POJOKSATU.ID - Kemarahan dan frustrasi yang selama bertahun-tahun dipendam akhirnya meledak.

Pendiri Kalaweit, Chanee aktivis lingkungan asing yang 27 tahun mengabdikan hidupnya untuk menyelamatkan satwa liar Indonesia.

Membuka tabir gelap relasi antara lembaganya dan Kementerian Kehutanan era sebelumnya.

Dalam video terbarunya, ia mengungkap bagaimana selama hampir satu dekade yayasan yang ia bangun diperlakukan bak “anak tiri” oleh pemerintah.

Baca Juga: Wajib Tahu CPNS 2026! Begini Cara Mengatasi Kesalahan Data Saat Daftar Online, Wajib Tahu!

Dengan pola komunikasi yang tidak hanya dingin, tetapi juga penuh tekanan yang menghambat kerja-kerja penyelamatan alam.

Menurut Chanee, sembilan tahun terakhir menjadi masa paling buruk dalam perjalanan Kalaweit.

Bukan hanya dicueki, mereka bahkan mengalami tekanan birokrasi yang sistematis. Komunikasi antara NGO dan kementerian tiba-tiba terputus.

Seolah pemerintah tak ingin mendengar realitas kerusakan hutan yang sedang terjadi.

Baca Juga: Pesepeda Tabrak Transjakarta di Sudirman, Pejabat SKK Migas Hudi Dananjoyo Suryodipuro Tutup Usia

Yang lebih ironis, menurut Chanee, ada upaya membungkam mereka melalui aturan tak resmi: ia dilarang mengunggah konten yang tidak disukai kementerian.

Artinya, kondisi hutan rusak, lahan gundul, atau aktivitas ilegal yang mereka temukan di lapangan harus disensor demi menjaga citra institusi.

Tak berhenti di situ, izin operasional yayasan pun digantung bertahun-tahun tanpa alasan jelas.

Situasi ini membuat kerja lapangan terhambat, bahkan mengancam keberlanjutan program penyelamatan satwa.

Chanee menggambarkan situasi tersebut sebagai “mencekik”, karena NGO yang seharusnya membantu justru diperlakukan seperti musuh oleh regulator.

Namun angin segar sempat datang ketika Menteri Kehutanan yang baru, Raja Juli Antoni, mulai membuka komunikasi.

Dalam momen yang disebut Chanee sebagai “bersejarah”, sang menteri mau terbang bersamanya menggunakan pesawat kecil.

Untuk melihat langsung kehancuran hutan yang selama ini hanya terdengar lewat laporan.

Baca Juga: Bantuan Cepat Kemendikdasmen Pemulihan Pendidikan Pasca Bencana Banjir Bandang Agam

Dari udara, Chanee menunjukkan tanpa filter bagaimana wajah hutan Indonesia saat ini.

Lubang-lubang tambang raksasa yang ditinggalkan tanpa reklamasi, sawit ilegal yang merajalela dalam kawasan hutan produksi.

Hingga kerusakan bentang alam yang tampak begitu parah sehingga sulit dipercaya bahwa ini terjadi di negara yang memiliki regulasi kehutanan lengkap di atas kertas.

Meski merasa lega karena pemerintah akhirnya mau melihat langsung realitas lapangan.

Baca Juga: Kontroversi Memanas! Zulhas Bantah Semua Tuduhan, Warga: Lah Lahan Sudah Hancur!

Chanee tidak menutupi kekesalannya bahwa kerusakan ini terjadi bukan dalam hitungan bulan, melainkan puluhan tahun.

Ia menegaskan bahwa NGO hanya bisa memberi masukan, sementara kuasa untuk memperbaiki ada sepenuhnya di tangan pemerintah.

Bila negara kembali menutup mata, bencana akan terus datang dan masyarakatlah yang menjadi korban.

Chanee mengingatkan bahwa alam sudah mulai “menagih utang” lewat banjir bandang, longsor, dan bencana ekologis lain yang terjadi belakangan ini.

“Ini bukan lagi soal aktivis atau kementerian. Ini soal masa depan Indonesia,” ujarnya.

Dengan pernyataan yang begitu keras dan blak-blakan, Chanee seolah menegaskan bahwa era menutup-nutupi kerusakan sudah lewat.

Kini publik menunggu apakah pemerintah benar-benar akan mendengar

Atau kembali membiarkan suara peringatan itu hilang ditelan birokrasi seperti sembilan tahun sebelumnya.***