POJOKSATU.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengubah kriteria evaluasi untuk indeks utama seperti LQ45, IDX30, dan IDX80.
Perubahan ini diprediksi bakal bikin pasar lebih bergejolak dalam waktu dekat, tapi di sisi lain justru membuka peluang perbaikan kualitas pasar dalam jangka panjang.
Ada dua poin penting yang disesuaikan BEI, yaitu kriteria universe dan acuan rasio free float.
Baca Juga: Trump Perpanjang Gencatan Senjata AS-Iran Tanpa Batas, Harapan Damai Kembali Muncul
Perubahan ini mulai berlaku pada evaluasi mayor April 2026 dan efektif di hari bursa pertama Mei 2026.
Dari sisi kriteria universe, ada penambahan aturan baru.
Salah satunya, saham kini boleh maksimal satu hari tidak ditransaksikan dalam enam bulan terakhir, yang sebelumnya harus aktif setiap hari.
Baca Juga: Peringatan Hari Angkutan Nasional 2026, Tarif Transportasi Jakarta Hanya Rp1
Selain itu, BEI juga menambahkan syarat baru, yaitu saham tidak boleh masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC).
Aturan free float juga diperbarui mengikuti ketentuan terbaru per Maret 2026.
Secara garis besar, BEI terlihat lebih ketat dalam menilai kualitas free float, bukan sekadar angka minimum saja.
Baca Juga: Da Yunhe
Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai pelonggaran suspensi ini membuat aturan jadi lebih realistis.
Ia juga menyebut syarat free float minimal 10 persen bisa membuat indeks lebih likuid dan mudah direplikasi investor institusi.
Namun begitu, ia mengingatkan bahwa aturan tersebut seharusnya tidak disamaratakan untuk semua ukuran emiten.
Baca Juga: SPMB 2026 Jalur Domisili Menjadi Jalur Utama, KK Minimal 1 Tahun Wajib Dicek dari Sekarang!
“free float 10% tidak diberlakukan sama untuk semua market cap, tetapi berdasarkan market cap,” ungkapnya.
Sejumlah saham dengan free float kecil pun berisiko terdepak.
Di antaranya PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).
Menurut Budi, saham-saham tersebut berpotensi digantikan oleh emiten yang lebih likuid dan memiliki distribusi saham publik lebih besar.
Sementara itu, pengamat pasar modal sekaligus Direktur PT Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang, menyoroti dua perubahan utama, yakni penyaringan saham dalam daftar HSC dan pengetatan implementasi free float.
Ia menjelaskan bahwa saham dalam kategori HSC cenderung memiliki likuiditas semu dan rawan manipulasi harga.
Baca Juga: Jalur Afirmasi SPMB 2026 Dibuka, Kesempatan Emas untuk Anak Hebat yang Siap Sekolah Tanpa Tertinggal
“fokus bukan hanya threshold, tapi juga kualitas free float dan distribusi kepemilikan publik,” ucapnya.
Selain BREN dan DSSA, saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) juga dinilai berisiko tereliminasi karena free float kecil dan likuiditas yang kalah dibanding emiten besar lain.
Sedangkan PGEO masih punya peluang bertahan karena dukungan BUMN dan likuiditas yang cukup baik.
Baca Juga: TPG THR 2026 Tidak Merata, Kenapa Ada Guru Tak Masuk Daftar Penerima?
Di sisi lain, ada sejumlah kandidat kuat pengganti yang dinilai lebih sehat secara struktur.
Saham seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), hingga PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) disebut berpotensi masuk.
Perubahan ini juga diperkirakan tidak berdampak besar langsung ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Baca Juga: Aturan Baru TPG THR 2026 Berubah, Ini Perbedaan dengan Tahun Lalu
Namun, efek jangka pendek seperti rebalancing dan rotasi sektor bisa memicu pergerakan yang cukup terasa.
Budi memproyeksikan IHSG akan bergerak stabil di kisaran 7.500 hingga akhir semester pertama 2026 dan masih sulit menembus level 8.000.
Meski begitu, dalam jangka menengah hingga panjang, kebijakan ini dinilai bisa membuat pasar saham Indonesia lebih kredibel dan menarik bagi investor global, terutama institusi besar seperti ETF dan dana pensiun.
Baca Juga: Aturan Baru TPG THR 2026 Berubah, Ini Perbedaan dengan Tahun Lalu
Saham-saham big caps yang likuid seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra Indonesia Tbk (ASII), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) diperkirakan akan semakin dominan dalam indeks.
Di sisi lain, saham yang terdepak dari indeks berpotensi mengalami tekanan, mulai dari aksi jual paksa hingga penurunan likuiditas.
Sebaliknya, saham yang masuk indeks justru bisa mendapat aliran dana baru dan kenaikan valuasi.
Baca Juga: Menjaga Kinerja di Tengah Dinamika Pasar
Bagi investor ritel, perubahan ini jadi pengingat penting untuk tidak hanya terpaku pada label “saham indeks”.
Perlu juga memperhatikan aspek free float, likuiditas, dan potensi arus dana masuk maupun keluar.
Perubahan ini memang bisa bikin pasar terasa lebih “liar” dalam waktu dekat.
Baca Juga: Jadwal Krusial! TPG April Diprediksi Cair 27–30 April 2026
Tapi di balik itu, ada harapan besar menuju pasar yang lebih sehat dan transparan.
Pada akhirnya, keputusan tetap ada di tangan investor, apakah siap membaca peluang atau justru tertinggal di tengah perubahan.***




