POJOKSATU.id, JAKARTA—Presiden AS Donald Trump makin ikut campur urusan negara Iran usai tewasnya pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang dibom Israel dan AS.
Trump menolak terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran sepeninggal ayahnya yang dibunuh oleh militer AS dan Israel.
Trump menyebut Motjaba Khamenei, tidak dapat dia terima.
Dalam wawancara dengan media Axios, seperti dilansir AFP dan Al Arabiya, Jumat (6/3), Trump mengatakan bahwa AS kemungkinan akan kembali berperang dalam lima tahun tanpa adanya pemimpin yang disukai di Iran.
"Putra Khamenei tidak dapat diterima oleh saya. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa keselarasan dan perdamaian ke Iran," kata Trump kepada Axios, Jumat.
"Putra Khamenei kurang berpengaruh," sebut Trump lagi.
"Saya harus terlibat dalam penunjukan tersebut, seperti dengan Delcy," ucap Trump.
Diketahui, Delcy Rodriguez merupakan Presiden Venezuela yang baru usai Presiden Nicolas Maduro ditangkap oleh militer AS.
Delcy mau bekerja sama dengan AS di bawah ancaman kekerasan setelah penggulingan Maduro.
Baca Juga: Perkuat Layanan Kesehatan Jambi, UNJA Resmi Luncurkan 3 Program Studi Dokter Spesialis Baru
Mojtaba Sudah Diumumkan
Majelis Ahli Iran dikabarkan telah menetapkan putra kedua mendiang Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru.
Keputusan ini diambil guna mengisi kekosongan kekuasaan setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara pekan lalu.
Laporan The New York Times mengutip tiga pejabat yang mengetahui diskusi tersebut menyebutkan bahwa pemilihan dilakukan dalam rapat tertutup pada Selasa (3/3/2026).
Para ulama bahkan mempertimbangkan untuk mengumumkan suksesi ini paling cepat pada Rabu (4/3/2026) pagi waktu setempat.
Namun, pengumuman tersebut masih dibayangi kekhawatiran dari sejumlah pihak yang menilai penunjukan langsung Mojtaba dapat menjadikannya target utama serangan Amerika Serikat dan Israel berikutnya.
Sejumlah nama muncul sebagai kandidat pengganti Ali Khamenei yakni Mojtaba Khamenei (56) yang merupakan putra kedua Khamenei.
Lalu Alireza Arafi (67), ulama terkemuka dan orang kepercayaan Khamenei.
Kemudian Mohammad Mehdi Mirbagheri (60), ulama garis keras dan anggota Majelis Pakar. Berikutnya Hassan Khomeini (50) cucu pendiri Republik Islam Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Dan terakhir Hashem Hosseini Bushehri (60) ulama senior yang dekat dengan Khamenei.
Keputusan itu seharusnya dibuat oleh Majelis Pakar, badan terpilih yang terdiri dari 88 ulama senior Iran, yang akan memilih siapa yang menjadi penerus Khamenei.***

