POJOKSATU.id - Kota Depok digemparkan oleh teror misterius yang menyasar dunia pendidikan.
Sebanyak 10 sekolah negeri dan swasta menerima ancaman bom yang dikirim melalui email pada dini hari.
Ancaman itu langsung memicu kepanikan orang tua, guru, serta membuat aparat keamanan bergerak cepat menyisir setiap sudut sekolah.
Baca Juga: Ancaman Bom ke Sekolah-sekolah di Depok Dipastikan Hoaks, Polisi Usut Pelaku Pengancaman
Email tersebut tidak hanya berisi ancaman, tetapi juga mencantumkan nama seorang perempuan yang diduga sebagai pengirim Kamila Luthfia Hamdi.
Identitas itu segera menjadi sorotan, memicu berbagai spekulasi di masyarakat.
Namun hasil pemeriksaan polisi menunjukkan bahwa alamat yang tertulis dalam email ternyata tidak mengarah pada siapa pun.
Baca Juga: Korban Banjir Sumatera Butuh Dukungan Moril, Jangan Lagi Suguhi Berita yang Buat Mental Ambruk
Tidak ditemukan sosok pelaku ataupun jejak aktivitas terkait ancaman tersebut.
Kasus ini kemudian berkembang menjadi teka-teki besar.
Bagaimana mungkin satu orang mampu mengirim email ancaman ke 10 sekolah sekaligus pada waktu berdekatan?
Baca Juga: AKBP Basuki Sudah Tersangka, Namun Polisi Belum Juga Ungkap Penyebab Kematian Dwinanda Levi
Dan mengapa identitas yang dipakai dalam email tidak ditemukan di lokasi yang dicantumkan?
Pertanyaan-pertanyaan ini membuat kasus makin viral dan menyedot perhatian publik.
Polres Metro Depok kemudian bergerak cepat dengan mengerahkan tim Jibom dan Gegana Brimob untuk melakukan penyisiran di seluruh sekolah yang menerima ancaman.
Langkah itu diprioritaskan mengingat tingkat risiko yang tinggi bila ancaman tersebut benar.
Sejak pagi, tim penjinak bom bekerja keliling dari satu sekolah ke sekolah lain, sementara aktivitas belajar dihentikan untuk alasan keamanan.
Baca Juga: Ancaman Bom ke Sekolah-sekolah di Depok Dipastikan Hoaks, Polisi Usut Pelaku Pengancaman
Orang tua yang mendengar kabar teror ini pun berbondong-bondong mendatangi sekolah.
Beberapa di antara mereka terlihat panik, khawatir anaknya menjadi target teror.
Banyak sekolah memilih mengevakuasi siswa ke area aman sambil menunggu hasil pemeriksaan aparat.
Baca Juga: Trubus Anggap Penjelasan Seskab Teddy Wijaya Sudah Benar Soal Penanganan Banjir Sumatera
Namun setelah proses penyisiran ketat dilakukan, fakta mulai terungkap. Di enam sekolah pertama yang diperiksa, tidak ditemukan satu pun benda mencurigakan.
"Aman, sudah disisir tidak ada benda yang mencurigakan, sudah dilakukan penyisiran,"
Kepala Seksi Humas Polres Metro Depok AKP Made Budi, dikutip pojoksatu.id dari kompas (23/12/2025).
Baca Juga: AKBP Basuki Sudah Tersangka, Namun Polisi Belum Juga Ungkap Penyebab Kematian Dwinanda Levi
Bahkan di empat sekolah lainnya yang juga menerima ancaman, hasilnya sama tidak ada bom.
Tidak ada barang berbahaya, dan tidak ada tanda bahwa pengirim email benar-benar memasang sesuatu di sekolah.
Polisi kemudian menyimpulkan bahwa ancaman ini merupakan teror digital dengan skala besar yang pada akhirnya masuk kategori hoax.
Meski begitu, polisi menegaskan bahwa kasus ini tetap diperlakukan serius karena ancaman lewat media elektronik tetap merupakan tindak kejahatan yang bisa menimbulkan kepanikan massal.
Motif pengirim email hingga kini masih ditelusuri. Berdasarkan isi email, dugaan awal mengarah pada potensi kekecewaan pribadi atau latar belakang psikologis tertentu.
Namun polisi masih mendalami apakah identitas yang muncul merupakan nama asli pelaku atau sekadar identitas palsu yang sengaja dipasang untuk mengaburkan jejak.
Baca Juga: AKBP Basuki Sudah Tersangka, Namun Polisi Belum Juga Ungkap Penyebab Kematian Dwinanda Levi
Meski tidak ditemukan bom, kasus ini memperlihatkan betapa rentannya sektor pendidikan terhadap serangan digital.
Ancaman semacam ini tidak hanya membuat geger seluruh kota
Tetapi juga mengganggu kegiatan belajar-mengajar dan membuat aparat harus mengalokasikan sumber daya untuk menangani teror yang ujungnya tidak nyata.
Baca Juga: AKBP Basuki Sudah Tersangka, Namun Polisi Belum Juga Ungkap Penyebab Kematian Dwinanda Levi
Polisi kini fokus melacak jejak digital pelaku, termasuk IP address, pola pengiriman email, hingga kemungkinan penggunaan VPN.
Pihak kepolisian juga menghimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum pasti agar tidak memperluas kepanikan.
Kasus ini menjadi pelajaran bahwa ancaman bom meski berujung hoax dapat mengguncang kota dengan cepat.
Baca Juga: Ancaman Bom ke Sekolah-sekolah di Depok Dipastikan Hoaks, Polisi Usut Pelaku Pengancaman
Di era serba digital, satu email mampu mengacaukan aktivitas ribuan orang.
Kini publik menunggu satu hal siapa sebenarnya pengirim ancaman misterius itu, dan apa motif sebenarnya di balik teror yang menghebohkan Depok?***




