POJOKSATU.id - Musisi Fiersa Besari mengingatkan publik, bahwa jika kritikan terhadap pemerintah bukan berarti kebencian.
Ini menjadi sorotan Fiersa Besari gegara banyak cap jelek yang diterima warga Indonesia, jika secara berani mengkritik pemerintah.
"Jika seseorang tiba-tiba mengkritik pemerintah, bukan berarti mereka hanya ikut-ikutan tren. Bisa jadi, hidup mereka memang terdampak oleh kebijakan yang dirasa tidak bijaksana," tulisnya di Twitter, dilansir Minggu, 25 Oktober 2025.
"Bisa jadi pula, hati nurani mereka tergerak melihat sesama warga negara menderita," sambungnya.
Menurut Fiersa, tidak ada negara yang bisa maju jika hanya pujian yang diterima pemerintahnya.
"Kritik bukan berarti kebencian. Sebuah negara tidak akan maju jika isinya hanya pujian," tegasnya.
Pelantun lagu 'Celengan Rindu' ini juga mengomentari soal penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhulta) yang belum juga bisa diatasi.
"Tidak seharusnya ada manusia yang harus menghirup asap sebanyak itu. Tidak seharusnya ada anak-anak yang terpapar kabut asap. Hingga hari ini, belum ada pihak yang bertanggung jawab," tuturnya,
Dia berharap, karhutla terus disuarakan agar bisa ditangani pemerintah daerah dan pusat secepatnya, agar warga tidak semakin menderita.
"Kebakaran hutan masih terjadi. Sebarkan beritanya, bukan apinya. Padamkan apinya, bukan beritanya," tegasnya.
Di tengah kasus karhutla ini, Feirsa mengingatkan siapa saja untuk bisa lebih memiliki empati yang tinggi.
Salah satunya, untuk meminimalisir flexing atau pamer kehidupan mewah. Karena di saat yang sama banyak warga menderita.
"Bukan berarti kamu tidak boleh mengunggah foto perjalananmu. Namun, jangan lupa bahwa kebakaran hutan masih terjadi. Bukan berarti kamu tidak boleh membagikan pencapaianmu. Namun, jangan lupa bahwa kebakaran hutan masih terjadi," jelasnya.
"Apa gunanya memiliki media sosial yang sedap dipandang jika kamu tidak memiliki hati nurani? Berdoa itu baik, tetapi bersuara jauh lebih baik," pungkas Fiersa Besari. ***






