POJOKSATU.ID - Banjir bandang melanda Kabupaten Kepulauan Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara, pada Senin (5/1/2026) dini hari.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 02.30 Wita itu menyisakan pemandangan mengerikan, di mana batu-batu besar dan lumpur menutupi jalanan hingga masuk ke permukiman warga.

Bencana alam ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kepulauan Sitaro dalam durasi cukup lama.

Baca Juga: Kisah Pilu Honorer Gowa, 25 Tahun Mengabdi tapi Pensiun Tepat Usai Terima SK PPPK Paruh Waktu

Akibatnya, aliran air dari perbukitan membawa material batuan besar, lumpur, dan puing-puing yang menghantam kawasan pemukiman.

Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sedikitnya tiga kecamatan terdampak banjir bandang, yakni Kecamatan Siau Timur, Siau Timur Selatan, dan Siau Barat.

Dalam sejumlah visual yang diterima BNPB, terlihat jalanan tertutup batu berukuran besar, sementara lumpur meluber hingga ke dalam rumah warga.

Baca Juga: Lebih Rendah dari Honorer? Ini Fakta Gaji PPPK Paruh Waktu dan Dampaknya bagi ASN

Data sementara mencatat korban jiwa akibat bencana ini cukup besar. Sebanyak sembilan orang dilaporkan meninggal dunia.

Selain itu, lima orang lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan.

Sebanyak 17 warga mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis.

Baca Juga: 500 Formasi PPPK Kemenham 2026 Dibuka, Cek Jurusan yang Paling Dibutuhkan

Tak hanya menelan korban jiwa, banjir bandang juga memaksa warga mengungsi.

"Sebanyak 102 jiwa dilaporkan mengungsi ke Gedung GMIST Bethbara untuk mencari tempat yang lebih aman," tulis akun Instagram @Kumparancom, Selasa 6 Januari 2026, seperti dikutip pojoksatu.id.

Sementara itu, lima unit rumah warga dilaporkan hilang atau hanyut terbawa arus deras.

Baca Juga: LOWONGAN KERJA Staf Admisi di Universitas Internasional Semen Indonesia Nama Penulis:

Meski banjir dilaporkan telah surut pada Senin siang, dampak kerusakan masih terasa.

Jaringan listrik dan telekomunikasi di wilayah terdampak dilaporkan terputus, sehingga menyulitkan komunikasi dan koordinasi di lapangan.

Tim reaksi cepat BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro bersama tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan hingga kini masih terus melakukan evakuasi serta pencarian terhadap korban yang dilaporkan hilang.

Baca Juga: Ekspansi Global XRP di Tahun 2026, Bagaimana APT Miner Mempersiapkan Anda untuk Gelombang Pertumbuhan Kripto Berikutnya

Proses pencarian dilakukan dengan menyisir area terdampak yang tertutup lumpur dan batuan besar.

Namun, upaya penanganan bencana ini menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah keterbatasan mobilisasi sumber daya akibat harus menyesuaikan jadwal penyeberangan kapal menuju Kabupaten Kepulauan Sitaro.

Kondisi geografis wilayah kepulauan membuat proses pengiriman bantuan dan personel tidak dapat dilakukan dengan cepat.

Baca Juga: Viral Janji Renovasi Miliaran Berujung Petaka, Masjid Dibongkar, Kini Hilang Rata dengan Tanah Donatur Kabur!

BNPB dan BPBD setempat mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, mengingat hujan dengan intensitas tinggi masih berpeluang terjadi.

Warga juga diminta menghindari area rawan longsor dan aliran sungai sementara waktu.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait saat ini masih melakukan pendataan lanjutan terhadap kerusakan dan kerugian material akibat banjir bandang tersebut.***