POJOKSATU.ID- Suasana Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau, masih mencekam buntut rencana pengembangan kawasan Rempang Eco City.
Proyek ini akan dibangun di atas dua Kelurahan Pulau Rempang, Kelurahan Sembulang dan Rempang Cate.
Pembangunan ini menjadi fokus pemerintah pusat usai Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke China pada akhir Juli lalu.
Baca Juga: Bocoran dari Dedi Mulyadi, Ini Soal Nama Cawapres Prabowo Subianto
Pembangunan Rempang Eco City ini juga akan menggusur 1.835 bangunan di daerah tersebut.
Atas hal itulah, warga sekitar terus melakukan memprotes dengan turun jalan terkai pembangunan Rempang Eco City yang dinilai menindas rakyat kecil.
Dari kejadian Rempang Eco City ini, ada hal yang menarik yang bisa digali, yaitu perihal silsilah keturunan masyarakat Rempang.
Baca Juga: Jokowi Ingatkan Capres-Cawapres yang Jadi Menteri Jika Kampanye Wajib Cuti dan Jangan Pakai Fasilitas Negara
Mengutip postingan Ustaz Abdul Somad di akun instagramnya @ustadzabdulsomad_official
Dalam postingannya itu, UAS, sapaan akrabnya memposting tulisan Prof Dato Abdul Malik yang membahas silsilah keturunan masyarakat Rempang.
Prof Dato Abdul Malik sendiri merupakan guru besar yang berasal dari negeri jiran atau Malaysia.
Baca Juga: Rekomendasi 5 Olahraga Simple di Rumah, Tetap Sehat di Kala Sibuk
Disebutkan dalam tulisan tersebut, sebetulnya penduduk asli Rempang, Galang, dan Bulang adalah keturunan para prajurit Kesultanan Riau-Lingga yang sudah eksis sejak 1720 masa pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I.
"Pada Perang Riau I (1782-1784) mereka menjadi prajurit Raja Haji Fisabilillah. Dan, dalam Perang Riau II (1784–1787) mereka prajurit Sultan Mahmud Riayat Syah," bunyi isi tulisan tersebut.
Disebutkan pula, pada 1787, Rempang, Galang, dan Bulang dijadikan basis pertahanan terbesar Kesultanan Riau, Lingga yang dipimpin oleh Engku Muda Muhammad dan Panglima Raman yang ditunjuk oleh Sultan Mahmud.
Baca Juga: Rahasia Kuliner Indonesia: 5 Makanan yang Menyamar sebagai Kuliner Internasional, Indonesia Juga Punya Sashimi
"Kala itu pasukan Belanda dan Inggris tak berani memasuki wilayah Kesultanan Riau-Lingga," tulis keterangannya.
Disebutkan juga, bahwa saat ini anak-cucu sang sultan lah yang mendiami Pulau Rempang secara turun-temurun.
Pada Perang Riau, juga disebutkan nenek moyang masyarakat Rempang adalah Pasukan Pertikaman Kesultanan. Bahkan Nukilan itu ada ditulis di dalam Tuhfat al-Nafis karya Raja Ali Haji.***



