POJOKSATU.id, JAKARTA—Tuan Guru Bajang (TGB) mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) mengajak masyarakat untuk berhenti menuding banjir besar di Sumut, Sumbar dan Aceh karena cuaca ekstrim.
Menurut TGB, banjir bandang ini karena manusia sudah lama merusak alam dan menghancurkan ekosistem kehidupan. Allah pun murka dan membalas perbuatan manusia.
“Dari bencana ini kita harus belajar, pengrusakan yang dibiarkan akan membawa petaka terhadap semua,” jelasnya di unggahan Instagram pribadinya @tuangurubajang seperti dilihat Sabtu (29/11).
Dia pun mengajak masyarakat bertaubat dan meminta penegakan hukum bagi orang-orang yang merusak alam.
Baca Juga: Pencairan Gaji Pensiunan Dimulai 1 Desember, Golongan Ini Tetap Dapat Nominal Paling Kecil
“Mari bertaubat, berbenah dan tegakkan hukum kepada mereka yang telah merusak rumah kita, bumi Indonesia,” katanya.
TGB juga mengutip Surat Ar-rum ayat 41 yang menjelaskan tentang kerusakan di darat dan laut karena tangan manusia.
Diketahui, istri TGB Erica Zainul Majdi, merupakan perempuan berdarah Batak Toba bermarga Panjaitan. Erica berasal dari Tapanuli.
Anies Sikapi Banjir Sumatera
Mantan Calon Presiden RI Anies Baswedan, ikut mengomentari banjir besar di tiga provinsi di Sumatera ini.
Anies menuliskan Surat Ar-rum ayat 41 di unggahannya. Surat Ar-rum di kitab suci ini kata Anies bisa menjadi refleksi manusia tentang bencana.
Baca Juga: Daftar Nomor Darurat Banjir di Sumatera dan Aceh, Warga Diminta Simpan dan Sebarkan
“Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia. (QS 30:41) Catatan reflektif tentang bencana,” tulis Anies Baswedan.
Menurut Anies, rangkaian badai, tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus, hingga satwa yang kelaparan belakangan ini jangan hanya dipandang sebagai musibah alam, tetapi wajib dipandang sebagai cermin diri.
Badai, hujan lebat, gunung meletus, adalah peristiwa alam yang telah berlangsung jutaan tahun.
Namun, saat ini manusia memperparah dan mengubahnya menjadi bencana karena memperlakukan alam tanpa etika.
Baca Juga: Hamparan Kayu Gelondongan Muncul Usai Banjir Sumatra, Warga Curiga Ada Penebangan Liar
Di mana tata ruang dilanggar, hutan ditebang habis, pesisir dicemari, habitat satwa dihancurkan.
“Ingat kan di masa kampanye lalu kita pernah sama-sama membahas tentang pentingnya tobat ekologis, yaitu mengakui dosa kolektif kita pada bumi, lalu mengubah cara kita hidup dan cara negara mengelola kuasa?” ucap Anies.
Menurut Anies, kita perlu mengakui bahwa kerusakan ini adalah hasil pilihan kolektif, mulai dari kebijakan yang lemah, mengabaikan analisis risiko, pengawasan yang longgar, serta ketidakpedulian ketika aturan dilanggar demi keuntungan jangka pendek yang hanya dinikmati sebagian orang.
“Hari ini kita harus jujur bahwa kita terpaksa hidup berdampingan dengan bencana. Terlalu sulit untuk mencegah semuanya,”kata Anies lagi.***




