Oleh: Sugeng Budiharsono

POJOKSATU.id - Pelayaran perdana dari Batam langsung ke Pelabuhan Yangpu, Hainan, pada bulan Agustus 2025 menandai babak baru rute pelayaran dari Indonesia ke China.

Selama ini, pelayaran dari Indonesia ke China harus melalui Singapura.

Hal ini membawa konsekuensi kerugian bagi Indonesia, terutama soal ketergantungan, waktu tempuh yang lebih lama, dan peningkatan biaya.

Dampak positif yang signifikan dengan adanya rute pelayaran langsung tersebut terhadap pembangunan ekonomi Indonesia:

1. Efisiensi rantai pasok dan biaya logistik. Rute langsung ini memotong waktu transit dan menurunkan biaya logistik secara substansial, yang sebelumnya melibatkan ketergantungan pada Singapura sebagai pusat transshipment regional.

Kondisi ini akan membuat ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar China dan sekitarnya;

2. Akses pasar yang lebih cepat, lebih murah, dan pasar yang lebih luas, baik di pasar China maupun Amerika Utara dan Selatan;

3. Peningkatan volume perdagangan. Dengan adanya kemudahan logistik ini, volume perdagangan bilateral antara Indonesia dan China diperkirakan akan meningkat. China telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama satu dekade terakhir;

4. Diversifikasi rute perdagangan. Koridor baru Batam–Yangpu membantu mendiversifikasi rute perdagangan Indonesia, meningkatkan ketahanan rantai pasok, dan mengurangi ketergantungan terhadap Singapura;

5. Pengembangan hub logistik Batam. Batam diposisikan sebagai pusat kargo dan tujuan investasi asing langsung yang lebih penting dalam jaringan perdagangan intra-regional dan inter-regional, melengkapi peran Singapura sebagai hub maritim utama; dan

6. Peluang investasi dan pengembangan industri serta sektor terkait lainnya, baik sektor pertanian maupun jasa.

Rute ini membuka peluang sinergi baru, khususnya dalam pengembangan industri dan sektor terkait seperti pertanian dan jasa di Barelang, Bintan, Karimun, dan wilayah Provinsi Kepulauan Riau lainnya, pantai timur Pulau Sumatera, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat (segitiga SUPER BAKAL).

Sehingga akan mempercepat pembangunan wilayah di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Pembukaan rute baru ini merupakan momentum yang sangat baik bagi penguatan perdagangan Indonesia, yang saat ini mendapatkan tekanan berat dari Amerika Serikat.

Rute baru ini akan membawa dampak percepatan pembangunan wilayah di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, serta diharapkan memperkuat perekonomian dan posisi geopolitik serta geoekonomi Indonesia.

Selain pelayaran perdana dengan rute langsung ke Yangpu, pada tanggal 18 Desember 2025, PT PAL meluncurkan fregat Merah Putih besar, KRI Balaputradewa.

Nama Balaputradewa yang disematkan pada KRI tersebut merujuk kepada Maharaja Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-9 Masehi.

Balaputradewa telah membawa Sriwijaya ke puncak keemasannya sebagai kekuatan maritim dan pusat perdagangan dunia.

Pada masa itu, Sriwijaya menguasai jalur perdagangan penting seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Karimata, memaksa pelayaran dari Timur ke Barat melewati wilayahnya.

Jaringan perdagangannya tidak hanya menguasai ASEAN, tetapi juga menjangkau India, Timur Tengah, Madagaskar, dan pantai Afrika Timur.

Balaputradewa bukan satu-satunya penguasa maritim Nusantara. Pada abad ke-13 ada Raja Kertanegara dari Singasari dengan Ekspedisi Pamalayu.

Maharaja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 mengulangi kejayaan Sriwijaya. Juga ada Pati Unus yang ofensif dari Kerajaan Demak.

DNA penguasa maritim telah ada sejak zaman dahulu kala, tergambar pada relief kapal-kapal besar di Candi Borobudur.

Kapal layar bercadik ganda yang canggih untuk pelayaran jarak jauh tersebut membuktikan bahwa bangsa Indonesia telah ahli membuat kapal dan berdagang lintas samudra.

Dua peristiwa tersebut merupakan momentum awal kembalinya Indonesia sebagai pemain utama dalam perdagangan maritim dunia.

Penamaan Balaputradewa pada fregat tersebut menandakan bahwa Indonesia siap menjadi petarung dan berusaha mengembalikan DNA penguasa maritim dunia.

Ditambah dengan rute pelayaran baru Batam–Yangpu tanpa melalui Singapura, perdagangan maritim Indonesia akan semakin kuat.

Head to Head Batam vs Singapura

Pemilihan rute baru Batam–Yangpu oleh China merupakan unjuk kekuatan geopolitik dan geoekonomi China di hadapan proxy Amerika Serikat, yakni Singapura.

Bagi Singapura, Batam bukanlah lawan yang seimbang, bahkan dianggap sebagai anak bawang.

Pelayaran langsung dari Batam hanya dipandang sebagai pelengkap, bukan pesaing utama.

Hal ini disebabkan kapasitas pelabuhan Batam masih jauh tertinggal dibandingkan dengan infrastruktur Singapura yang canggih dan serba otomatis seperti Tuas Mega Port.

Tuas Mega Port adalah mega proyek strategis Singapura untuk membangun pelabuhan peti kemas otomatis terbesar dan tercanggih di dunia, yang mengonsolidasikan seluruh operasi pelabuhan ke satu lokasi demi efisiensi maksimal.

Pelabuhan ini ditargetkan memiliki kapasitas 65 juta TEU per tahun saat selesai sepenuhnya pada 2040-an, mengandalkan teknologi AI, robotik, dan otomatisasi penuh untuk memperkuat posisi Singapura sebagai hub logistik global.

Bandingkan dengan kapasitas Pelabuhan Peti Kemas Batu Ampar yang hanya sebesar 550.000 TEU dan baru akan ditingkatkan menjadi 900.000 TEU per tahun, dengan pembangunan Container Yard (CY) seluas 12 hektare untuk mendukung peningkatan ini.

Secara pemikiran linier, memang sulit mengejar ketertinggalan Singapura saat ini.

Namun, dengan dijadikannya Batam sebagai pelabuhan langsung ke Yangpu, tidak tertutup kemungkinan perkembangan Batam akan bersifat eksponensial.

Pemerintah diharapkan dapat merayu anggota BRICS selain China, seperti UEA, Arab Saudi, dan Rusia, agar berinvestasi untuk meningkatkan kapasitas pelabuhan peti kemas Batam serta pembangunan industri di segitiga SUPER BAKAL.

Dengan berkembangnya segitiga SUPER BAKAL, kebutuhan peningkatan kapasitas pelabuhan Batam akan semakin besar.

Sehingga pada tahun 2045, Batam berpeluang menjadi pesaing kuat Singapura.

Berikutnya Bitung?

Berkembangnya segitiga SUPER BAKAL di bagian barat Indonesia perlu diimbangi dengan pengembangan wilayah timur agar ketimpangan antarwilayah tidak semakin melebar.

Setelah pembenahan selama 5–10 tahun di Batam sebagai pelabuhan utama, perlu dipikirkan pengembangan Pelabuhan Bitung sebagai pelabuhan yang dapat melayani pelayaran langsung ke Yangpu.

Hal ini akan merangsang pertumbuhan ekonomi di Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua.

Wilayah timur Indonesia yang kaya sumber daya mineral, perkebunan, dan perikanan akan mempercepat perkembangan hilirisasi dan industrialisasi.

Menguatnya struktur perekonomian wilayah timur akibat dibukanya pelayaran langsung dari Bitung tidak hanya memperkecil ketimpangan antarwilayah, tetapi juga memperkuat struktur perekonomian nasional.

Menguatnya perekonomian nasional secara merata akan menjadikan Indonesia raksasa baru ekonomi dunia, sekaligus meningkatkan posisi geopolitik dan geoekonomi Indonesia.

Hal ini akan mengembalikan Indonesia sebagai penguasa maritim dunia.

Agar pamor tersebut kembali bersinar, suksesor Prabowo harus memiliki political savvy, jiwa kepemimpinan yang kuat, keahlian geostrategi, serta mampu mengimplementasikannya dengan baik di dunia multipolar yang serba tidak menentu.

Bukan yang planga-plongo, apalagi tidak jelas sekolahnya.

*) Peneliti Senior dan Pendiri Geoeconomics Assessment Institute of Nusantara (GAIN)