POJOKSATU.id - Nama Shindy Lutfiana kembali ramai diperbincangkan publik setelah unggahan emosionalnya di media sosial viral dan menuai perhatian warganet.
Mantan MC dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat itu mengungkap dampak besar yang ia alami setelah polemik acara tersebut mencuat.
Lewat akun TikTok miliknya, @sinarbicara_by.shindy.mc, Shindy mengaku bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga merasa terpukul karena sikap sejumlah rekan sesama profesi yang menurutnya justru ikut menjatuhkannya.
Baca Juga: Dapat TPG Satu Kali Gaji, Guru Gunakan Tunjangan untuk Ini, Nunuk Janji Komitmen Sejahterakan Guru
Curhatan itu muncul setelah namanya terseret dalam kontroversi final LCC MPR Kalbar yang sempat viral beberapa waktu lalu.
Saat itu, perlombaan menjadi sorotan publik usai peserta dari SMAN 1 Pontianak memprotes keputusan dewan juri terkait jawaban yang dinilai salah meski dianggap benar oleh banyak penonton.
Di tengah suasana tegang tersebut, Shindy yang bertugas sebagai pembawa acara sempat melontarkan pernyataan, “Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja.”
Baca Juga: Resep Sayur Asem Lompong Talas, Kuah Segar Pedasnya Bikin Nagih
Ucapan tersebut langsung menuai kritik keras dari masyarakat karena dianggap kurang menunjukkan empati kepada peserta lomba.
Video momen itu kemudian menyebar luas di media sosial dan membuat nama Shindy terus menjadi bahan perbincangan publik.
Tak lama setelah polemik membesar, Shindy sempat menyampaikan permintaan maaf terbuka melalui akun Instagram pribadinya.
Baca Juga: Sejarah Universitas HKBP Nommensen, Berawal dari Sinode hingga Jadi Kampus Besar di Sumatera
Ia mengakui bahwa ucapan yang disampaikan saat acara berlangsung tidak tepat dan menyesali kegaduhan yang terjadi.
Imbas polemik tersebut, pihak Sekretariat Jenderal MPR RI kemudian mengambil langkah evaluasi dengan menonaktifkan MC dan dewan juri yang bertugas dalam ajang LCC tersebut.
Kini, Shindy kembali buka suara dan menceritakan kondisi yang ia alami setelah kontroversi itu terjadi.
Baca Juga: Operasional BCA saat Libur Kenaikan Yesus Kristus 2026 Disesuaikan, Ini Jadwal Layanannya
“Ketika aku membaca ribuan komentar dari netizen, hampir semua isinya hujatan untuk aku, semua kata-kata isi kebun binatang keluar, sumpah serapah aku terima, sampai seruan boikot Shindy MC,” tulisnya dalam unggahan TikTok.
Ia juga mengaku kini kehilangan pekerjaan akibat kejadian tersebut.
Namun begitu, Shindy menyebut dirinya mencoba menerima semua konsekuensi itu sebagai bagian dari tanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan.
“Dan sampai akhirnya memang benar-benar semua harapan dan tuntutan netizen terwujud, aku hilang pekerjaan.
Aku bisa menerima itu semua dengan tabah, sabar, ini memang risiko yang harus aku terima atas kesalahanku,” lanjutnya.
Meski telah menerima banyak hujatan dari publik, Shindy mengaku ada hal lain yang justru lebih melukai perasaannya.
Menurutnya, beberapa rekan sejawat sesama profesi justru memanfaatkan situasi saat dirinya sedang terpuruk.
Baca Juga: SIMAK UI 2026 Resmi Dibuka, Jalur Mandiri S1 Reguler dan Vokasi UI Bisa Daftar hingga 5 Juni
“Tapi tidak ada yang lebih menyakitkan dalam kejadian ini, ketika aku melihat dari teman-teman sejawat seprofesiku memanfaatkan momen ‘jatuhnya aku sekarang’ untuk menghakimiku bahkan merayakannya,” ungkap Shindy.
Curhatan tersebut kembali memancing beragam respons dari netizen.
Ada yang masih mengkritik, namun tak sedikit pula yang mulai memberikan dukungan dan meminta publik berhenti menyerang secara berlebihan.
Di akhir unggahannya, Shindy mencoba mengambil pelajaran dari persoalan yang kini sedang dihadapinya.
Baca Juga: Memang Benar Ferdy Sambo Kuliah S2 dari Lapas Cibinong, Begini Kata Kementerian Imipas
“Aku tetap akan berprasangka baik kepada Allah, semoga semua ini ada hikmahnya, semua ini pelajaran berharga buatku,” tutupnya.
Polemik yang bermula dari sebuah perlombaan pendidikan itu kini berkembang menjadi perbincangan luas tentang empati, etika komunikasi, hingga tekanan besar yang muncul di media sosial.
Di balik viralnya sebuah kesalahan, ada sisi manusiawi yang juga ikut terluka dan perlahan mencoba bangkit kembali.***




