Oleh: Sugeng Budiharsono
Timnas Garuda yang senior maupun yang U-23, dalam beberapa pertandingan terakhir menorehkan prestasi yang luar biasa.
Pertandingan yang paling dramatis adalah ketika Indonesia, pada pertandingan Jumat dinihari (26/04/2024), mengalahkan salah satu raksasa bola Asia, Korea Selatan dengan skor 13-12 ini sungguh luar biasa, tentunya dengan izin Allah.
Pertandingan yang sebelumnya juga sangat epik, khususnya pada saat mengalahkan Australia dengan skor 1-0 dan Yordania 4-1. Selamat kepada timnas U-23 yang sudah mencapai semi final, semoga bisa masuk ke final dan menjadi juara Asia U-23.
Apabila kita lihat pertandingan baik timnas Garuda (senior), maupun timnas Garuda U-23, mereka bermain dengan lepas, seolah tanpa beban, dan tanpa tskut. Padahal kalau lihat pertandingan-pertandingan sebelumnya, khususnya sebelum bergabungnya para pemain naturalisasi, pasukan STY ini seperti main bola gajah.
Mereka seperti terkena minderwaardigheidscomplex atau inferiority complex atau komplrks rendah diri. Sudah merasa kalah sebelum bertanding. Mungkinkah dengan betgabungnya para pemain naturalisasi dari bekas penjsjah kita ini, menjadikan timnas telah melewati kompleks rendah diri?
Indonesia yang dulunya bernama Nusantara, merupskan negara besar. Sejak abad ke-7 sampai ke-15 di bawah kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kedua kerajaan ini bahkan menguasai yang saat ini menjadi negara Singapura, sebagian Thsoland, Malaysia dan Filipina. Bahkan pengaruh Sriwijsya sampai ke Madagaskar.
Penjajahan Belanda selama 350 tahun telah membuat bangsa yang pernah besar itu menjadi rendah diri kalau berhadapan dengan negara lain, khususnya bangsa-bangsa berkulit putih.
Kemerdekaan Indonesia walau dicapai dengan darah, raga dan air mata, dari anak bangsa yang gagah berani, tidak mampu menghilangkan kompleks rendah diri bahkan mungkin sampai saat ini. Selain kompleks rendah diri, bangsa Indonesia dibangkitkan dengan penyakit pesimistik memandang masa depan.
Kompleks rendah diri ini bukan hanya menjangkiti rakyat biasa. Tetapi juga para akademisi. Lihatlah para akademisi yang bergelar doktor dan bahkan jabatannya sudah profesor, kalau menghadapi akademisi dari luar negeri apalagi ysng berkulit putih, seperti ayam sayur yang mau disembelih. Padahal mungkin kepintarannya lebih hebat dari mereka. Tapi karena terjangkit kompleks rendah diri membuat akademisi Indonesia tersebut tidak bisa berkutik.
Belajar dari pertandingan timnas Gauda U-23, agar bangsa Indonesia dapat menjadi negara maju dengan cepat, harus move on dari rasa rendah diri dan pesimistis. Namun secara simultan bangsa Indonesia juga harus meningkatkan diri kompetensinya melalui pendidikan dan pelatihan.
Di era gagasan dan digital, kemampuan suatu negara bukan hanya dilihat dari sumber daya alam dan jumlah sumber daya manusia yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan berpikirnya.
Kemampuan berpikir inilah yang akan dapat menciptakan kreativitas dan inovasi yang dapat mempercepat pembangunan suatu bangsa dan negara
Menurut Howard (2007) Gardner dalam bukunya Five Minds for the Future menyatakan ada lima pola pikir atau kemampuan kognitif untuk masa depan. Kelima pola pikir tersebut adalah pola pikir: (1) disiplin keilmuan, (2) mensintesis; (3) menciptakan; (4) menghargai; dan (5) etis. Kelima pola pikir adalah kemampuan penting bagi individu untuk menjadi efektif di masa depan
Sebelum Howard Gardner ada juga Daniel H Pink (2006) dengan bukunya A Whole New Mind, Why Right-Brainer Will Rule. Dalam buku tersebut Pink menyatakan bahwa orang-orang berpikiran dengan menggunakan otak kanan yang akan memimpin dunia. Sayangnya sistem pendidikan kita lebih cenderung ke otak kiri daripada otak kanan.
Perubahan pola pikir dan pemanfaatan otak kanan akan mendorong sumber daya manusia Indonesia memiliki kemampuan untuk berkreativitas dan berinovasi. Namun tidak melupakan etika dan saling menghargai. Sehingga Indonesia akan maju dengan cepat. Ditambah lagi masyarakat sudah tidak lagi terjangkit penyakit rasa rendah diri dan pesimistik, itu akan lebih mempercepat proses pembangunan menuju negara maju. ***



