POJOKSATU.id – Sehari setelah membacakan Proklamasi Kemerdekaan, Soekarno belum sempat menikmati sepenuhnya kemenangan yang baru saja dicapai bangsa Indonesia.

Republik memang telah lahir pada 17 Agustus 1945, tetapi keadaan di sekelilingnya masih jauh dari kata aman, sementara tubuh Soekarno sendiri sedang dalam kondisi sakit.

Di tengah keadaan itulah para tokoh bangsa harus segera menentukan bagaimana negara yang baru berdiri tersebut akan dijalankan dan siapa yang akan memimpinnya.

Baca Juga: Brigadir Eko Tewas di Tangan Lima Rekannya Sesama Polisi, Awalnya Dibilang Jatuh dari Tangga

Pagi 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersidang. Salah satu keputusan terpenting hari itu adalah memilih Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden.

Kelak, keputusan tersebut menjadi salah satu titik paling menentukan dalam sejarah bangsa, tetapi suasana ketika Soekarno menerima jabatan itu ternyata jauh dari gambaran seremoni kenegaraan yang mungkin dibayangkan orang pada masa sekarang.

Dalam autobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams berdasarkan penuturan Soekarno, sang Proklamator mengenang bahwa dirinya sedang sakit ketika rangkaian rapat penting itu berlangsung.

Baca Juga: Sambut HUT ke-81 RI, Kodim 0604 Karawang Gelar Beragam Lomba Meriah Bersama Keluarga Prajurit

Ia bahkan mengatakan tidak mengingat siapa yang pertama kali mengusulkan namanya sebagai presiden.

Yang ia ingat adalah munculnya gagasan bahwa Indonesia yang telah menjadi negara membutuhkan seorang kepala negara.

“Dan sebuah negara memerlukan seorang Presiden. Bagaimana kalau kita memilih Sukarno?” demikian kisah yang disampaikan Soekarno dalam autobiografinya.

Baca Juga: DAM Borong 5 Gelar AHSRIC 2026, Ukir Prestasi Gemilang di Panggung Nasional

Jawabannya hanya satu kata.

“Baiklah.”

Sesederhana itu Soekarno menerima jabatan yang kelak menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

Tidak ada pidato penerimaan yang panjang dan tidak ada perayaan besar, sebab republik yang baru berusia sehari itu justru sedang menghadapi pekerjaan yang jauh lebih mendesak.

Negara harus segera memiliki pemerintahan, sementara ancaman terhadap kemerdekaan masih berada di depan mata.

Baca Juga: Galian Tanah Merah di Desa Citarik Disegel Satpol PP dan Polresta Karawang

Dan menariknya, setelah semua ketegangan itu, kisah hari pertama Soekarno sebagai presiden justru berakhir dengan sesuatu yang sangat sederhana: memesan 50 tusuk sate.

Sehari Sebelumnya, Soekarno Membacakan Proklamasi
Sebelumnya, pada pagi 17 Agustus 1945, Soekarno berdiri di kediamannya di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, bersama Mohammad Hatta dan sejumlah tokoh pergerakan, membacakan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Tidak ada gedung parlemen yang megah, tidak ada upacara kenegaraan dengan protokol lengkap, dan tidak ada kepastian mengenai bagaimana dunia akan menerima keputusan tersebut.

Baca Juga: War Tiket Upacara HUT RI 2026 Dibuka Lagi, Catat Jadwal Pendaftaran Tambahan

Yang ada adalah sebuah halaman rumah, rakyat berkumpul, dan sebuah teks pendek yang kemudian mengubah sejarah.

Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.”

Kalimat itu menjadi penanda lahirnya sebuah negara, tetapi tidak serta-merta mengakhiri persoalan.

Baca Juga: 7 Cara Mematikan Laptop yang Benar agar Tetap Awet, Jangan Asal Tutup Layar

Jepang masih berada di Indonesia dan situasi politik maupun keamanan belum stabil.

Para pemimpin republik harus bergerak cepat agar kemerdekaan yang telah diproklamasikan tidak berhenti sebagai pernyataan di atas kertas.

Dalam suasana dan kesibukan seperti itulah Soekarno menjalani hari berikutnya dengan kondisi kesehatan yang tidak baik.

Rakyat Menjadi Benteng di Sekitar Pegangsaan
Ketegangan setelah Proklamasi juga tergambar dalam cerita yang disampaikan Soekarno kepada Cindy Adams.

Dalam kisah tersebut, sejumlah polisi militer Jepang atau Kempeitai datang mempertanyakan pembacaan Proklamasi dan situasi sempat menegang.

Baca Juga: MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah Bukan Rp300 Triliun

Namun, rakyat telah berkumpul di sekitar Pegangsaan Timur. Mereka tidak datang dengan persenjataan modern, melainkan dengan apa yang tersedia di tangan mereka, mulai dari bambu runcing, kampak, sabit, hingga berbagai senjata sederhana.

Orang-orang dari berbagai usia berada di sana, termasuk perempuan yang menggendong anak dan anak-anak yang ikut berdesakan di tengah kerumunan.

Mereka seolah membentuk benteng manusia di sekitar tempat Soekarno berada, menunjukkan bahwa kemerdekaan yang baru diumumkan telah menjadi milik rakyat yang siap mereka pertahankan.

Soekarno kemudian mengenang suasana tersebut dengan mengatakan bahwa ia mengeluarkan perintah untuk membentuk Barisan Berani Mati yang secara sukarela akan mempertahankan Sang Merah Putih.

Baca Juga: Magang Kemdiktisaintek 2026 Buka 7 Formasi, Mahasiswa Bisa Daftar sampai 18 Agustus

Di tengah suasana genting itu, Fatmawati juga membuka dapur umum di Pegangsaan Timur untuk menyediakan makanan bagi orang-orang yang berkumpul.

Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa pada hari-hari pertama republik, perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya berlangsung melalui keputusan para tokoh politik, tetapi juga melalui tindakan rakyat biasa yang berdiri, memasak, berkumpul, dan bersiap mempertahankan kemerdekaan dengan apa yang mereka miliki.

Kesibukan dan ketegangan itu ikut memengaruhi kondisi Soekarno yang memang sedang sakit.

Baca Juga: Soal TKA SMK 2026 Pusmendik, Produk-Projek Kreatif dan Kewirausahaan, Lengkap dengan Kunci Jawaban dan Pembahasan

Namun, pekerjaan tidak dapat dihentikan karena republik yang baru lahir membutuhkan dasar pemerintahan.

Menjadi Presiden Saat Sedang Sakit
Pada 18 Agustus, PPKI bersidang untuk menentukan sejumlah hal penting bagi negara yang baru saja diproklamasikan.

Undang-Undang Dasar disahkan, Soekarno dan Mohammad Hatta ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden, dan Indonesia harus mulai membangun struktur pemerintahan pertamanya.

Dalam kenangan Soekarno, keputusan mengenai jabatan presiden berlangsung begitu sederhana.

Baca Juga: Rangkuman Materi Matematika Kelas 12 Kurikulum Merdeka Semester 1 dan 2 Lengkap, Disertai Rumus dan Contohnya

Ia tidak mengingat siapa yang pertama kali mengusulkan namanya, tetapi mengingat bagaimana pembicaraan itu berlangsung dan bagaimana ia memberikan jawaban singkat ketika namanya diajukan.

“Baiklah.”

Kata itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah keputusan yang begitu besar.

Namun, situasi Indonesia ketika itu memang bukan keadaan normal. Republik baru saja lahir dan para pemimpinnya menghadapi begitu banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan.

Soekarno sendiri kemudian mengenang bahwa tidak ada waktu untuk membuat sesuatu menjadi rumit karena “terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan”.

Baca Juga: Sudah 2 Minggu Dikubur, Keluarga Sutrimo Penjaga Rumah Febrie Tak Keberatan Makam Dibongkar

Hari itu, Soekarno yang tengah sakit resmi menjadi Presiden pertama Republik Indonesia.

Ia belum mengetahui bagaimana perjalanan negara yang dipimpinnya akan berlangsung. Ia belum mengetahui bahwa namanya kelak akan dikenal di berbagai penjuru dunia.

Ia juga belum mengetahui bahwa perjalanan politiknya akan membawa Indonesia melewati revolusi, perang mempertahankan kemerdekaan, diplomasi internasional, pergolakan politik, hingga perubahan besar dalam sejarah republik.

Baca Juga: Ratusan Sekolah Elite Tolak MBG, BGN Siapkan Refocusing Penerima Manfaat

Yang ia tahu pada saat itu adalah bahwa sebuah negara baru telah lahir dan pekerjaan menunggu di mana-mana.

Dari Jabatan Presiden ke 50 Tusuk Sate
Usai rangkaian rapat dan kesibukan, Soekarno pulang.

Dalam perjalanan, ia bertemu seorang pedagang sate ayam kaki lima.

Soekarno kemudian memesan 50 tusuk sate.

Dalam autobiografinya, ia menceritakan bahwa dirinya kemudian berjongkok di dekat got dan tempat sampah sambil menyantap sate tersebut dengan lahap bersama rakyat di sekitarnya.

Ia bahkan menggambarkan santapan itu sebagai seluruh pesta perayaan atas kehormatan yang baru saja diterimanya sebagai Presiden Republik Indonesia.

Baca Juga: Apa Sebenarnya Bot Trading Forex Otomatis dan Apa Saja Manfaatnya?

Kisah 50 tusuk sate tersebut kemudian populer sebagai "perintah pertama" Soekarno setelah menjadi presiden.

Republik yang masih terlalu muda ini tidak memiliki segala kemewahan sebuah negara yang mapan, tetapi kisah itu juga menunjukkan sisi lain Soekarno yang sejak lama memiliki hubungan dekat dengan kehidupan rakyat.

Bahkan ada sebuah peristiwa pada 5 Januari 1948 di Pinggit, Yogyakarta.

Presiden Soekarno dan Ibu Fatmawati terekam tengah meninjau markas militer Brigade XII di tengah gentingnya situasi politik menjelang Perjanjian Renville.

Di atas meja panjang sederhana, pemimpin bangsa itu membaur tanpa sekat protokoler, ikut makan jagung rebus bersama para prajurit dan warga setempat.

Pilihan jagung saat itu bukan sekadar kebetulan, melainkan refleksi krisis pangan akibat blokade Belanda, sekaligus bentuk solidaritas nyata Bung Karno yang memilih senasib sepenanggungan dengan rakyatnya dalam mengonsumsi pangan alternatif di masa perang.

Baca Juga: Lomba Menulis Puisi untuk Guru Lulusan PPG Dibuka, 81 Karya Terbaik Akan Dibukukan

Presiden yang Memulai Kepemimpinannya Tanpa Pesta Mewah
Kehidupan membawa Soekarno ke Istana dan panggung internasional, kesederhanaan dalam selera makan tetap menjadi bagian dari dirinya.

Berbagai kesaksian mengenai kebiasaan makan Soekarno menyebut hidangan rumahan seperti sayur lodeh, sayur asam, daun singkong rebus, ikan asin goreng, telur mata sapi, sambal, serta kopi tubruk sebagai makanan yang dekat dengannya.

Makanan-makanan itu sangat berbeda dengan gambaran kehidupan seorang kepala negara yang selalu dikelilingi jamuan kenegaraan.

Namun bagi Soekarno, makanan sederhana bukan sesuatu yang harus ditinggalkan hanya karena kedudukannya berubah.

Ia dapat berdiri dengan pakaian kebesaran di hadapan para pemimpin dunia, tetapi tetap menikmati makanan yang akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Bukan Sekadar Juara, AXIS Nation Cup 2026 Jadi Panggung Pemain Futsal Muda Bogor

Rakyat yang Sejak Awal Menjadi Pusat Pikirannya
Kedekatan Soekarno dengan rakyat sebenarnya telah terbentuk jauh sebelum ia menjadi presiden.

Ia tumbuh pada masa kolonial dan sejak muda menyaksikan bagaimana masyarakat pribumi hidup dalam ketimpangan.

Pengalaman tersebut kemudian memengaruhi cara pandangnya terhadap kemerdekaan.

Baginya, Indonesia merdeka bukan sekadar Indonesia yang memiliki bendera sendiri, melainkan Indonesia yang rakyatnya terbebas dari penindasan dan memiliki kesempatan untuk hidup dengan lebih bermartabat.

Pandangan tersebut kemudian semakin kuat ketika Soekarno menceritakan pertemuannya dengan seorang petani kecil di Bandung bernama Marhaen.

Baca Juga: Indonesia Gugur di Fase Grup, Rizky Ridho: Kalian Selalu Setia, Maaf Kami Selalu Mengecewakan

Menurut kisah yang disampaikan Soekarno, Marhaen memiliki tanah dan alat kerja sendiri, tetapi tetap hidup dalam kemiskinan.

Pertemuan itu membuat Soekarno melihat bahwa kondisi masyarakat Indonesia tidak sepenuhnya sama dengan masyarakat industri di Eropa yang menjadi latar berkembangnya teori tentang proletariat.

Di Indonesia, seorang petani bisa memiliki tanah sendiri tetapi tetap miskin. Seorang pedagang bisa memiliki gerobaknya sendiri tetapi tetap kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Baca Juga: FWJ Indonesia Laporkan Eks Ketua Korwil Bekasi ke Polisi terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik

Seorang tukang bisa mempunyai alat kerjanya sendiri tetapi tidak serta-merta keluar dari kemiskinan.

Dari pengamatan tersebut berkembang istilah "Marhaen" sebagai simbol rakyat kecil Indonesia yang memiliki alat produksi sendiri tetapi masih berada dalam tekanan ekonomi.

Gagasan itu kemudian dikenal sebagai Marhaenisme dan menjadi bagian penting dari pemikiran politik Soekarno.

Kemerdekaan Bukan Akhir Perjuangan
Bagi Soekarno, Proklamasi bukanlah garis akhir.

Kemerdekaan hanyalah awal dari pekerjaan yang jauh lebih panjang. Ia pernah menggambarkan kemerdekaan sebagai "jembatan emas", sebuah gambaran bahwa bangsa Indonesia harus menggunakan kemerdekaannya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Pemikiran tersebut menjelaskan mengapa perjuangan Soekarno tidak berhenti pada pembacaan Proklamasi.

Baca Juga: Bukan Cuma Dibuat di Lapas, Coco Sheet Karya Warga Binaan Purwokerto Kini Tembus Pasar China

Setelah menjadi presiden, ia terus berbicara tentang persatuan, keadilan sosial, pembangunan bangsa, dan pentingnya membebaskan rakyat dari berbagai bentuk penindasan.

Ia ingin kemerdekaan memiliki arti nyata bagi mereka yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Sebab jika rakyat tetap miskin dan tertindas setelah penjajah pergi, maka menurut cara berpikir Soekarno, perjuangan kemerdekaan belum sepenuhnya mencapai tujuannya.

"Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah"
Bertahun-tahun kemudian, dalam pidatonya pada 1966, Bung Karno menyampaikan sebuah kalimat yang kemudian sangat dikenal dalam sejarah Indonesia:

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.”

Jas Merah.

Baca Juga: SIAK-NG Resmi Ditutup Mulai 6 Agustus 2026 Pukul 18.00 WIB, UI Beralih ke SLCM, Ini Jadwal Pentingnya

Pesan tersebut menjadi penting ketika kita melihat kembali kisah hidupnya, karena sejarah yang dimaksud bukan hanya sejarah para pemimpin.

Ada rakyat yang berdiri di Pegangsaan, ada orang-orang yang membawa bambu runcing dan senjata sederhana, ada perempuan yang memasak untuk orang-orang yang berkumpul, ada petani yang mengolah tanah, ada pedagang yang berjualan di pinggir jalan, dan ada jutaan manusia biasa yang kehidupannya menjadi alasan mengapa kemerdekaan harus diperjuangkan.

Soekarno tidak pernah melihat rakyat hanya sebagai penonton dalam perjalanan bangsa.

Rakyat adalah pelaku sejarah.

Pemuda dan Masa Depan Indonesia
Keyakinan Soekarno terhadap kekuatan manusia juga terlihat dalam cara ia berbicara tentang generasi muda. Salah satu ungkapannya yang paling terkenal adalah:

Baca Juga: Kemensos Uji Coba PERLINSOS Digital, Kini Usulan Bansos Bisa Daftar Mandiri Secara Online

“Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Kutipan tersebut menggambarkan keyakinannya bahwa masa depan bangsa bergantung pada manusia yang memiliki keberanian, cita-cita, dan kemauan untuk bergerak.

Indonesia yang baru merdeka tidak mungkin dibangun hanya dengan kekayaan alam atau wilayah yang luas.

Negara membutuhkan manusia yang percaya bahwa mereka mampu mengubah keadaan.

Karena itulah rakyat dan pemuda selalu menempati posisi penting dalam pidato-pidato Bung Karno dan bahwa kemerdekaan adalah milik rakyat.

Sejarah Indonesia, sebagaimana berkali-kali diingatkan Bung Karno, tidak boleh dipisahkan dari rakyat yang ikut melahirkannya. ***