POJOKSATU.ID - Setiap memasuki penghujung tahun, sejumlah wilayah di Indonesia seolah bersiap menghadapi ritual yang sama banjir musiman.
Fenomena ini bukan lagi kejutan, bukan pula kejadian langka. Setiap tahun, air bah kembali datang mengikuti pola cuaca dan meningkatnya intensitas hujan.
Namun ironisnya, meski sudah dapat diprediksi, kerusakan yang ditimbulkan tetap terus berulang.
Baca Juga: Akses Terputus, Gerakan Anak Negeri Tembus 4 Desa Terisolir di Huta Raja Tapanuli Selatan
Siklus banjir musiman terjadi karena beberapa faktor yang saling berkaitan.
Puncak musim hujan yang jatuh pada akhir tahun hingga awal tahun berikutnya menjadi penyebab utama meningkatnya volume air di sungai, kanal, dan saluran pemukiman.
Namun tingginya curah hujan hanyalah satu bagian dari puzzle besar yang membuat banjir semakin sulit dikendalikan.
Baca Juga: Universitas Terbuka jadi Kampus Pencetak PNS Terbanyak Kalahkan UGM dan Kampus Besar Lain
Di banyak daerah, sistem drainase tidak pernah benar-benar tuntas diperbaiki.
Saluran air yang seharusnya menjadi jalur utama aliran hujan justru tersumbat oleh sedimentasi dan sampah.
Saat debit air meningkat dengan cepat, drainase yang tidak optimal membuat air meluap dalam hitungan jam. Warga pun kembali harus berhadapan dengan genangan, lumpur, hingga kerusakan rumah.
Baca Juga: Alhamdulillah! BPNT Tahap 4 Masuk Warga Tasikmalaya Dapat Bantuan Rp 600 Ribu Lewat KKS BNI
Selain itu, urbanisasi pesat yang terjadi dalam dua dekade terakhir membuat ruang resapan air semakin menyusut.
Daerah yang dulunya berupa tanah terbuka kini berubah menjadi kawasan permukiman, ruko, hingga jalan berlapis beton.
Air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah kini mengalir bebas ke permukaan dan menambah beban sistem drainase.
Baca Juga: Formasi Paling Diburu! Ini Daftar Lowongan CPNS 2026 dengan Kuota Terbanyak untuk Lulusan S1
Faktor geografis juga menjadi penentu banjir musiman. Banyak kota besar berada di dataran rendah, dekat sungai besar, atau di daerah pesisir.
Ketika hujan turun bersamaan dengan pasang air laut, banjir menjadi tak terhindarkan, seperti yang terjadi di Jakarta Utara setiap tahun ketika rob dan hujan terjadi bersamaan.
Yang sering dipertanyakan warga adalah mengapa banjir tetap datang meskipun pola cuacanya sudah bisa diprediksi.
Baca Juga: Hakim MK Saldi Isra Geleng Kepala, Banjir Nyata, Kok Kepala BNPB Bilang Cuma di Medsos?
Pertanyaan itu muncul bukan dari ketidaktahuan, tetapi dari rasa lelah menghadapi bencana yang seharusnya dapat diminimalisasi.
Masyarakat berharap ada langkah sistemik, bukan sekadar penanganan darurat setiap kali bencana datang.
Upaya penanggulangan sebenarnya telah dilakukan, namun seringkali baru terlihat setelah banjir terjadi.
Pengerukan sungai, perbaikan saluran, hingga relokasi warga di daerah rawan merupakan langkah penting yang sayangnya belum menyentuh akar masalah secara menyeluruh.
Baca Juga: Sudah Daftar Internet Rakyat Tapi Belum Dipasang Teknisi? Begini Cara Agar Koneksi Cepat Nyala!
Tanpa intervensi besar dan terencana, pola banjir tahunan akan terus berulang.
Jika tidak ada perubahan signifikan dalam pengelolaan tata ruang, kebiasaan buruk membuang sampah, dan penanganan drainase, maka banjir musiman akan terus menjadi tamu tetap di setiap akhir tahun.
Masyarakat berharap agar pemerintah tidak hanya bergerak responsif, tetapi juga antisipatif, sehingga bencana tahunan ini tidak lagi menjadi tragedi berulang.***




