POJOKSATU.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data mengejutkan. Anak muda yang berada di rentang usia 15-24 tahun yang termasuk dalam Gen Z, sebanyak 9,9 juta atau 22,25 persen dari total 44 juta anak muda Indonesia, tidak sedang memiliki kegiatan.
Mereka dikategorikan sebagai Not in Employment, Education, and Training (NEET) yang dicatat dari tahun 2019 hingga 2023.
Anak muda yang dikategorikan dalam NEET yaitu sebagai berikut.
- Termasuk pada usia angkatan kerja tetapi menganggur
- Anak muda yang tidak sedang bersekolah/pelatihan
- Bukan angkatan kerja (hanya mengurus rumah tangga)
Di tahun 2019 anak muda yang bekerja hanya 39,3 persen, selanjutnya tahun 2020 (38,6 persen), 2021 (38,0 persen), 2022 (38,4 persen) dan tahun 2023 (40,2 persen).
Baca Juga: DILEMA GEN Z
Sedangkan anak muda yang tidak sekolah rata-rata juga bisa dikatakan terus meningkat. Tahun 2019 angkanya mencapai 35,8 persen, 2020 (34,4 persen), 2021 (32,8 persen), 2022 (35 persen) dan 2023 meningkat menjadi 35,5 persen.
Kaum NEET yang tidak bekerja juga tidak bersekolah atau tidak sedang dalam pelatihan pada 2019 capai 21,8 persen, 2020 (24,3 persen) yang menjadi angka tertinggi NEET sepanjang lima tahun terakhir, 2021 (22,4 persen), 2022 (23,2 persen) dan tahun 2023 menjadi 22,3 persen.
Jumlah itu termasuk signifikan, sebab dalam dua tahun terakhir ini sebenarnya rata-rata NEET secara global adalah sekitar 21,6 persen. Sedangkan NEET di Indonesia mencapai hingga 22,3 persen.
Baca Juga: Tidak Monoton! Inilah Gaya Belajar Anak Gen-Z untuk Persiapan Tes UTBK-SNBT
BPS juga menyebut penyebab tingginya angka NEET ini adalah sebagai berikut.
1. Ketidaksesuaian pendidikan dengan lapangan pekerjaan dan kebutuhan industri. Namun kondisi yang ada mereka minim mendapat pelatihan kerja.
2. Ketidaksetaraan kesempatan juga menjadi penyebab tingginya angka NEET dengan kondisi:
- Mayoritas atau kebanyakan terjadi pada perempuan
- Risiko lebih tinggi pada disabilitas
- Pengalaman kerja minim.
Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah juga menyampaikan bahwa gen Z yang menganggur disebabkan karena mereka sedang dalam proses mencari pekerjaan atau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Sebagian besar dari generasi Z ini baru saja menyelesaikan pendidikan di SMA/SMK atau perguruan tinggi.
"Mereka yang (menganggur) rentang usianya 18-24 tahun, yang selesai lulus SMA, SMK atau mereka lulus perguruan tinggi. Dan rata-rata mereka adalah posisinya kalau 18 tahun biasanya, mencari pekerjaan atau meneruskan kuliah," jelas Menaker.
Memang, gelombang NEET di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah rata-rata masih memiliki pertumbuhan ekonomi rendah.
Namun di balik itu semua, penyebab utama anak muda yang masih menganggur ini disebakan ketidaksesuaian anatara pendidikan dengan kebutuhan industri.
Bahkan kesenjangan terhadap kesempatan pekerjaan dan pendidikan mayoritasnya dialami oleh perempuan (26,5 persen). Sedangkan laki-laki capai 18,21 persen memiki pengalaman kerja yang minim.
Melihat angka NEET yang cukup tinggi, selayaknya dibaca sebagai peringatan karena berbagai kesenjangan dalam gejala sosial politik yang tak lepas dari situasi angka tersebut.
Baca Juga: 72% Gen Z Sering Menemukan Berita Hoax Tentang Capres dan Cawapres
Bisa jadi hal ini dapat mengancam kompetensi dan produktivitas yang seharusnya berjalan dengan baik ketika Indonesia ingin menyongsong generasi emas.
"Kita juga terus lakukan sinergitas itu dengan dunia pendidikan. Kita pertemukan semua stakeholder ini dalam ekosistem ketenagakerjaan yaitu melalui Siap Kerja, Sistem Layanan Informasi Ketenagakerjaan, ini dibangun di Kementerian Ketenagakerjaan," jelas Menaker.
Karena itu, Pemerintah lalu menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi.
Melalui peraturan ini, dunia usaha dan industri turut berpartisipasi. Dengan demikian, kebutuhan pasar tenaga kerja dapat dipenuhi melalui pendidikan dan pelatihan vokasi. ***




