POJOKSATU.id - Keputusan mundurnya Iman Brotoseno dari jabatan Direktur Utama LPP TVRI menjadi perhatian publik.

Langkah yang ia sampaikan dalam rapat internal TVRI itu bukan hanya menutup masa kepemimpinannya selama enam tahun terakhir.

Tetapi juga membuka kembali kisah panjang perjalanan kariernya yang berawal jauh dari dunia penyiaran.

Baca Juga: Dari Rasa Ragu ke Rasa Yakin, Perjalanan Magang Saya di Pojok Satu Indonesia Bersama MagangHub

Lahir sebagai sosok yang lama berkutat di industri kreatif, Iman memulai langkah profesionalnya di dunia film dan periklanan sejak akhir 1990-an.

Ia menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, namun minatnya pada visual membawa ia melanjutkan studi di National Film & Television School di Inggris.

Di sinilah arah kariernya berubah, dari hukum menuju dunia produksi.

Baca Juga: Puasa Cuma 1 Jam di Kota Ini, Kisah WNI Ini Bikin Netizen Langsung Pengen Kesana!

Selama puluhan tahun, Iman menangani berbagai iklan televisi, dokumenter, hingga video musik.

Namanya makin dikenal setelah menyutradarai film 3 Srikandi (2016), sebuah kisah olahraga yang mengangkat perjalanan atlet panahan Indonesia.

Film itu menempatkannya sebagai salah satu sutradara yang piawai mengolah cerita sejarah menjadi tontonan populer.

Baca Juga: Dari Rasa Ragu ke Rasa Yakin, Perjalanan Magang Saya di Pojok Satu Indonesia Bersama MagangHub

Di luar film, ia aktif di berbagai komunitas digital dan kreatif.

Ia pernah menjadi Ketua Pesta Blogger Indonesia, Presiden ASEAN Blogger Community, hingga terlibat sebagai instruktur selam PADI karena kegemarannya pada fotografi bawah laut.

Pada 2020, Iman ditunjuk Dewan Pengawas TVRI untuk memimpin lembaga penyiaran publik tersebut.

Masa jabatannya berjalan di tengah tantangan transformasi digital media.

Namun perjalanan itu berhenti pada Februari 2026 setelah ia memilih mundur demi fokus pada kesehatan.

Baca Juga: Dari Rasa Ragu ke Rasa Yakin, Perjalanan Magang Saya di Pojok Satu Indonesia Bersama MagangHub

Pengunduran diri ini menutup satu bab penting sekaligus mengingatkan publik pada sosok yang menggabungkan kreativitas, pengalaman komunitas, dan kepemimpinan dalam satu figur.***