POJOKSATU.ID - Kepanikan kembali melanda pesisir Jakarta Utara setelah sejumlah tanggul penahan air laut.

Dilaporkan bocor dan hanya ditambal sementara menggunakan karung berisi pasir.

Pemandangan tanggul yang robek dan ditutup seadanya ini memicu kekhawatiran warga, terlebih ketika cuaca ekstrem dan potensi rob terus meningkat.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengakui bahwa beberapa titik kritis di Jakarta Utara saat ini berada dalam kondisi rawan.

Baca Juga: Terbongkar! Gaji PPPK Badan Gizi Nasional Hanya Ikuti Standar PPPK Biasa, Padahal Formasinya 32 Ribu!

Lokasi-lokasi tersebut meliputi Muara Angke, Muara Baru, Sunda Kelapa, Green Bay Pluit, RE Martadinata, Ancol, hingga Cilincing-Marunda.

“Itulah yang kemarin mendapatkan perhatian khusus,” ujar Pramono, dikutip dari Detik, 8 Desember 2025.

Namun ironi tak terhindarkan lokasi-lokasi “prioritas” itu justru kini mengalami kebocoran.

Pramono berdalih bahwa karung pasir hanyalah penanganan awal.

Baca Juga: Terkuak! PPPK Paruh Waktu Tak Bisa Gantikan Semua Honorer 2026, Lalu Gimana Nasib Ribuan Non-ASN?

Namun kehadiran tumpukan karung sebagai penutup tanggul permanen bertahun-tahun.

Menimbulkan pertanyaan besar mengenai kesiapan infrastruktur Ibu Kota dalam menghadapi ancaman banjir rob.

Kepala Dinas SDA DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, mengakui bahwa metode darurat ini dilakukan karena kebocoran terjadi secara mendadak.

Solusi permanennya, klaim Ika, tengah dikerjakan melalui metode pengecoran dan shotcrete.

“Digali tiga meter, kemudian dicor dan diisi beton,” katanya.

Namun hingga kini, pekerjaan tersebut baru berjalan sebagian sekitar 400 meter di hilir Nizam Zachman.

Warga menilai pekerjaan ini terlalu lambat, mengingat Jakarta Utara selama bertahun-tahun disebut “titik rawan tenggelam”.

Bocornya Tanggul Muara Baru ternyata bukan kejutan bagi ahli maupun pejabat.

Baca Juga: Viral! Janji Manis Harga Murah, Akhirnya Zonk Modus Ayu Puspita Tipu Pengantin hingga Rp 15 Miliar Terbongkar

Kasudin SDA Jakut, Herisuandi, terang-terangan menyebut penyebab utamanya, korosi beton akibat kadar klorin air laut.

Selain itu, tekanan tinggi air laut akibat kenaikan permukaan laut dan fenomena land subsidence (penurunan tanah) memperparah kondisi struktural tanggul.

“Ini kombinasi antara penurunan tanah, kenaikan permukaan laut, dan korosi beton,” jelasnya.

Anehnya, persoalan kombinasi mematikan ini sudah berkali-kali disampaikan pakar lingkungan, namun perbaikan tanggul tetap dilakukan tambal sulam.

Baca Juga: Intensitas Hujan Tinggi, Turap Kali Rawalumbu Abrasi

Tidak heran, masyarakat menganggap penanganan kali ini pun hanya solusi sementara yang berulang.

Jakarta Utara adalah wilayah dengan tingkat penurunan tanah tercepat di dunia.

Di beberapa titik, tanah turun hingga 12–20 cm per tahun. Ketika tanggul mulai rapuh dan ditembus air, ancaman rob pun bukan lagi isu antisipasi.

Melainkan ancaman nyata yang sudah mengintai di depan mata.

Warga sekitar mengaku semakin khawatir melihat tanggul retak ditahan karung pasir, sementara musim hujan belum mencapai puncaknya.

Solusi sementara, birokrasi lambat, serta infrastruktur yang menua dinilai tidak sebanding dengan risiko yang semakin besar.

Penanganan yang hanya bersifat reaktif diyakini tidak akan mampu menyelamatkan Jakarta Utara jika gelombang tinggi atau rob besar kembali menerjang.***