Oleh Hazairin Sitepu
Ia menutup usia hari Minggu pukul 09:10 Waktu Indonesia Tengah (WITA), di Makassar. Saya baru dapat kabar duka itu menjelang berbuka puasa Waktu Indonesia Barat (WIB) di Bogor.
Muhammad Rapsel Ali. Pengusaha tangguh asal Selayar, Sulawesi Selatan. Anggota Komisi VI DPR RI. Menantu Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin. Usianya masih tergolong muda: 54 tahun.
Dua bulan lalu saya bertemu Rapsel di rumah pribadinya di Bintaro, Tangerang. Itu setelah menghadiri pesta pernikahannya dengan Siti Nur Azizah Ma'ruf empat tahun lalu. Nur Azizah adalah putri keempat KH Ma’ruf Amin, wakil presiden RI.
Ketika akan menikah, Rafsel memberi tahu saya. Beberapa hari berikutnya dia mengundang saya, melalui pesan WatsApp, untuk menghadiri pesta pernikahannya di Bogor.
Menikah dengan Nur Azizah setelah lama bercerai dengan Deniary Alwi Hamu, pemilik Harian Fajar dan puluhan media di Indonesia Timur. Dan Alwi Hamu, dalam undangan pernikahan Rafsel dengan Nur Azizah, bahkan bertindak sebagai pengundang.
Rapsel sudah berbisnis sejak usia sangat muda. Ia kemudian masuk partai politik, lalu menjadi anggota DPR RI partai Nasdem dari Daerah Pemilihan (Dapil) di Sulawesi Selatan. Sampai akhir hayatnya, Rapsel masih sebagai anggota DPR RI di Komisi VI.
Ketika Rapsel menjadi pengusaha muda di Makassar, juga sebagai menantu Pak Alwi Hamu, saya wakil pemimpin redaksi Harian Fajar, koran milik Pak Alwi Hamu.
Ada hal dari Rapsel yang membuat saya harus mengeritik dia di koran milik mertuanya itu. Rapsel tidak marah. Kalau marah, mungkin dalam hati. Pak Alwi juga mungkin marah dalam hati saja. Karena Rapsel, juga Pak Alwi, tau kalau saya wartawan. Salah satu tugas saya memang mengeritik. Siapa saja. Termasuk Rapsel atau pun Pak Alwi.
Hari-hari setelah mengeritik, saya menunggu teguran dari Pak Alwi. Saya harus siap dengan resiko diberi sanksi. Diberhentikan sekali pun, saya sudah siap.
Tetapi sampai bertahun-tahun kemudian, tidak ada teguran samasekali. Saya malah naik pangkat menjadi penanggung jawab redaksi. Kemudian menjadi wakil direktur.
Saya lalu dipromosikan menjadi direktur utama di perusahaan itu, ketika saya memutuskan akan pindah ke Bogor. “Kamu itu sudah saya rencanakan menjadi direktur utama di sini,” kata Pak Alwi Hamu waktu itu. Tetapi saya teguh dengan keputusan pindah ke Bogor.
Selama di Bogor, Rapsel dan Pak Alwi, adalah dua orang yang terus mengikat hati saya dengan mereka. Dengan keluarga besar Pak Alwi.
Ketika di Makassar, Rapsel memanggil saya dengan sebutan Kakak. Belakangan dia memanggil saya dengan sebutan Abang. Termasuk ketika saya bertemu dia dua bulan lalu.
Dan saya akhirnya bilang bahwa tidak terbukti ada kemarahan, baik terbuka maupun dalam hati, dari Rapsel maupun Pak Alwi dari berita yang saya muat di halaman satu Harian Fajar itu.
Rapsel meninggal dunia dalam perjalanan dari rumahnya ke RS Grestelina Makassar, beberapa saat setelah ia dilarikan ke rumah sakit itu.
Selamat jalan Rapsel. Semoga Allah memasukkan mu ke barisan orang-orang saleh.
Innaalillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun. (hs)



