Oleh: Sugeng Budiharsono dan Lalu Niqman Zahir

Pada film animasi "Avatar: The Legend of Aang", ada empat pengendali unsur alam, yaitu air, tanah, api, dan udara. Masing-masing pengendali unsur alam tersebut tentu memiliki kehebatannya. Ozai, Raja Api, dan pengendali api memanfaatkan kehebatannya untuk menguasai dunia dengan cara kekerasan. Namun niat tersebut dihentikan oleh Aang si pengendali udara terakhir.

Pengendalian unsur alam tersebut bukan hanya dalam film tapi di dunia nyata.  Di zaman dulu tentu apabila suatu negara dapat menguasai domain konvensional,  yang terdiri dari mitra darat, udara, dan air (lsut) yang tangguh, maka dapat menguasai wilayah yang luas. Suatu negara akan hebat apabila daoat menguasai ketiga unsur tersebut, apalagi bila memiliki sifat ekspansionis.

Di era Revolusi Industri (Industri) 4 0, bahkan 5.0 kemampuan suatu negara bukan hanya menguasai domain konvensional, tapi juga domain ruang angkasa, dan siber (cyber). Ketiga domain tersebut dapat dikuasai negara apabila negara tersebut sebagai pengendali geoteknologi. Dan bila suatu negara dapat mengendalikan tiga domain, maka akan menguasai dunia (Bhutani, 2019).

Dari Geopolitik ke Geoekonomi menuju Geoteknologi

Geopolitik mungkin sudah dilaksanakan sejak manusia berbudaya dan bersuku-suku bangsa. Hal dapat diketahui bahwa suku melakukan penyerangam terhadap suku lainnya untuk menguasai sumber daya alam dan manusianya. Namun secara konsep, geopolitik baru muncul di era Yunani kuno.

Di era modern konsep geopolitik muncul di abad akhir abad 19. Friedrich Ratzel, Rudolf Kjellen dan Karl Haushoffer merupakan pemikir awal tentang geopolitik. Namun sesungguhnya jauh sebelum abad 19, yaitu abad 7, Islam sudah memformulasikan konsep geopolitik. Dalam hukum Islam klasik dunia dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Dasrul Islam (negara Islam), Daarul Shulh, yaitu negara yang  memiliki perjanjian damai dengan dengan negara Islam, dan Daarul Harb, adalah negara yang belum memiliki perjanjian damai dengan negara Islam 

Pemikiran geopolitik modern yang dimulai Ratzel di Jerman, Mackinder di Inggeris, dan Mahan di Amerika Serikat telah memberikan orientasi ilmiah pada konsep geopolitik. Geopolitik atau dengan kata lain politik kekuatan internasional yang bergantung pada aspek utama yaitu: ruang (wilayah, sumber daya, teknologi, dan lokasi strategis),  statecraft, dan  kekuatan, terutama kekuatan militer (Dodds, 2007, dan Bhutani, 2009).

Perkembangan konsep geopolitik berkembang pesat pada saat Perang Dunia ke-I, ke-II, dan Perang Dingin.  Setelah Perang Dingin, yaitu setelah pecahnya Uni Sovyet pada tahun 1991, telah ada perubahan dari kekuatan militer ke kekuatkan ekonomi. Hal ini dikarenakan telah perubahan lanskap global dan penurunan tensi konflik militer, yang merupakan pendorong utama hubungan internasional.

Berakhirnya Perang Dingin dan munculnya globalisasi menyebabkan penekanan yang lebih besar pada kekuatan ekonomi dan persaingan, yang mendorong Luttwak dan yang lainnya untuk mengevaluasi kembali peran ekonomi dalam statecraft dan hubungan internasional (Huzen, 2019; Shahzad, 2022).

Konsep geoekonomi pertama kali dikemukakan oleh Edward Luttwak (1990) dalam artikelnya yang berjudul "From Geopolitics to Geo-economics: Logic of Conflict, Grammar of Commerce.  Luttwak (2021) mendefinisikan ulang geoekonomi sebagai gabungan dari investasi, produksi, perdagangan internasional, dan teknologi.

Menurut Luttwak, China merupakan negara yang mempraktikan geoekonomi. Definisi geoekonomi telah berkembang sejak tahun 1990-an. Antara lain geoekonomi merupakan studi tentang aspek spasial, temporal,  politik  ekonomi dan sumber daya.  Lainnya mendefinisikan geoekonomi sebagai penerapan kekuatan ekonomi (economic statexraft) untuk mencapai tujuan geopolitik.

Pada perjalanannya konsep geoekonomi bersentuhan dengan Revolusi Industri 4 0. bahkan 5.0. Teknologi digital telah mengubah peperangan modern dan ekonomi secara radikal. Sehingga terjadi pergeseran dari geoekonomi menjadi geoteknologi.

Menurut alam lanskap hubungan ekonomi internasional yang dinamis dan kompleks, abad ke-21 dapat menyaksikan pergeseran transformatif dalam pemikiran strategis dari geopolitik dan geoekonomi tradisional ke ranah baru geoteknologi, dari analog dan geografis menuju digital dan abstrak di tengah gangguan ekonomi yang akan datang yang diwakili oleh Revolusi Industri 4.0 (Nedelcu, 2024).

Pergeseran dari geoekonomi ke geoteknologi menandakan pergeseran fokus dari penggunaan kekuatan ekonomi untuk mencapai tujuan geopolitik ke penekanan peran kemajuan teknologi dalam membentuk tatanan global. Geoekonomi, yang dicirikan oleh penggunaan perangkat dan strategi ekonomi untuk keuntungan politik, semakin dilengkapi dan, dalam beberapa perspektif, digantikan oleh geoteknologi, yang menyoroti bagaimana difusi teknologi, inovasi, dan penerapannya oleh berbagai aktor memengaruhi dinamika kekuatan global.

Keunggulan Geoteknologi Mengubah Geopolitik

Keunggulan geoteknologi Iran telah mengubah peta geopolitik Timur Tengah. Selama bertahun-tahun sejak Iran dikenai sanksi internasional yang ketat sejak 2006, Iran telah mengembangkan kemampuan geoteknologinya secara mandiri. Unjuk kerja kemampuan geoteknologinya menemukan momentumnya, ketika Israel tanpa alasan yang jelas menyerang tiga lokasi pengeyaan nuklir di Iran pada Jumat 13/06/2025, Iran memandang Israel sebagai negara agresor yang menyerang negara berdaulat. Hal itu jelas melanggar piagam PBB dan hukum internasional, dan Iran berhak untuk membakasnya, Pembalasan Iran yang disertai dengan saling serang dengan Israel; hanya berlangsung 12 hari.

Iran membalas Israel dengan menggunakan rudal hipersonik, rudal balistik, sampai rudal berjoget (dancing missile) yang dapat menembus pertahanan udara yang berlapis-lapis dan merupakan salah satu pertahanan udara terbaik di dunia. Akibatnya kota-kota utama di Israel, seperti Tel Aviv, Haifa dan Beersheba luluh lantak.

Amerika Serikat akhirnya terjun membela Israel dengan mengebom 3 fasilitas nuklir di Iran, yaitu Isfahan, Natanz, dan Fordow pada Ahad (22/06). Walaupun beberapa pengamat militer, seperti Scott Ritter, menyatakan bahwa pengeboman 3 fasilitas nuklir tersebut hanya drama. Hal ini dikarenakan, beberapa hari sebelum pengeboman banyak truk keluar masuk fasilitas nuklir, khususnya Fordow. Aktivitas itu diduga sebagai penyelamatan hasil pengayaan uranium, ke tempat yang dirahasiakan.

Fakta lainnya adalah bahwa setelah penyerangan fasilitas nuklir tersebut adalah tidak adanya laporan terjadinya paparan radiasi di daerah sekitar fasilitas nuklir tersrbut. Hal ini menunjukkan, bahwa walaupun Ametika Serikat menggunakan bom GBU 57 A/B MOP dan 30 Tomakawk, tidak betul-betul mengenainya, Karena Amerika Serikat menyadari berperang dengan Iran yang tangguh hanya menguras sumber daya yang akan saemakin membebani perekonomian. Selain itu Iran masih dapat diandalkan sebagai mitra strategis di Timur Tengah seperti pada waktu-waktu sebelumnya.  

Pembalasan Iran dilakukan ke Amerika Serikat salah satunya ke pangkalan AS di Qatar, tapi pesawat tempur dan kapal perangnya sudah dipindahkan terlebih dahulu. Jadi dugaan adanya drama perang Iran Amerika Serikat semakin nyata karena Iran menyadari berperang dengan Amerika Serikat sulit untuk menang. Amerika Serikat merupakan pengendali geoteknologi paling kuat dunia, yang mengendalikan domain konvensional (darat, laut, dan udara), domain luar angkasa, dan domain siber/teknologi digital.

Kemurkaan Iran kepada Amerika Serikat ditumpahkan kepada Israel yang sudah menjadi bebek lumpuh. Serangan yang bertubi-tubi dari Iran, membuat Israel hancur lebur. Israel akhirnya "menyerah" dan terjadi gencatan senjata, Hanya 12 hari mampu mengalahkan Israel yang telah mendominasi geopolitik Timur Tengah selama hampir delapan dekade sejak tahun 1948. Hal ini membuktikan bahwa keunggulan geotelnologi suatu negara dapat mengubah wajah geopolitik suatu kawasan bahkan dunia.

Iran telah menunjukkan kemampuan pengembangan geoteknologinya. Dalam kondisi dikenai sanksi Internasional. Kemampuan pengembangan geoteknologi Iran disebabkan oleh kemauan rakyatnya untuk maju dan mandiri, kompetensi sumber daya manusianya, khususnya para peneliti dan akademisinya, dan lembaga penelitian dan perguruan tingginya untuk selalu menghasilkan invensi dan inovasi.

Indonesia dapat mencontoh Iran dalam pengembangan geoteknologi untuk peningkatan kemampuan militer dan ekonomi secara berdikari agar menjadi negara maju dan disegani di kancah internasional. Namun selama para paneliti dan akademisinya asyik berpoltik dan lembaga penelitian dan perguruan tingginya lebih peduli menghasilkan artikel daripada invensi dan inovasi, maka keunggulan geoteknologi Indonesia mustahil terwujud. ***

Penulis adalah pendiri dan peneliti senior NAISD