POJOKSATU.id, Pemerintah menerapkan model Item Response Theory Two-Parameter Logistic Model (IRT 2PL) untuk menentukan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Sistem ini digunakan untuk mengukur kemampuan peserta dengan memperhitungkan karakteristik setiap soal yang diujikan.

Dalam mekanisme tersebut, tingkat kesukaran soal menjadi salah satu aspek yang diperhitungkan ketika mengolah hasil tes.

Penerapan sistem ini juga bertujuan agar perbedaan karakteristik paket soal tidak menimbulkan ketidakadilan bagi para peserta.

Konsekuensinya, siswa yang memperoleh jumlah jawaban benar sama belum tentu mendapatkan skor TKA yang identik.

Perbedaan itu dapat muncul karena soal yang dijawab masing-masing peserta memiliki karakteristik yang berbeda.

Misalnya, siswa A mampu menjawab 20 soal dengan benar dari paket yang sebagian besar berisi pertanyaan dengan tingkat kesulitan tinggi.

Hasil tersebut dapat memberikan gambaran bahwa kemampuan akademiknya berada pada tingkat yang lebih tinggi.

Sebaliknya, siswa B juga berhasil menjawab 20 soal secara tepat, tetapi sebagian besar soal dalam paketnya tergolong lebih mudah.

Oleh karena itu, hasil pengukuran kemampuan kedua siswa tersebut bisa saja tidak sama meskipun jumlah jawaban benar mereka setara.

Lalu, apakah peserta yang memperoleh soal lebih sulit sudah pasti mendapatkan skor TKA yang lebih tinggi?

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menjelaskan melalui unggahan di akun resmi Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan bahwa penilaian berbasis IRT memperhitungkan tingkat kesulitan dan karakteristik soal.

Dengan sistem tersebut, penilaian kemampuan peserta tidak dapat ditentukan hanya melalui perhitungan jumlah jawaban yang tepat.

Setiap soal juga memiliki karakteristik yang menjadi pertimbangan dalam proses analisis hasil tes.

Sebagai contoh, dua peserta yang sama-sama menjawab 20 soal dengan benar belum tentu mempunyai tingkat penguasaan materi yang setara.

Terlebih lagi, apabila tingkat kesulitan soal dalam paket yang mereka kerjakan berbeda.

Namun, peserta tidak serta-merta memperoleh tambahan skor hanya karena berhasil menjawab soal yang lebih sulit.

Penentuan hasil tes dilakukan dengan mengolah jawaban peserta berdasarkan karakteristik butir soal yang telah dianalisis.

Selain tingkat kesulitan, model IRT 2PL turut memperhitungkan daya pembeda soal.

Aspek ini berkaitan dengan kemampuan suatu soal dalam membedakan peserta yang memiliki tingkat penguasaan materi berbeda.

Artinya, penilaian TKA tidak hanya berfokus pada seberapa sulit pertanyaan yang dihadapi.

Pola jawaban peserta serta karakteristik soal secara keseluruhan juga menjadi bagian penting dalam memperkirakan kemampuan akademik.

Peserta juga perlu memahami bahwa skor TKA tidak dapat langsung disamakan dengan persentase jawaban benar.

Pada TKA SMA dengan rentang nilai 200 sampai 800, misalnya, skor 600 bukan berarti peserta berhasil menjawab 60 persen dari seluruh soal yang tersedia.

Nilai tersebut merupakan bagian dari skala pelaporan yang digunakan untuk menunjukkan hasil pengukuran kemampuan akademik peserta berdasarkan sistem penilaian TKA.

Oleh sebab itu, melihat jumlah jawaban benar saja belum cukup untuk memahami hasil tes secara menyeluruh.

Skor yang diperoleh juga tidak tepat jika langsung diterjemahkan menjadi persentase keberhasilan mengerjakan soal.

Peserta dan orang tua perlu memperhatikan deskripsi capaian serta panduan interpretasi skor yang menyertai hasil TKA.

Informasi tersebut dapat membantu menjelaskan makna nilai yang diperoleh sesuai dengan tujuan pengukuran.

Dengan memahami mekanisme penilaian ini, hasil TKA dapat dibaca secara lebih tepat.

Skor yang tercantum bukan sekadar angka, melainkan hasil pengukuran kemampuan yang perlu ditafsirkan berdasarkan ketentuan penilaian yang digunakan.***