POJOKSATU.ID- Gelisah dan cemas, itulah yang dirasakan hati keluarga santri Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran. Musibah ambruknya musala tiga lantai pada Senin (29/9) tersebut membuat suasana mencekam.
Sejak peristiwa terjadi, petugas gabungan TNI, Polri, BPBD Surabaya dan Sidoarjo, Basarnas Surabaya serta para relawan tidak berhenti berjibaku. Mereka fokus mengevakuasi korban yang masih tertimbun reruntuhan bangunan.
Deretan mobil ambulans memenuhi halaman depan pondok hingga ke frontage road pintu masuk gang menuju ponpes. Suara sirene juga menambah suasana duka semakin terasa.
Baca Juga: Pertamina Regional JBB Apresiasi Polres Metro Tangerang Ungkap Praktik Oplosan LPG Bersubsidi
Selain ambulans, mobil pemadam kebakaran juga siaga di sekitar lokasi. Kendaraan darurat tersebut sejak kemarin siang hilir mudik mengangkut korban.
Tidak hanya aparat dan relawan yang hadir, sejumlah tokoh juga datang ke lokasi kejadian. Mereka memberikan dukungan moril kepada santri, keluarga korban dan pihak ponpes.
Sementara itu, wajah penuh cemas dari keluarga santri tampak tidak bisa disembunyikan. Banyak di antara mereka hanya bisa duduk menanti kabar terbaru tentang orang terdekatnya.
Salah satu warga asal Blega, Madura, Saroni mengaku tidak kuasa menahan kata-kata saat mendengar kabar tersebut. Adiknya yang mondok di Al-Khoziny membuatnya hanya bisa memantau sambil memberi kabar ke keluarga.
Baca Juga: Kasus Ambruknya Musala Al Khoziny Sidoarjo, 38 Santri Masih Terjebak Reruntuhan, 3 Meninggal Dunia
“Saya tidak tahu mau bicara apa, di sini saya hanya bisa merasa penuh kekhawatiran,” ujarnya dikutip radar sidoarjo
Hingga kini proses evakuasi masih terus dilakukan. Petugas gabungan berusaha menembus puing, sementara doa-doa dipanjatkan agar para korban segera ditemukan. ***



