POJOKSATU.ID - Bendera putih berkibar di sejumlah ruas jalan di Aceh Timur sebagai simbol kondisi darurat pascabanjir yang belum juga tertangani secara maksimal.
Pemandangan memprihatinkan ini tidak hanya terlihat di jalan-jalan desa, tetapi juga di sepanjang jalur nasional Banda Aceh–Medan hingga Kabupaten Aceh Tamiang.
Aksi pengibaran bendera putih dilakukan warga sebagai bentuk keputusasaan sekaligus seruan minta tolong.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Warga menilai penyaluran bantuan berjalan lamban, sementara dampak bencana telah dirasakan hampir tiga pekan tanpa pemulihan signifikan.
“Masyarakat sudah menyerah dan benar-benar membutuhkan bantuan. Kami tidak sanggup lagi bertahan dalam kondisi seperti ini,” ujar Bahtiar, warga Desa, dikutip pojokstu.id dari kompas.com Senin (15/12/2025).
Menurut warga, banjir yang melanda wilayah mereka telah merusak rumah, lahan pertanian, serta memutus aktivitas ekonomi.
Kebutuhan pokok seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan semakin sulit dijangkau, sementara sebagian warga masih bertahan di lokasi terdampak dengan keterbatasan.
Bendera putih yang dikibarkan di pinggir jalan menjadi simbol universal tanda darurat dan kelaparan.
Aksi ini juga dimaksudkan agar pemerintah pusat dan masyarakat luas menyadari bahwa kondisi di lapangan semakin kritis.
Baca Juga: Setelah Viral, Honorer Lebak yang Tinggal di Rumah Reyot Akhirnya Dibantu Oleh Dinas Pendidikan
Juru Bicara Gerakan Rakyat Aceh Bersatu, Masri, menyebut pengibaran bendera putih merupakan bentuk tekanan moral kepada pemerintah agar segera mengambil langkah tegas.
Ia menyampaikan, warga mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menetapkan bencana yang melanda Sumatera sebagai bencana nasional.
“Bendera putih dikibarkan sebagai tanda darurat. Warga berharap pemerintah pusat dan bahkan dunia internasional turun tangan membantu Aceh,” kata Masri.
Baca Juga: DPRD Jabar Ingatkan Siswa SMK Karawang soal Ancaman Judi Online dan AI
Masri menilai, skala kerusakan dan dampak kemanusiaan yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera sudah melampaui kemampuan pemerintah daerah.
Oleh karena itu, dibutuhkan koordinasi nasional dan dukungan internasional agar proses pemulihan bisa berjalan lebih cepat dan menyeluruh.
Aksi warga ini pun menjadi sorotan luas di media sosial. Banyak warganet menyampaikan keprihatinan dan menyerukan solidaritas untuk membantu korban banjir di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya.
Baca Juga: HUT BRI ke 130 Belanja Hemat FNB dan Home Living dengan Potongan Harga hingga Rp1,3 Juta
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga tekanan psikologis dan sosial bagi masyarakat terdampak.
Di tengah keterbatasan, harapan warga kini tertuju pada kehadiran negara dan kepedulian sesama anak bangsa.
Pemerintah diharapkan segera merespons jeritan warga dengan langkah konkret, mulai dari percepatan distribusi bantuan, perbaikan infrastruktur, hingga penetapan status bencana yang memungkinkan bantuan lebih besar.
Mari bersama membantu saudara-saudara kita yang tengah menghadapi bencana banjir di berbagai wilayah Sumatera.
Uluran tangan dan solidaritas kita diharapkan dapat meringankan beban mereka yang kini berada dalam kondisi darurat.***




