POJOKSATU.id – Sungai Kapuas di Kalimantan Barat menghadapi tekanan akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
Bukan hanya debit air yang menurun dan sejumlah bagian sungai mengalami pendangkalan, kondisi tersebut mulai berdampak terhadap kualitas air baku yang digunakan masyarakat.
Di Pontianak, pemerintah daerah bahkan mengingatkan warga untuk menghemat penggunaan air bersih karena air Sungai Kapuas sebagai salah satu sumber utama air baku mulai terdampak intrusi air laut.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan minimnya hujan di wilayah hulu membuat tekanan aliran Sungai Kapuas mengecil sehingga air laut lebih mudah masuk ke badan sungai.
“Warga untuk berhemat dalam menggunakan air bersih karena dampak kemarau yang melanda,” kata Edi di Pontianak, Selasa (11/8/2026).
Baca Juga: MPR RI Batalkan Rencana Lomba Ulang LCC Empat Pilar di Kalimantan Barat
Kapuas Surut, Air Laut Mulai Masuk
Kondisi Sungai Kapuas yang semakin surut membuat persoalan tidak berhenti pada berkurangnya volume air.
Air laut yang masuk ke aliran sungai menyebabkan kadar garam pada air baku meningkat, terutama ketika terjadi pasang.
Pemkot Pontianak menyebut kadar garam tertinggi di salah satu instalasi pengolahan air di Nipah Kuning sempat mencapai sekitar 2.903 miligram per liter.
Kondisi ini menjadi perhatian karena sebagian layanan air bersih di Pontianak masih mengandalkan Sungai Kapuas sebagai sumber air baku.
Baca Juga: Masjid Jamik Sultan Nata Sintang, Jejak Sejarah Penyebaran Islam di Tepian Sungai Kapuas
Artinya, ketika debit sungai terus melemah, persoalan yang muncul bukan hanya pemandangan sungai yang semakin dangkal, tetapi juga kualitas air yang harus diolah untuk kebutuhan masyarakat.
Bukan Cuma Air Bersih, BBM Juga Terdampak
Dampak surutnya Sungai Kapuas juga telah terasa pada sektor distribusi energi.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mencatat turunnya debit air dan pendangkalan Sungai Kapuas menyebabkan kapal tanker pengangkut BBM mengalami keterlambatan sandar.
Kondisi tersebut bahkan sempat mengganggu pasokan energi dan memicu antrean di sejumlah SPBU.
BPH Migas sebelumnya juga mengungkap adanya gangguan distribusi BBM akibat pendangkalan alur dan turunnya debit Sungai Kapuas.
“Terkait dengan distribusi BBM untuk Kalimantan Barat ini ada sedikit gangguan akibat pendangkalan alur Sungai Kapuas dan debit airnya yang turun, sehingga kapal tanker BBM kandas,” ujar Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugroho pada 17 Februari 2026.
Pertamina kemudian menyiapkan skema alternatif dan pasokan darurat untuk menjaga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Baca Juga: Masjid Raya Singkawang, Masjid Tertua di Kalimantan Barat yang Berdampingan dengan Kelenteng
Juli 2026 Jadi Peringatan Serius
Tekanan terhadap Sungai Kapuas tidak bisa dilepaskan dari kondisi musim kemarau.
Data yang dihimpun pemerintah daerah menunjukkan musim kemarau mulai memberikan dampak terhadap produktivitas dan ketersediaan air di Kalimantan Barat.
Bahkan, laporan cuaca regional menyebut Kalimantan Barat menghadapi periode kemarau yang lebih panjang dan kering hingga September 2026. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan sekaligus kebakaran hutan dan lahan.
Badan Wilayah Sungai Kalimantan I sebelumnya juga telah membahas fenomena Godzilla El Niño dan dampaknya terhadap pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Kapuas.
Jangan Tunggu Kapuas Benar-Benar Kering
Kondisi saat ini menunjukkan bahwa istilah “Sungai Kapuas mengering” perlu dibaca secara hati-hati.
Sungai Kapuas belum berarti kehilangan seluruh aliran airnya. Namun, debit yang turun, pendangkalan, intrusi air laut, dan terganggunya jalur distribusi merupakan tanda bahwa kondisi sungai sedang mengalami tekanan serius.
Jika kemarau terus berlangsung, persoalan tersebut berpotensi meluas dari sektor transportasi sungai hingga kebutuhan air bersih dan distribusi energi.
Baca Juga: KDS Gerak Cepat Hadapi Kekeringan, Ribuan Hektare Sawah Kabupaten Bandung Terancam
Karena itu, langkah penghematan air yang diminta pemerintah daerah menjadi penting, terutama ketika sumber air baku utama mulai terpengaruh kondisi kemarau.
Persoalan Sungai Kapuas pada akhirnya bukan hanya soal sungai yang terlihat surut.
Ketika debit air turun terlalu jauh, dampaknya dapat menjalar ke air bersih, transportasi, distribusi BBM, hingga aktivitas ekonomi masyarakat Kalimantan Barat.***



