POJOKSATU.id - Kebijakan tarif impor yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan membawa dampak besar pada perekonomian dunia.
Ternyata, kebijakan tarif timbal balik atau resiprokal itu sudah disiapkan Trump sejak periode pertama ia menjabat sebagai Presiden AS.
Demikian ulasan pengamat sosial dan ekonomi Lalu Niqman Zahir sebagaimana dikutip dari kanal Youtube pribadi miliknya, yang ditayangkan pada Selasa 15 April 2025.
"Jurus dewa mabuk Presiden Donald Trump dalam kebijakan proteksionisme perdagangan akan berdampak kepada pertumbuhan ekonomi dunia," tuturnya.
Baca Juga: Perang Dagang AS VS Cina, Bagaimana Langkah Pemerintah RI Hadapi Penerapan Tarif Trump?
Bahkan untuk beberapa negara mungkin akan mengalami resesi dan tidak tertutup kemungkinan akan membuat krisis multidimensi pada beberapa negara.
"Apabila tidak diantisipasi dengan baik, maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi kepada Indonesia, seperti peristiwa tahun 1998," sambungnya.
Lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings, jauh sebelum 3 April 2025, tepatnya pada 18 Maret 2025, telah memperkirakan kebijakan proteksionisme perdagangan oleh Trump dan dampaknya terhadap pertumbuhan perekonomian dunia.
Menurutnya, kebijakan super proteksionisme Trump ini sudah dapat ditebak oleh banyak pihak.
Baca Juga: Jurus Berkelit dari Tarif Trump
"Karena hal ini telah diumumkan pada saat kampanyenya dan juga telah dilaksanakan pada periode pemerintahannya yang lalu," beber dia.
Bukti lain juga terdapat pada buku 'US Innovation Equality and Trumpism' pada tahun 2025, karya Victor Menaldo dan Nicholas Wstock.
Lalu mengulas, buku tersebut mengulas tentang kebijakan Trump pada periode pemerintahan yang lalu.
Diantaranya terkait proteksionisme perdagangan, pembatasan arus modal dan teknologi internasional dan subsidi untuk penyedia bahan baku Amerika dan produsen dalam negeri.
Walaupun kebijakan tersebut ditolak oleh negara-negara bagian yang lebih inovatif.
Fitch Ratings memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat menjadi 2,3 persen tahun 2025 jauh di bawah tren dan turun dari 2,9 persen di tahun 2024.
Pertumbuhan ekonomi akan tetap lemah pada tahun 2026, yaitu sebesar 2,3 persen.
"Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara maju yang merupakan penggerak ekonomi dunia maupun negara berkembang mengalami perlambatan," jelas dia.
Baca Juga: Benarkah Indonesia Lebih Dulu Ajukan Pertemuan dengan Trump? Ini Kata Menlu
Pertumbuhan ekonomi tahun 2025 diperkirakan sebesar 1,7 persen, dari perkiraan awal 2,1 persen dalam prospek ekonomi global (Global Economic Outlook Geo Desember 2024).
Sedangkan perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 menjadi 1,5 persen dari 1,7 persen.
"Angka-angka ini jauh di bawah tren dan turun dari pertumbuhan tahunan hampir 3% pada 2023 dan 2024," tutur dia.
Perkiraan fiture ratings mungkin lebih tinggi dari yang akan terjadi pada tahun 2025 maupun 2026 larena yang terkena tarif adalah hampir seluruh negara di dunia kecuali yang sudah disebutkan di atas.
Dalam kebijakan ini, Indonesia dikenai tarif yang cukup besar yakni 32 persen.
Tarif ini lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia yang hanya sebesar 24 persen, Filipina 17 persen, apalagi Singapura yang hanya 10 persen.
Namun tarif Indonesia lebih rendah jika dibandingkan dengan Thailand 36 persen, Vietnam 46 persen, Kamboja 4,9 persen, maupun mitra dagang utama Indonesia, yaitu Cina sebesar 34 persen.
"Walaupun ada penundaan dalam pemberlakuan tarif selama 90 hari, namun perlu mengantisipasi dampak pengenaan tarif terhadap perekonomian Indonesia dan strategi untuk menghadapinya," tandas Deputi Bidang Administrasi Setjen DPD RI ini.***
Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat dan mudah bisa download aplikasi Pojoksatu.id untuk Android dan iOS dengan link di bawah ini:




