POJOKSATU.id, KARAWANG - Sejumlah petani dari Kabupaten Karawang turun ke jalan dalam sebuah aksi damai yang digelar pada Senin 25 September 2023 untuk memperingati Hari Tani.

Aksi ini mengangkat tema besar, "Laksanakan Reforma Agraria, Bangun Industrialisasi Pertanian," dan melibatkan berbagai organisasi lintas sektor seperti Serikat Pekerja Tani Karawang (SEPETAK), Serikat Tani Karawang (SETAKAR), Serikat Tani Teluk Jambe Bersatu (STTB), Paguyuban Pemuda Tani Karawang (PPTK), Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), Lembaga Bantuan Hukum Cakra (LBH CAKRA), Perlawan Petani Karawang Merebut Kemerdekaan Agraria (Law Pekar), dan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Buana Perjuangan Karawang (BEM UBPK).

Dalam aksi tersebut, Ferry Dharmawan dari Law Pekar turut serta dan menyuarakan pentingnya petani berani melawan oligarki. Dia menggarisbawahi fakta bahwa Indonesia adalah negara agraris, dengan sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi sebagian besar masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.

Baca Juga: GIB Karawang Ajak Ratusan Santri Nobar Film 'Satu Hari dengan Ibu' di Resinda Park Mall

Namun, ironisnya, saat ini banyak konflik kepentingan yang melibatkan para oligarki, yang merugikan petani dan masyarakat umumnya dalam proses pembuatan kebijakan publik.

"Untuk itu saya menyerukan agar petani harus berani melawan oligarki," tegas Ferry.

Aksi ini juga mengingatkan kita pada sejumlah sengketa agraria yang pernah terjadi di Karawang, salah satunya pada tahun 2027.

Bahkan saat itu ada lima petani dari Telukjambe, Kabupaten Karawang, melakukan aksi kubur diri di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, pada tanggal 25 April 2017. Mereka mengharapkan Presiden Joko Widodo turun tangan untuk menyelesaikan masalah agraria di Telukjambe.

Baca Juga: Pengusaha Showroom di Karawang Jadi Tersangka Kasus Penadahan Mobil Mewah

Para petani tersebut menuntut agar negara mengembalikan mereka ke tanah yang telah mereka klaim sebagai milik mereka yang telah diserobot oleh pabrik. Selain itu, mereka juga meminta agar hak guna bangunan perusahaan dicabut karena dianggap merugikan petani.

Ferry menegaskan bahwa kedepan, petani harus bersatu dan berani melawan penjajah yang mencoba mengusir mereka dari tanah yang merupakan hak mereka.

Sementara itu, aksi gabungan ini juga mengusung sejumlah isu krusial dalam sektor pertanian dan agraria, termasuk memperjuangkan hak rakyat atas tanah yang sah dan layak untuk diolah oleh tani, menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam mengusut kasus korupsi di sektor agraria, dan mendesak pemecatan kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Karawang yang terlibat dalam tindakan yang merugikan petani.

Baca Juga: 2 Karyawan Meninggal 1 Masih Hilang di Perairan Karawang, Ini Penjelasan PT Bakrie Pipe Industries

Selain itu, mereka mendorong pemberian modal dan dukungan yang cukup kepada petani agar dapat meningkatkan produktivitas pertanian, menolak tindakan PHK massal yang tidak adil terhadap buruh dan pekerja tani, dan menuntut pihak PERTAMINA untuk memberikan kompensasi yang adil kepada nelayan yang menjadi korban tumpahan minyak.

Mereka juga mendesak pembubaran perhutani demi mengembalikan tanah kepada masyarakat. Aksi ini merupakan bentuk solidaritas dalam menghadapi tantangan-tantangan yang dihadapi oleh masyarakat di wilayah tersebut. ***