Oleh: Hazairin Sitepu

Saya disebut bos Radar Bogor. Juga ada yang menyebut CEO Radar Bogor. Bahkan ada pula mengatakan pemilik Radar Bogor. Itu di banyak kesempatan (dalam tahun 2024) baik di Bogor maupun di luar Bogor.

Saya memang sangat lama memikul jabatan direktur PT Bogor Ekspres Media, perusahaan yang menerbitkan Radar Bogor. Sejak tahun 2002. Kurang-lebih 21 tahun.

Sebelum di Bogor, saya menjadi direksi di beberapa perusahaan di Makassar.

Adalah Pak Dahlan (Dahlan Iskan) yang meminta saya datang ke Bogor. Waktu itu Pak Dahlan Presiden Direktur Jawa Pos. Permintaan Pak Dahlan itu dua atau tiga kali.

"Kalau kamu tidak mau ke Bogor (Radar Bogor), perusahaannya saya tutup," kata Pak Dahlan, waktu itu dalam perjalanan (dengan mobil) dari Kota Makassar ke Bandara Hasanuddin untuk kembali ke Surabaya.

Pak Dahlan sampai berjanji akan memberikan saham ke saya.

Saya pun akhirnya datang ke Kota Hujan ini, setelah berdiskusi panjang dengan keluarga, teman, dan berkali-kali meminta izin isteri.

Bulan Juli, tanggal 19, hari Kamis, tahun 2002, saya tiba di Bogor.

Saya lalu mengajak para manager untuk merumuskan bagaimana supaya bisa bangkit. Bagaimana cara mencapai harapan ketika sedang terpuruk.

Dan lahirlah semacam filosofi, "Kebersamaan untuk tumbuh dan maju bersama." Ia kemudian menjadi energi kolektif.

Ketika Radar Bogor sudah besar, sudah untung, karyawan menikmati hasilnya berupa bonus tahunan. Filosofi itu memang ada unsur janjinya, bahwa keuntungan tidak hanya dinikmati pengurus (direksi, komisaris) dan pemegang saham.

Radar Bogor terus tumbuh dan kemudian membangun gedung sendiri, lima lantai. Membangun gedung percetakan di atas lahan cukup luas, dan lain-lain.

Pak Dahlan pun memenuhi janjinya, saya diberikan saham lima persen. Maka, resmi-lah saya menjadi salah satu pemilik Radar Bogor. Pemilik saham pemberian itu.

Saya dibesarkan oleh pendidikan agama sejak tingkat dasar sampai tingkat atas. Lalu belajar ilmu kependidikan di perguruan tinggi negeri kependidikan. Kemudian belajar prinsip-prinsip bisnis dan manajemen.

Agama mengajarkan, hari ini harus lebih baik dari kemarin. Dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Ilmu-ilmu kependidikan membimbing pikiran bahwa proses dan hasil harus didahului perencanaan yang terukur. Itu menjadi pegangan dasar saya memimpin selama 21 tahun itu.

Ketika ekonomi dalam keadaan sulit, ketika prilaku konsumen berubah, ketika media sosial marajai kehidupan, banyak perusahaan media gulung tikar. Tetapi Radar Bogor masih bisa bertahan di tengah persaingan yang makin 'berdarah-darah' ini.

Prinsip-prinsip berfikir yang ditanamkan kepada karyawan tahun-tahun terakhir antara lain inovatif dan kreatif. Berfikir inovatif, berfikir kreatif untuk menghasilkan produk yang kompetitif.

Kita lalu membuat apa yang disebut Creative Centre. Di situlah anak-anak muda berkreasi menghasilkan produk-produk terbaik, termasuk untuk media sosial.

Kalau Radar Bogor sering memenangkan kompetisi produk entah di Jawa Pos atau lainnya, itu antara lain hasil dari berfikir inovatif dan kreatif itu. Radar Bogor akan terus bisa bertahan, bila prinsip-prinsip berfikir itu terus dikembangkan.

Tetapi, sejak 8 Desember 2023, dalam rapat umum pemegang saham luarbiasa (RUPS-LB) saya telah mengundurkan diri sebagai direktur Radar Bogor (PT Bogor Ekspres Media). Juga sebagai direktur PT Bogor Media Grafika, perusahaan percetakan.

Saya memang direktur tunggal di dua perusahaan itu lebih dari 20 tahun.

Saya mengusulkan Nihrawati AS menggantikan saya di Radar Bogor dan Andi Ahmadi menggantikan saya di Media Grafika. Keduanya sudah cukup lama dipersiapkan, masing-masing sebagai general manager.

Rapat pemegang saham luarbiasa itu menerima usulan saya. Saya lalu diminta kesediaan menjadi komisaris, tetapi tidak bersedia. Saya menolak jabatan itu.

Saya memang tidak ingin lagi jabatan apa pun di Radar Bogor dan di Media Grafika. Kecuali meminta supaya saya diaudit. Karena sudah terlalu lama di dua perusahaan itu.

Jadi, sejak hari itu saya bukan lagi bos Radar Bogor. Bukan CEO Radar Bogor. Saham yang lima persen itu pun akan saya jual, untuk biaya di kehidupan bisnis yang baru. Sehingga nantinya saya bukan lagi pemilik Radar Bogor.

Teruslah berinovasi. Teruslah berkreasi.***