JAKARTA, POJOKSATU.id, Nama Jeronimus Cornelisz kembali menjadi sorotan setelah seorang peneliti asal Inggris mengkaji perilakunya melalui perspektif psikopati korporat.
Pedagang pada abad ke-17 tersebut diketahui mengambil alih kendali atas para penyintas kapal Batavia yang karam pada 1629.
Dalam peristiwa itu, Cornelisz diduga terlibat dalam pembantaian yang menewaskan sekitar 100 orang.
Dikutip dari ScienceAlert, Clive Roland Boddy, peneliti perilaku organisasi di Anglia Ruskin University, Inggris, melihat adanya kesamaan antara tindakan Cornelisz dan karakteristik pemimpin toksik di lingkungan kerja kontemporer.
Cornelisz dinilai berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan menebar ketakutan, menyingkirkan orang yang dianggap mengancam posisinya, serta mengutamakan para pengikut yang menunjukkan kesetiaan.
Peristiwa yang melibatkan Cornelisz berawal dari kecelakaan kapal Batavia, milik perusahaan dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), di Kepulauan Houtman Abrolhos, wilayah perairan dekat Australia Barat.
Sekitar 250 orang selamat dari kecelakaan tersebut, tetapi mereka harus bertahan hidup di pulau-pulau sekitar dengan bekal makanan dan air yang tidak mencukupi.
Upaya mencari pertolongan dilakukan dengan mengirimkan komandan dan kapten kapal menuju Indonesia.
Sejumlah awak senior ikut dalam perjalanan tersebut, sementara para penyintas lainnya ditinggalkan di pulau-pulau sekitar lokasi kecelakaan.
Situasi itu kemudian dimanfaatkan Cornelisz untuk mengambil alih kendali atas kelompok yang masih berada di sana.
Setelah memegang kendali, Cornelisz mulai menyusun strategi untuk memperkuat posisinya.
Dia memerintahkan sebagian penyintas berpindah ke pulau lain dengan alasan menemukan sumber air bersih.
Namun, perpindahan tersebut diduga merupakan siasat untuk memisahkan dan menyingkirkan orang-orang yang berpotensi menentang kekuasaannya.
Kelompok yang berada di bawah kendalinya kemudian semakin agresif. Mereka menguasai berbagai barang berharga dan sisa perbekalan yang berhasil diselamatkan dari kapal karam.
Makanan dan air yang seharusnya menjadi kebutuhan bersama justru dikumpulkan untuk kepentingan kelompok Cornelisz.
Boddy dalam kajiannya menjelaskan bahwa kelompok tersebut secara bertahap memperlihatkan tindakan pemberontakan dan kekerasan.
Mereka tidak hanya mengumpulkan persediaan untuk diri sendiri, tetapi juga berupaya memanfaatkan situasi tersebut demi keuntungan pribadi.
"Setelah itu, kelompok Cornelisz secara bertahap menampakkan diri sebagai pemberontak dan pembunuh kejam, serta mengumpulkan harta, air, dan persediaan yang tersisa dari kapal karam di dalam tenda Cornelisz, dengan tujuan menyimpannya sendiri dan menjadi bajak laut," tulis Boddy.
Di bawah kendali Cornelisz, pembunuhan terhadap para penyintas diduga dilakukan secara terencana hingga jumlah korban mencapai sekitar 100 orang.
Selain bertujuan mengurangi jumlah orang yang membutuhkan pasokan makanan dan air, kekerasan tersebut juga digunakan untuk memperkuat dominasi kelompoknya terhadap penyintas yang tersisa.
Peristiwa itu juga diwarnai kejahatan seksual. Sejumlah perempuan dilaporkan menjadi korban pemerkosaan dan perbudakan seksual oleh kelompok pemberontak.
Kekuasaan Cornelisz pada akhirnya berakhir setelah kelompoknya terlibat dalam beberapa pertempuran dengan penyintas yang berusaha menghentikan kekerasan.
Dia kemudian ditangkap dan dihadapkan ke pengadilan bersama sejumlah tokoh lain yang terlibat dalam pemberontakan.
Dalam persidangan, Cornelisz dan sejumlah pemimpin lainnya mengakui keterlibatan mereka dalam kejahatan, termasuk pembunuhan, pemerkosaan, serta pemberontakan.
Pengadilan menjatuhkan hukuman potong tangan dan gantung kepada Cornelisz serta sejumlah pemimpin pemberontakan lainnya.
Analisis Psikopati Korporat dalam Perspektif Modern
Bagi Boddy, perilaku Cornelisz menjadi bahan kajian untuk memahami karakteristik psikopati korporat melalui peristiwa sejarah.
Konsep tersebut berkaitan dengan ciri-ciri psikopatik yang muncul dalam lingkungan profesional, khususnya pada individu yang memiliki kekuasaan atau menduduki posisi kepemimpinan dan berpotensi merugikan orang-orang di sekitarnya.
Berdasarkan kerangka analisis yang digunakan, Boddy menilai Cornelisz memperlihatkan sejumlah karakteristik yang lazim dikaitkan dengan psikopat korporat.
"Apa yang membuat kasus ini luar biasa adalah ketika kami menganalisis Cornelisz menggunakan kerangka psikopati manajemen modern, dia menunjukkan setiap karakteristik utama yang terkait dengan psikopat korporat," kata Boddy.
Dia juga menyoroti kecenderungan pemimpin dengan karakteristik tersebut untuk membangun dominasi melalui tekanan psikologis.
Dalam situasi seperti itu, rasa takut dapat digunakan sebagai alat untuk memastikan orang-orang di bawah kendalinya tetap patuh.
"Psikopat korporat diketahui menunjukkan modus operandi umum yang melibatkan pembentukan kendali, tenaga kerja yang terintimidasi, dan penciptaan iklim ketakutan yang ditandai dengan pelecehan, intimidasi, serta teriakan," tulis Boddy.
Menurut analisis tersebut, pola kepemimpinan semacam ini memiliki kemiripan dengan perilaku toksik yang dapat ditemukan di sejumlah lingkungan kerja modern.
Penyalahgunaan jabatan, tekanan terhadap bawahan, upaya membungkam kritik, serta perlakuan istimewa kepada orang-orang yang loyal menjadi beberapa pola yang relevan untuk dikaji.
Kendati demikian, Cornelisz tidak dapat secara langsung dinyatakan memiliki diagnosis klinis psikopati berdasarkan kajian tersebut.
Penilaian Boddy merupakan interpretasi retrospektif terhadap tindakan historis Cornelisz dengan menggunakan kerangka psikopati korporat yang berkembang pada masa modern.
Kisah ini menjadi contoh bagaimana perilaku manipulatif dan penyalahgunaan kekuasaan dapat ditelaah melalui pendekatan psikologi organisasi.
Namun, konteks peristiwa yang terjadi setelah kapal karam pada abad ke-17 tetap perlu diperhitungkan ketika membandingkannya dengan dinamika kepemimpinan di perusahaan masa kini.***




