati Bobibos menggunakan uang pribadinya.
Langkah ini menjadi sorotan karena ia secara tegas menolak memakai APBD baru dan memilih bergerak lebih cepat tanpa menunggu proses birokrasi yang panjang.
Dalam beberapa kesempatan, Dedi menegaskan bahwa ia telah menandatangani nota kesepahaman dengan penemu Bobibos.
Baca Juga: Jawara Modifikator Unjuk Karya Keren di Pesta Akbar Honda Modif Contest 2025
Produksi awal direncanakan berlangsung di Lembur Pakuan, Subang, sebagai tahap uji coba terbatas.
Menurutnya, pengembangan Bobibos tidak boleh terhambat oleh prosedur anggaran pemerintah karena peluang ekonomi dan dampak ekologisnya sangat besar bagi Jawa Barat.
Bobibos sendiri merupakan bahan bakar nabati berbahan dasar jerami yang disebut memiliki kualitas setara bensin beroktan tinggi.
Baca Juga: Wamen Diktisaintek Beri Apresiasi untuk Dosen Unsrit yang Menginspirasi
Dedi melihat potensi besar dari inovasi ini, terutama dalam menciptakan sumber ekonomi baru bagi petani yang selama ini hanya mengandalkan penjualan gabah.
Dengan pemanfaatan limbah jerami, nilai tambah sektor pertanian dapat meningkat signifikan.
Dedi menyebut bahwa keputusan memakai uang pribadi adalah bentuk komitmen untuk mendorong inovasi tanpa membebani negara.
Bahkan, ia menyatakan siap mengajukan pinjaman ke Bank BJB sebagai modal awal bila diperlukan.
Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu Resmi Diatur, Minimal Setara Honorer Lama atau UMR Daerah, Ini Penjelasannya
Bagi Dedi, percepatan produksi adalah prioritas, dan ia menilai langkah ini akan lebih efektif jika tidak bergantung pada mekanisme APBD yang membutuhkan pembahasan panjang.
Meski begitu, rencana ini bukan tanpa tantangan. Dari sisi regulasi, Bobibos masih harus melalui proses sertifikasi dan pengujian kelayakan resmi sebelum dapat diedarkan secara luas.
Dedi menyadari hal tersebut, namun menegaskan bahwa tahap produksi awal adalah bagian dari pembuktian teknologi di lapangan.
Baca Juga: AI Canggih Buatan Mahasiswa UBSI Ini Mampu Deteksi Kesegaran Pare dengan Akurasi Hampir 95 Persen
Ia berharap uji coba ini menjadi pintu masuk menuju produksi massal dan penggunaan lebih luas di lingkungan pemerintahan Jawa Barat.
Selain itu, keputusan memakai dana pribadi menimbulkan beragam reaksi.
Banyak yang mengapresiasi keberanian Dedi mengambil risiko untuk mendorong inovasi energi hijau.
Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan kemungkinan konflik kepentingan dan transparansi ke depan jika proyek ini berkembang besar.
Dedi menanggapi kritik tersebut dengan mengatakan bahwa seluruh proses akan dilakukan terbuka, termasuk potensi kerja sama dengan lembaga lain.
Jika proyek skala kecil ini berhasil, Dedi memiliki visi agar mobil operasional pemerintah daerah secara bertahap bisa menggunakan bahan bakar nabati.
Menurutnya, penggunaan Bobibos dapat membantu menghemat APBD, mengurangi subsidi bahan bakar fosil, sekaligus memperkuat ekonomi berbasis pertanian.
Terlepas dari pro dan kontra, langkah Dedi Mulyadi memulai produksi Bobibos dengan modal pribadi telah membuka babak baru dalam percakapan tentang energi alternatif di Indonesia.
Dengan memanfaatkan potensi lokal dan memberdayakan petani, proyek ini dianggap sebagai terobosan yang patut ditunggu hasilnya.***




