Oleh: Sugeng Budiharsono dan Lalu Niqman Zahir
Modal manusia dapat didefinisikan sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang diakumulasikan individu dari waktu ke waktu. Ini berkisar dari kompetensi dasar hingga bentuk pengetahuan yang lebih canggih, modal manusia menengah dan atas (Capwlli. Ridolfi, Vasta. 2023). Istilah modal manusia pertama kali dikemukakan oleh Itving Fisher dalsm artikelnya "Senses of Capital" (1897).
Pentingnya peran modal manusia dalam pembangunan, khususnya pertumbuhan ekonomi, bukan hanya sejak istilah modal manusia dikemukakan oleh Fisher, namun jauh sebelumnya, yaitu sejak Adam Smith [1776). Bahkan jauh sebelum itu, yaitu sejak jaman Plato dan Aristoteles. Adam Smith, Plato dan Aristoteles tidak secara eksplisit menyatakan hubungan antara modal manusia dan pertumbuhan ekonomi.
Pada tulisan ini diuraikan tentang kualitas manusia Indonesia. Indikator yang digunakan adalah rata-rata lama sekolah, IQ, HDI dan HCI. Pada tulisan ini kualitas manusia Indonesia dibandingkan dengan negara-negara, sehingga akan diketahui posisi relatif Indonesia. Lebih lanjut akan dapat diprediksi tingkat daya saing, posisi geopolitik, geoekonomi, dan geoteknologi,
Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan IQ
RLS penduduk usia di atas 15 tahun pada tahun 2024 secara nasional mencapai 9,22 tahun, atau setara dengan kelas 2 SMP. RLS di wilayah perdesaan lebih rendah daripada di perkotaan, yaitu masing-masing mencapai 7,97 tahun, dan 10,08 tahun. Penyebab rendahnya RLS tersebut yaitu masih banyak penduduk yang tidak atau belum bersekolah (8,96 juta orang atau 4,29%), tidak tamat SD (10,3 juta orang atau 4,94%), tamat SD (49,2 juta orang atau 23,55%), tamat SMP (41,6 juta orang atau 19 90%), dan tamat SMA (71,3 juta orang atau 34,12%). Sedangkan untuk lulusan diploma dan S1 ke atas hanya 26,6 juta orang atau 8,20% (BPS, 2025).
Dalam hal RLS, Indonesia setaraf dengan Brunei dan Thsiland yang mencapai sekitar 9 tahun, dan masih lebih baik dari Vietnam yang baru mencapai angka sekitar 8 tahun. Namun bila dibandingkan dengan Filipina, dan Malaysia masih jauh lebih rendah yang masing-masing telah mencapai sekitar 10 tahun, dan 11 tahun (World Economics, 2025).
Berdasarkan iqfreetests.com, rata-rata IQ orang-orang Indonesia pada tahun 2025 hanya mencapai 84. Skor IQ tersebut tergolong pada kategori rendah, dan nilainya jauh di bawah negara-negara tetangganya misalnya Thailand (90), Malaysia (93), Vietnam (102), Singapura (113), dan China (113). Namun pada website ini tidak diketahui jumlah partisipan yang mengikuti tes IQ dari masing-masing negara.
Pada webdite international-iq-test.com, selain skor IQ juga ada jumlah partisipan yang mengikuti tes IQ pada masing-masing negara. Rata-rata skor IQ Indonesia sebesar 93,18 dengan jumlah partisipan 150.041 orang, masih di bawah Kamboja (skor 93,97, partisipan 1 001 orang), Myanmar (skor 97,37, partisipan 1.498 orang), Malaysia (skor 100,48, partisipan 19.338 orang), Thailand (skor 101,52, partisipan 22.525 orang), Singapura (skor 105,14, partisipan 5 159 orang), dan China 107,19, partisipan 206.994 orang). Dari kedua website tersebut menunjukkan bahwa IQ bangsa Indonesia masih yang terendah dibandingkan dengan negara-negara tetangganya.
HDI dan HCI
RLS dan IQ nerupakan indicator tunggal dalam mengukur kualitas manusia. Selain itu ada beberapa indeks komposit yang sering digunakan, yang terdiri dari beberapa dimensi, antara lain adalah Indeks Pembangunan Manusia (Human Developmen Index-HDI) dari UNDP dan Indeks Modal Manusia (Human Capital Index-HCI) dari World Bank. HDI dan HCI adalah dua indeks yang berbeda dalam mengukur pembangunan manusis, meskipun keduanya berkaitan dengan aspek manusia. HDI lebih berfokus pada tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup secara umum, sedangkan HCI lebih menekankan pada potensi produktivitas individu dan kontribusi mereka terhadap ekonomi.
Sebenarnya ada satu indeks komposit lainnya yang memiliki dimensi lebih lengkap yaitu Indeks Keamanan Manusia (Human Security Indeks-HSI). HSI terdiri dari sembilan dimensi yaitu: keamanan pribadi, keamanan ekonomi, keamanan pangan, keamanan kesehatan, keamanan teknologi, keamanan politik, keamanan ontologis, keamanan lingkungan, dan keamanan komunitas. HSI bertujuan untuk mengkarakterisasi keamanan individu atau kelompok di rumah, desa, negara, dan dunia untuk menjamin setiap individu diperlakukan dengan baik dalam sembilan dimensi tersebut (Abelio Colek et al., 2025).
Pada HDI 2025, kondisi Indonesia tergolong tinggi (skor 0,728), bersama China (skor 0,797), Vietnam (skor 0,766), dan Filipina (skor 0,720). Sedangkan Malaysia tergolong pada kelompok yang sangar tinggi (skor 0,819), demikian juga dengan Singapura (skor 0,946)
Indeks Pendidikan (IP) merupakan salah satu komponen dari HDI. Pada tahun 2025 kata diupdate 19 Mei 2025), nilai IP Indonesia menapai 0,68 yang berada pada peringkat 110 dari 193 negara. Nilai IP sebesar itu berada pada kategori pendidikan yang moderat (0,6-0,7). Nilai IP tersebut masih berada di bawah Brunei (skor 0,69, peringkat 103), China (skor 0,69 peringkat 101), Malaysia (skor 0,72, peringkat 89), Thailanf (skor 0,73, peringkat 84), dan Singapura (skor 0,87, peringkat 30). Namun peringkat Indonesia masih lebih baik dibandingksn dengan Filipina (skor 0,66, peringkat 116), dan Vietnam (skor 0,65, peringkat 120).
HCI terakhir yang diterbitkan oleh Bank Dunia pada tahun 2020. Pada 2020 Indonesia menduduki peringkat ke-96 dari 173 negara dengan skor 0.54. Peringkat Indonesia jauh di bawah negara-negara tetangganya, seperti Singapura (peringkat ke-1, skor 0,88), Vietnam (peringkat 38, skor 0,69), China (peringkat 45, skor 0,65), Brunei (peringkat 56, skor 0,63), Malaysia (peringkat 62, skor 0,61), dan Thailand (peringkat 63, skor 0,61). Kondisi tersebut menunjukkan kualitas modal manusia Indonesia pada generasi mendatang sungguh menyedihkan. Bagaimana Indonesia Emas pada tahun 2045 dapat dicapai kalau kualitas modal manusia generasi mendatang seperti itu. Asal jangan alih-alih Indonesia Emas, malah tinggal kandas.
Pemerintah Indonesia perlu menginvestasikan untuk pengembangan sumber daya manusianya untuk generasi mendatang dengan sungguh- sungguh. Gary Brcker (1964) dalam bukunya yang berjudul "Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis", menekankan pentingnya investasi modal manusia melalui pendidikan dan pelatihan, khususnya on-the-job training. Investasi modal manusia mirip dengan investasi dalam modal fisik, mempengaruhi produktivitas dan pendapatan individu .
Brcker meneliti bagaimana investasi dalam pendidikan dan pelatihan, mirip dengan investasi dalam modal fisik, memengaruhi produktivitas dan pendapatan individu.
He examines how investments in education and training, similar to investments in physical capital, affect individual productivity and earnings. Brcker mengeksplorasi bagaimana investasi dalam pendidikan dan pelatihan, mirip dengan investasi dalam modal fisik, memengaruhi produktivitas dan pendapatan individu, masyarakat, juga negara. Kompetensi modal manusia akan menperngaruhi invensi dan inovasi baru yang dihasilkan yang lebih lanjut akan menpengaruhi daya saing.
Di Era Industri 4.0, bahkan Industri 5.0, kualitas manusia yang tinggi merupakan suatu keniscayaan. Namun dari seluruh indikator di atas, secara keseluruhan kualitas manusia Indonesia jauh di bawah negara-negara tetangga. Padahal kualitas manusia yang rendah akan mempengaruhi inovasi dan penguasaan teknologi digital. Sehingga tentu akan berdampak pada kondisi kemandirian memproduksi barang dan jasa, dan daya saing perekonomian negara.
Hal ini juga akan berpengaruh kepada kemsndirian produksi alutsista modern maupun kemampuan dalam peperangan modern. Kondisi negara seperti itu tentu akan mempengaruhi kondisi geopolitik, geoekonomi dan geoteknologi negara Indonesia di kancah internasional. Akibatnya Indonesia hanya menjadi pecundang, dan sumber daya alam yang melimpah ruah akan menjadi bancakab dari negara-negara yang memiliki geopolitik, geoekonomi, dan geoteknologi yang lebih kuat. Apakah negara kita di masa depan ingin seperti itu? Semuanya tergantung dari pemerintah dan masyarakat saat ini untuk memfokuskan investasi pada modal msnusia, daripada investasi infrastruktur yang mubazir seperti di era Presiden Jokowi. ***
Penulis adalah pendiri dan peneliti senior NAISD



