POJOKSATU.id, PURWAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian angkat suara terkait dari banyaknya Pemerintahan Daerah (Pemda) yang melakukan acara-acara atau kegitan yang dilaksanakan di hotel, termasuk Pemda Kabupaten Purwakarta.
Dirangkum dari berbagai sumber, Tito menilai kegiatan yang dilakukan di hotel – hotel oleh pemerintah daerah merupakan pemborosan anggaran padahal masih ada kebutuhan lainnya yang lebih penting ketimbang melakukan kegiatan di hotel.
Banyak kepala daerah melakukan rapat atau kegiatan yang sifatnya seremonial di hotel, daripada melaksanakan kegiatan tersebut didalam kantor. Menurut Tito hal itu banyak dilakukan oleh kepala daerah hanya untuk mendapatkan dana perjalanan dinas.
“Banyak sekarang kepala daerah yang menyelenggarakan rapat di luar. Sepeti, di hotel, di luar kota dikit, supaya ada SPD-nya segala macam. Apakah ini bisa diatasi oleh APH? Nggak akan bisa, karena nggak ada yang salah aturannya. Tapi APIP bisa masuk, ini pemborosan,” kata Tito, Kamis (09/03) dilansir dari berbagai sumber.
Salah satu pemerintah daerah yang sering melakukan kegiatan di hotel yaitu Kabupaten Purwakarta, pada tahun 2022 lalu kemungkinan milyaran rupiah anggaran digelontorkan dari APBD untuk kegiatan – kegiatan yang dilaksanakan di hotel.
Terlebih lagi kegiatan yang sifatnya pemborosan anggaran tersebut tidak ada manfaatnya secara langsung kepada masyarakat, hanya cenderung untuk menghambur-hamburkan anggaran padahal ada kebutuhan lainnya yang lebih penting.
Baca Juga : Sosialisasi PAW Oleh Pemda Purwakarta Di Hotel Terkesan Hamburkan Anggaran, Bayar Tuh TPP ASN Sudah Banyak Yang Mengeluh
Semoga saja, pemerintah daerah kabupaten purwakarta di tahun 2023 bisa mengerem kegiatan-kegiatan di hotel, kemudian anggarannya bisa diperuntukan untuk kegiatan yang lebih penting lainnya.
Jangan sampai, pemerintahan ini karam seperti kapal Titanic karena tidak menghiraukan berisiknya radio panggilan malam itu yang memberitahukan jalur yang dilaluinya banyak gunung es.
Operator yang menjaga radio tersebut malah mematikan radio-radio pemberitahuan tersebut karena tidak tahan suara berisiknya. Pada akhirnya kapal itu menabrak gunung es, kemudian karam kedasar lautan. (Ade Winanto / pojoksatu)




