POJOKSATU.ID - Kabar duka datang dari Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.

Seorang prajurit TNI bernama Pratu Farkhan Syauqi Marpaung dilaporkan meninggal dunia saat bertugas di Papua.

Ia diduga tewas setelah mengalami penganiayaan oleh seniornya sendiri.

Baca Juga: BKPSDM Indramayu Temukan ASN Bolos Kerja Pasca Libur Nataru dan Akan Diberikan Berupa Sanksi

Pratu Farkhan diketahui mengembuskan napas terakhir pada 31 Desember 2025. Kabar tersebut pertama kali diterima keluarga dari kerabat dekat yang berada di Papua.

Kepergian Farkhan menyisakan duka mendalam, terutama bagi orang tua dan keluarga besarnya.

Zakaria, ayah Pratu Farkhan, mengungkapkan kronologi singkat yang ia terima dari pihak keluarga dan rekan almarhum.

Baca Juga: Cara Membuat SKCK 2026 Lengkap dengan Biaya Resmi dan Syarat Terbaru

Menurutnya, sebelum kejadian tragis itu, anaknya sempat mengeluhkan kondisi tubuh yang tidak sehat.

“Awalnya dia sakit. Katanya menghangatkan badan di perapian di Papua,” ujar Zakaria, dikutip pojoksatu.id dari kompas.com Sabtu (3/1/2026).

Dalam kondisi tersebut, seorang prajurit berpangkat Sersan disebut menghampiri Pratu Farkhan untuk menanyakan keadaannya.

Baca Juga: NRG Belum Terbit di Info GTK 2026? Ini Penyebabnya dan Dampaknya ke Pencairan TPG yang Wajib Guru Pahami

Kepada seniornya itu, Farkhan mengaku sedang sakit.

Namun situasi kemudian berubah. Zakaria menyebut, seorang prajurit berpangkat Kopral datang dan memanggil anaknya.

Pratu Farkhan lalu diajak ke tempat terpisah.

Baca Juga: Klaim BPJS Ketenagakerjaan Dipersulit Perusahaan? Ini Hak Pekerja dan Langkah Tegas yang Bisa Ditempuh

“Disuruh tunduk, lalu dipukul pakai ranting ke bagian punggungnya,” kata Zakaria dengan suara bergetar.

Tak berhenti di situ, Pratu Farkhan disebut mendapat perlakuan fisik lainnya.

Ia diminta melakukan posisi yang dikenal di lingkungan militer sebagai peluk tobat, kemudian ditendang hingga terjatuh.

Baca Juga: Kabar Baik Awal Tahun, Gaji ASN Sidrap Cair Tepat Waktu, Pemda Tegaskan Tak Ada Penundaan

“Dia tersungkur, jatuh. Setelah itu bangkit dan sempat melakukan pembelaan,” ungkap Zakaria.

Kondisi tersebut diduga menjadi penyebab meninggalnya Pratu Farkhan.

Keluarga mengaku sangat terpukul, terlebih karena almarhum bukan gugur dalam kontak senjata atau operasi militer.

Baca Juga: Dibuka 2–9 Januari 2026, Ini Daftar Jemaah Berhak Lunas Biaya Haji Tahap Kedua

“Yang membuat saya hancur, anak saya mati bukan di ujung senjata GPK. Anak saya mati oleh sesama TNI, oleh tangan dan kaki seorang Kopral,” ujar Zakaria dengan nada kecewa.

Ia menambahkan, para prajurit seharusnya saling menjaga dan melindungi satu sama lain, terutama saat bertugas di wilayah rawan seperti Papua.

“Mereka menyambung nyawa di sana. Harusnya saling menguatkan, bukan saling membunuh,” katanya.

Baca Juga: Gunungan Sampah Bantargebang Terus Meninggi, Ini Dampak Serius dan Solusi yang Harus Dilakukan

Kematian Pratu Farkhan menambah luka bagi keluarga. Zakaria bahkan menyebut, duka mereka belum lama terobati akibat kehilangan prajurit lain sebelumnya.

“Belum kering makam Prada Lucky, sekarang datang lagi makam Pratu Farkhan,” tutupnya.

Hingga kini, keluarga berharap ada kejelasan dan keadilan atas peristiwa yang menimpa Pratu Farkhan Syauqi Marpaung.***