POJOKSATU.id - Di antara puing-puing Kampung Garoga dan Huta Godang yang luluh lantak, terselip kisah pilu Muhammad Bakri, warga Desa Garoga, Batang Toru, Tapanuli Selatan.
Bakri adalah salah satu korban selamat ketika banjir bandang menerjang sekitar pukul 3 dini hari, ketika ia tengah berjaga di kebun durian miliknya.
Ia terseret arus deras, berjuang sekuat tenaga untuk bertahan hidup.
"Saya sempat hanyut. Hampir setengah jam saya bersama tiga orang teman lainnya berpegangan pada pelepah sawit," kenang dia, Selasa 2 November 2025.
Baca Juga: Akses Medan-Aceh Tamiang Mulai Pulih, Distribusi Logistik Banjir Tancap Gas
Setelah terombang-ambing dan tenggelam, Bakri berhasil meraih sebuah pohon dan bertahan di sana selama hampir satu jam.
Alih-alih surut, air sungai justru semakin meluap, membuat aliran sungai baru yang menghancurkan pemukiman warga.
"Sungai baru ini mengorbankan pemukiman warga, bahkan rumah kepala desa pun turut hanyut," ungkap Bakri.
Dengan sisa tenaga yang ada, Bakri berenang sejauh 100 meter menuju daratan, meski saat itu air masih terus mengalir deras.
Baca Juga: Tolong! Tapanuli Selatan Kelangkaan BBM, Bupati Sudah Angkat Tangan, Penanganan Bencana Makin Sulit
Di tengah keputusasaan, ia sempat pasrah pada takdir.
"Mungkin saya mati," pikirnya saat itu, membayangkan akhir hidupnya di tengah keganasan alam.
Namun, semangat hidup Bakri kembali membara. Ia mencoba berlari ke kampung Huta Godang, namun air sudah setinggi pinggang.
Sekitar Pukul 09.00 WIB, Bakri memberanikan diri pulang ke rumahnya di Huta Godang.
Pemandangan yang ia saksikan sungguh mengerikan. Air bah telah menggulung seluruh wilayah.
Tanpa pikir panjang, Bakri langsung menyelamatkan adik perempuannya, Ashari Amdi, ayahnya, Amir Syam, dan ibunya, Masliana Hutapea.
Kisah dramatis pun terjadi saat air mulai menggulung rumah mereka.
Bakri dengan sigap mengunci pintu dan menutup rapat semua celah di rumahnya, berusaha sekuat tenaga melindungi keluarganya dari terjangan air.
Baca Juga: Momen Dramatis Bayi 2 Minggu Terseret Banjir, Ortunya Disebut Meninggal, Tim SAR Berhasil Menolong
Untuk mengeluarkan adik dan orang tuanya, ia bahkan harus menjebol jendela.
Sekitar pukul 11 siang, Bakri berhasil membawa keluarganya mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi.
Air mulai surut menjelang malam, dan keluarganya baru bisa dievakuasi ke tempat pengungsian yang lebih aman.
Bencana ini menjadi pengalaman pertama yang dialami warga Huta Godang sejak kampung itu didirikan.
Bakri meyakini bahwa tumpukan kayu besar di sungai menjadi penyebab utama banjir bandang ini.
"Padahal, di kampung kami sering banjir, tetapi tidak sebesar kali ini," ujarnya.
Kini, Bakri dan keluarganya hanya bisa pasrah dan berharap bantuan.
Mereka kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan mata pencaharian.
Namun, di balik kesedihan dan keputusasaan, tersimpan secercah harapan untuk membangun kembali kehidupan yang lebih baik di Huta Godang.***




