Oleh: Sugeng Budiharsono

Tohaman merupakan transmigran generasi kedua di tanah Papua. Tepatnya di Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke.

Tohaman masih berumur lima tahun pada saat bertransmigrasi bersama kedua orang tuanya dan lima saudaranya.

Keluarga Tohaman bertransmigrasi ke Papua dari Tulung Agung, karena masalah  kesulitan hidup. Mereka bertekad bulat untuk hidup di tanah harapan Papua, yang jaraknya ribuan kilometer dari tanah Jawa. Perjuangan keluarga hidup di tanah Papua selama puluhan tahun telah menghasilkan buah manisnya kehidupan. 

Hidup kedua orangtuanya, Tohaman sendiri dan lima saudaranya telah berkecukupan. Inilah yang nanti mendasari dalam menjalani kehidupan Tohaman untuk berterima kasih pada tanah Papua dan penduduknya.

Selain itu sebagai orang Jawa, Tohaman tentu sangat paham dan menerapkan falsafah hifup dan kehidupan orang Jawa.

Beberapa falsafah kehidupan Jawa yang dipegangnya adalah Hamemayu Haýuning Bawomo dan Urip iku Urup. Kedua falsafah hidup Jawa tersebut artinya bahwa hidup manusia itu harus selaras/harmoni dengan sesama dan alam sekitar. Serta bahwa manusia itu agar bermanfaat bagi sesama.

Falsafah hidup seperti ini bukan hanya Jawa, tetapi hampir dimiliki oleh seluruh suku di Indonesia. Rasa terima kasih dan falsafah hidup Jawanya menjadikan seorang Tohaman peduli kepada Tanah Papua dan orang-orangnya. 

Tanah Adat

Tohaman pernah menjadi kepala kampung (kepala desa) Salor Indah, Distrik (kecamatan)  Kurik, selama dua periode pada tahun 2009 - 2021. Pada saat menjadi kepala kampung, dia banyak melihat  penjualan tanah adat kepada orang luar. 

Tohaman risau dengan fenomena tersebut. Karena apabila lahan adat dijual, maka tentu generasi mudanya tidak lagi memiliki lahan. Dan ini tentu akan berpengaruh terhadap kehidupan mereka. Penduduk lokal pada masa depan nanti tidak punya lagi lahan dan akan menyebabkan kemiskinan. Sedangkan kehidupan transmigran bertambah maju.

Kondisi ini aksn menimbulkan kesenjangan sosial ekonomi, yang dapat berujung pada konflik. Padahal selama ini sudah terjalin kehidupan yang harmoni.

Tohaman akhirnya mendekati kepala adat, yang ada di desanya maupun sekitar desanya. Dia menyarankan untuk tidak menjual tanah adat tersebut, tetapi hanya menyewakannya.

Pemilik tanah adat tidak menyewakan semua lahannya. Ada sebagian yang kemudian diusahakannya sendiri, karena belajar dari para transmigran tersebut. Sehingga para pemilik tanah adat yang merupakan orang lokal saat ini sudah dapat melakukan usaha budidaya padi dan sejahtera seperti transmigran lainnya.  

Para transmigran yang telah membeli tanah adat, tetap menjaga hubungan dengan pemilik yang lamanya. Bahkan ketika tanah tersebut sudah bersertifikat, ada yang kemudian diberikan kembali kepada pemilik lama. Juga para pemilik lahan baru ini dengan sukarela akan memberikan lahannya apabila akan digunakan untuk kepentingan publik/pemerintah.

Selain itu pada saat panen biasanya para pembeli tanah adat  melakukan syukuran dan memberikan sebagian hasil panenannya serta uang kepada pemilik tanah yang lama sebagai tali asih. Sehingga antara pemilik tanah yang dulu dan pemilik tanah yang baru masih ada hubungan yang harmoni.

Keharmonisan antara dua komunitas tersebut menyatu sebagai masyarakat transmigrasi. Kawin mawin diantara dua komunitas itu suatu hal biasa. Bahkan sejak Tohaman menjabat sebagai kepala kampung tahun 2009, dilakukan tradisi saling membantu dalam rangka merayakan hari-hari besar keagamaan mereka. 

Mata Pencaharian

Tohaman pada saat menjabat sebagai kepala kampung membuat tata ruang pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan desa. Hal ini dikarenakan tidak semua masyarakat yang ada berasal dari suku Jawa dapat melakukan budidaya padi. Kebetulan ada empat suku selain suku Jawa yang ada di desanya, yaitu Marind, Mappi, Mandobo dan Kei. 

Kelompok suku Mappi diberi bantuan usaha jala/jaring dan mesin ketingting (perahu kecil). Karena orang Mappi selama ini mata pencariannya adalah sebagai pencari ikan di rawa-rawa.

Untuk kelompok Suku Marind dan Kei, diberikan sepasang babi, karena mereka terbiasa dengan beternak babi. Sedangkan untuk suku Mandobo diberi pilihan sepasang babi atau seekor sapi.

Pemberian bantuan usaha berdasarkan mata pencaharian lama ini membuahkan hasil. Mereka akhirnya bisa sama-sama maju seperti saudara-saudara lainnya. 

Generasi Muda

Kerisauan Tohaman terhadap fenomena penjualan lahan di lokasi transmigrasi, baik lahan adat maupun lahan milik, semakin menjadi-jadi.

Setelah Kawasan Perkotaan Baru (KPB) Kawasan Transmigrasi Salor ditetapkan akan dibangun komplek perkantoran gubernur Provinsi Papua Selatan. Harga lahan langsung melejit. Siapa yang tidak tergiur dengan harga tanah yang tiba-tiba melonjak.

Tohaman, walau tidak lagi menjabat kepala kampung, hanya sebagai penasehat asosiasi antar kampung di Distrik Kurik.  Namun sebagai tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian kepada masyarakat, dia risau dengan hal tersebut.

Tohaman khawatir bahwa baik transmigran maupun orang lokal akan menjual lahannya. Oleh karena itu dia mendorong dilakukan pelatihan untuk generasi muda khususnya yang putus sekolah.

Pelatihan yang dilaksanakan adalah pelatihan perbengkelan dan operator traktor roda empat, serta pelatihan usaha. Sehingga generasi muda dapat bekerja dengan baik, dan diharapkan tidak tergiur untuk menjual lahannya. Karena kemampuan mereka hanya bisa mengolah lahan. Jadi kalau lahan tidak ada maka masa depan generasi muda dan anak cucunya akan suram. 

Tohaman berpesan apabila ada program transmigrasi lokal di Papua, dia berharap transmigrannya berasal dari pecahan KK dari lokasi-lokasi transmigrasi yang ada di Papua dan Orang Asli Papua (OAP).

Hal ini menurut Tohaman akan terjadi akulturasi, harmonisasi dan transfer pengetahuan. Sehingga terjadi percepatan kemajuan kawasan transmigrasi tersebut.

Mencari orang seperti Tohaman yang peduli dengan masyarakatnya, memang  susah.  Karena kondisi yang umum terjadi di Indonesia malah sebaliknya. Banyak orang yang diberi amanah jabatan dari kepala desa sampai kepala negara malah melakukan korupsi dan memberikan perizinan yang ujungnya menyengsarakan rakyatnya  demi berpihak kepada pengusaha.

Kondisi Indonesia sedang krisis moral, dari pemimpinnya sampai masyarakatnya. Walaupun susah mencari sosok seperti Tohaman, tapi masih banyak lainnya yang peduli dan mencintai Papua, sebagai saudara sebangsa dan setanah air Indonesia tercinta. *** 

Penulis adalah Pengamat Sosial Ekonomi dan Politik dari Komunitas Berbagi Ilmu