POJOKSATU.id - Ketika dunia menghadapi berbagai krisis, kemampuan berbicara dan menyampaikan gagasan bisa menjadi salah satu cara generasi muda memahami persoalan di sekitarnya.
Semangat itulah yang dibawa The 11th Padjadjaran English Competition (PEC) 2026 melalui tema “We Are Awake, We Are Aware, and in This Crisis, We Are Each Other.”
Tema tersebut tidak hanya berbicara tentang kemampuan berbahasa Inggris.
Peserta juga diajak melihat keberagaman, keterhubungan antarmanusia, empati, serta solidaritas sebagai bagian dari kehidupan bersama.
PEC 2026 digelar secara hybrid dan telah menarik 547 peserta dari 20 provinsi di Indonesia serta sejumlah negara lainnya.
Rangkaian semifinal dan final dijadwalkan berlangsung pada 10–11 Oktober 2026 di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Kampus Dipati Ukur.
Masyarakat juga diundang untuk menyaksikan langsung rangkaian kompetisi tersebut.
Para peserta yang telah melewati berbagai tahapan akan menampilkan kemampuan mereka dalam menyampaikan gagasan melalui sejumlah cabang perlombaan.
Bukan Sekadar Kompetisi Bahasa Inggris
PEC merupakan kompetisi tahunan yang sebelumnya dikenal sebagai Gemasi English Competition atau GEC.
Kompetisi ini dirintis oleh Gelanggang Mahasiswa Sastra Inggris (GEMASI) dan kini berada di bawah naungan Direktorat Kemahasiswaan Universitas Padjadjaran.
Ada lima cabang yang dipertandingkan, yakni Speech, Storytelling, Essay Writing, Poetry Reading, dan Short Story Writing.
Pesertanya berasal dari kalangan pelajar hingga mahasiswa.
Seiring perkembangannya, jangkauan PEC juga semakin luas.
Pada 2024, kompetisi ini mulai menerima peserta dari luar Indonesia, termasuk Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam.
Setahun kemudian, PEC diikuti 279 peserta dari 13 provinsi di Indonesia dan sejumlah negara. Tahun 2026, jumlah peserta meningkat menjadi 547 orang dari 20 provinsi serta negara lainnya.
PEC juga telah terakreditasi oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) pada 2024 dan tercatat dalam Sistem Manajemen Talenta.
Perkembangan tersebut membuat PEC bukan hanya menjadi tempat mengasah kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga ruang pertemuan peserta dari berbagai latar belakang.
Membicarakan Krisis dari Sudut Pandang Generasi Muda
Tema PEC 2026 berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Perbedaan ras, gender, identitas hingga ketidakadilan masih dapat menciptakan jarak antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Padahal, berbagai krisis sosial, politik, lingkungan, dan kemanusiaan menunjukkan bahwa kehidupan manusia saling berkaitan.
Dari gagasan itulah peserta diajak menggeser cara pandang dari “me vs. you” menuju pemahaman bahwa kehidupan manusia tidak berdiri sendiri.
Melalui speech, essay, storytelling, short story writing, maupun poetry, peserta memiliki ruang untuk menyampaikan perspektif masing-masing mengenai krisis, keterhubungan, empati, dan solidaritas.
Jadi, kemampuan bahasa Inggris dalam PEC 2026 menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan, bukan sekadar kemampuan berkomunikasi.
Juri Datang dari Berbagai Negara dan Disiplin
Menariknya, PEC 2026 juga melibatkan dewan juri dengan latar belakang yang beragam. Mereka berasal dari dunia akademik, sastra, seni, penelitian, jurnalistik, hingga kepenulisan.
Sejumlah juri internasional yang terlibat atau telah dihubungi untuk berpartisipasi antara lain Angelo R. Lacuesta dari Filipina, Assoc. Prof. Dr. Aida Džiho Šator dari Bosnia dan Herzegovina dan Gerome Karthic Kumar L dari India.
Selain itu ada juga Njume Emmanuel Ekindesone, Ph.D. dari Kamerun, Prof. Joselito D. delos Reyes, Ph.D. dari Filipina, Mark Spears dari Amerika Serikat, Dr. Juma D. Imamu dari Tanzania, César Klauer dari Peru, serta Dr. Anton Kurmelev dari Rusia.
Dari lingkungan akademik Universitas Padjadjaran, sejumlah dosen Sastra Inggris juga terlibat sebagai juri, di antaranya Bima Bayusena, M.Hum., Dr. Rasus Budhyono, M.Hum., Sandya Maulana, M.Hum., Lestari Manggong, M.A., Indah Wulansari, M.Hum., Dr. Eko Wahyu Koeshandoyo, M.Hum., dan Randy Ridwansyah, M.Hum.
Selain itu, PEC juga pernah melibatkan penyair, penulis, jurnalis, seniman, akademisi, serta alumni Sastra Inggris Unpad sebagai juri.
Keberagaman latar belakang tersebut membuat penilaian dalam kompetisi tidak hanya bertumpu pada kemampuan berbahasa, tetapi juga membuka ruang bagi perspektif yang lebih beragam terhadap karya dan gagasan peserta.
Digelar 10–11 Oktober 2026
Semifinal dan final The 11th Padjadjaran English Competition akan berlangsung pada 10–11 Oktober 2026 di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Kampus Dipati Ukur.
Masyarakat dapat hadir dan menyaksikan langsung penampilan para peserta yang telah melalui tahapan kompetisi.
Bagi penyelenggara, PEC 2026 diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk membangun kesadaran, menyampaikan gagasan, sekaligus menemukan makna solidaritas ketika menghadapi tantangan bersama.***




