POJOKSATU.ID - Kabupaten Bojonegoro mendadak menjadi sorotan nasional.
Semua berawal dari sindiran tajam Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Tentang dana daerah yang “mengendap” hingga triliunan rupiah.
Baca Juga: Bhabinkamtibmas Kota Sukabumi Dilatih jadi Polisi Penolong, Kuasai Teknik Tangani Kebakaran dan Ular
Seketika, di berbagai sudut Bojonegoro tampak aktivitas pembangunan yang bergerak cepatjalan diperbaiki, proyek fisik dikerjakan.
Tudingan “panik langsung habiskan anggaran” pun merebak.
Pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Senin 20 Oktober 2025.
Baca Juga: BKN Ungkap 4 Jenis Cuti Resmi untuk PPPK 2025, Tak Hanya Tahunan, Ada Cuti Melahirkan dan Bersama
Menkeu Purbaya menyoroti kondisi sejumlah pemda yang memiliki dana besar di kas tanpa merealisasikannya.
Ia kemudian menyebut Bojonegoro secara spesifik: “Kalau Bojonegoro lebih dari Rp 3 triliun tidak terpakai di akhir tahun, mau diapain?” .
Beberapa media menyebut angka yang dikutip mencapai sekitar Rp 3,6 triliun.
Baca Juga: Bukan Sekolah Elite Saja, Kini Anak Desa Juga Bisa Belajar Bahasa Asing
Pernyataan itu kemudian viral, terutama di media sosial.
Sebuah video unggahan Instagram menampilkan momen saat Bojonegoro tampak “sibuk” di lapanganalat berat bergerak, pekerja ramai, proyek jalan muncul.
Captionnya “Kondisi Bojonegoro setelah beredar kabar dana 3T yang mengendap di pemda.”
Tak butuh waktu lama. Pemkab Bojonegoro melalui Wakil Bupati Nurul Azizah menyampaikan bahwa dana SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) sebesar Rp 3,6 triliun.
Bukanlah uang “tidur” tanpa arah, melainkan disiapkan sebagai antisipasi penurunan dana transfer pusat dan untuk belanja tahun berjalan.
Baca Juga: Bukan Sekolah Elite Saja, Kini Anak Desa Juga Bisa Belajar Bahasa Asing
Namun di lapangan warga dan warganet melihat sesuatu yang lain
“Langsung gerak semua, luar biasa efek sindiran,” tulis akun @bjn_update.
Proyek jalan dan infrastruktur muncul cepat di banyak titik.
Baca Juga: Bukan Sekolah Elite Saja, Kini Anak Desa Juga Bisa Belajar Bahasa Asing
Media mencatat “sentilan menkeu, proyek infrastruktur Rp 3,6 T Bojonegoro mendadak viral.”
Bojonegoro bukan pemda kecil daerah ini dikenal sebagai salah satu pemasok migas di Jawa Timur dengan potensi besar.
Sehingga sorotan terhadap pengelolaan anggarannya pun lebih tinggi.
Pergeseran pola dari “dana banyak tapi jalanan tetap rusak” ke “seolah panik lalu gerak cepat” menjadi narasi menarik.
Apakah ini buntut dari kritik pusat atau justru efektivitas yang baru muncul?
Walau ada percepatan, terdapat catatan penting Realisasi bukan semata pergerakan cepat, tapi harus memastikan efektivitas untuk masyarakat.
Wabup Azizah menegaskan bahwa dana itu akan digunakan untuk belanja pegawai, BKKD desa, beasiswa dan proyek fisik.
Waktu pelaksanaan terbatas Akhir tahun anggaran mendorong percepatan, tapi proyek fisik bisa tergesa-gesa dan berisiko kualitas.
Momen ini bisa menjadi pivot dari pengelolaan anggaran yang pasif menjadi aktif dan produktif.
Baca Juga: Efek Samping MBG Niat Baik Bikin Gizi Naik, Malah Inflansi Jadi Naik!
Warga Bojonegoro, dan juga pemantau nasional, akan menaruh perhatian hasilnya akan terlihat tidak hanya dari jalan yang mulus
Tapi dari efektivitas penggunaan anggaran dalam meningkatkan kesejahteraan.***




