Oleh: Dahlan Iskan
"Jangan lagi hanya berorientasi ke Corpus. Kita malu dengan sopir taksi".
Maksudnya: doktor dan guru besar jangan hanya berlomba bikin karya tulis untuk dipublikasikan di jurnal.
Bikinlah karya nyata. Sekecil apa pun. Lebih tegasnya lagi: kejarlah paten. Jangan kejar jurnal.
Baca Juga: Sering Ditemui Prabowo Mau Dijadikan Ketua Tim Pemenangan, Khofifah Ternyata Belum Beri Kepastian
Yang mengatakan itu tamu saya Sabtu lalu. Ia sendiri sudah punya lebih dari 40 paten.
"Paten itu tidak harus laku. Tidak harus langsung bisa dilaksanakan. Paten itu aset. Seperti punya tanah. Lama-lama sangat berharga," katanya.
Namanya: Felix Pasila. Lulusan elektro ITS (Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya).
Baca Juga: 7 Trik Ampuh Menyelamatkan Smartphone yang Basah, Nomor 7 Sering Salah!
Masternya di Jerman. Di bidang automation. Doktornya di Bologna, Italia. Di bidang artificial intelligence (AI).
Menjelang mendapat gelar doktor Felix kembali ke Indonesia. Tahun 2013.
Dari bandara Juanda ia naik taksi. Di perjalanan ia ngobrol dengan sopir.
Baca Juga: Heboh! Irene Red Velvet Ikut Konser SMTOWN Live 2023 Di Jakarta walau Sedang Sakit
"Apakah penghasilan dari taksi cukup untuk hidup?"
"Saya punya pekerjaan sampingan".
"Apa?"
"Servis kipas angin".
"Bapak lulusan apa?"
"Hanya sampai kelas 5 SD".
Baca Juga: Yuki Kato Hadiri Pemeriksaan Bareskrim Polri Terkait Dugaan Promosi Judi Online
"Dari mana mendapat ilmu sampai bisa memperbaiki kipas angin?"
"Belajar dari YouTube. Sambil menunggu penumpang saya belajar itu".
"Kerjanya malam?"
Baca Juga: Berbahaya! 5 Makanan yang Tidak Boleh Dihangatkan Kembali, Sebabkan Dampak Buruk untuk Kesehatan
"Saya ajari anak-anak muda di kampung. Mereka sudah bisa. Sekarang ada 20 anak yang bekerja di tempat saya".
Dialog dengan sopir taksi itu menyadarkan Felix habis-habisan. Dari situ ia berubah pikiran.
"Lulusan kelas 5 SD saja bisa berkarya. Saya ini calon doktor. Tidak boleh kalah," kata Felix.
Baca Juga: Inilah 4 Jenis Parfum dengan Aroma Ketahanan yang Berbeda! Mana yang Akan Kamu Pilih?
Kembali ke Bologna Felix tidak hanya menyelesaikan doktornya.
Ia juga terus memikirkan apa yang harus dilakukan agar tidak kalah dengan lulusan kelas 5 SD.
Maka ia putuskan: bikin 'Rumah Pasila'. Diambil dari nama belakangnya: Felix Pasila.
Pasila adalah marga di Toraja. Felix orang Toraja yang lahir di Kendari. Ayahnya bekerja di Kendari.
Kini umurnya 49 tahun. Ia ingin Indonesia bisa mengejar ketinggalan di bidang paten.
"Kita hanya punya 15.000 paten setiap tahun," katanya.
Baca Juga: Anies Baswedan Seolah Menyindir, Negara Tak Boleh Berhitung Untung Rugi dengan Rakyat
"Tiongkok punya 1 juta paten setahun," tambahnya.
Dengan satu juta paten itu kini Tiongkok sudah mengalahkan Amerika. Di AS lahir 600.000 paten setahun.
Dulunya Amerika selalu unggul. Selama puluhan tahun. Belakangan bisa dikejar.
Baca Juga: Berkunjung ke Sejumlah Pesantren di Jawa Timur, Mahfud MD Sebut Tak Terkait Musim Cawapres
"Saya ingin Indonesia bisa segera mencapai angka 100.000 paten/tahun," ujar Felix.
Caranya?
"Para doktor dan guru besar berubah orientasi. Jangan hanya mengejar jurnal," katanya.
Lalu Felix membangun 'Rumah Pasila' itu. Ia membangun aplikasi untuk siapa saja yang ingin melahirkan dan mengejar paten.
Baca Juga: Berikut Profil Yuki Kato, Aktris Berbakat yang Diam-diam Diperiksa Bareskrim Polri
Rumah Pasila adalah marketplace untuk paten.
Kalau keinginan Felix itu terwujud berarti instansi yang memproses paten juga harus siap.
Angka itu berarti lebih 8 kali lipat dari sekarang. Kalau tidak ada perubahan, prosesnya bisa sangat lama.
Salah satu paten milik Felix adalah aplikasi yang dipasang di toilet. Khususnya di tempat kencing.
Baca Juga: Jalani Pemeriksaan selama Empat Jam dengan 23 Pertanyaan di Bareskrim, Ini Penjelasan Yuki Kato
Dari aplikasi itu akan ketahuan tingkat kekeruhan dan kandungan mineral si pengguna urinoir.
Ketahuan juga hal-hal lainnya. Misalnya narkoba.
Aplikasi itu bisa dipasang di toilet-toilet tambang. Atau di perusahaan tertentu.
Baca Juga: Heboh Perseteruan Antar Food Vlogger, Nikita Mirzani Bilang Begini
Penyakit pekerja akan diketahui. Juga bila kurang minum.
Atau malamnya mereka banyak minum alkohol yang membahayakan operasional alat tambang.
Felix juga punya paten agar cat mobil bisa sekaligus sebagai panel tenaga surya.
Baca Juga: Brunei Catat Rekor, Indonesia Peringkat 8, Ini Klasemen Terbaru Medali Asian Games 2022
Waktu menemukan ide itu Felix minta timnya, mahasiswa kimia, untuk mengujinya.
"Memang hasilnya tidak sebesar panel surya. Tapi bisa 80 persennya," katanya.
Baca Juga: KPK Bakal Panggil Adik Pendiri Wilmar Group Martua Sitorus Terkait Kasus Rafael Alun Trisambodo
Dari sekian banyak patennya itu sudah ada yang dibeli orang Myanmar.
Sebenarnya ia orang Indonesia. Kawin dengan ratu kecantikan di sana. Anak pengusaha besar.
Felix sendiri beristri wanita Toraja. Waktu ambil S-2 di Bremen, sang istri diajak serta. Ikut kuliah di sana. Hamil.
Saat dekat melahirkan dia pulang.
"Kalau melahirkan di Jerman takut urusannya ruwet," kata Felix.
Ketika Felix ambil doktor di Bologna, sang istri meneruskan kuliah di Bremen. Lalu menyusul ke Bologna.
Hamil lagi. Kali ini berani melahirkan di Bologna.
"Anak kedua itu saya beri nama Santo Egidio," katanya.
Itu diambil dari nama jalan di depan rumah yang ditempati Felix di Bologna.



