POJOKSATU.id - Mutu artikel menjadi unsur dengan bobot tertinggi dalam penilaian akreditasi jurnal ilmiah tahun 2026. Berdasarkan petunjuk teknis yang berlaku, aspek ini memperoleh 34 poin dari total 100 poin penilaian.
Selain kualitas substansi, penilaian mencakup enam unsur lainnya, mulai dari tata kelola jurnal, keberagaman editor dan mitra bestari, hingga gaya penulisan dan penyuntingan artikel.
Pengelola jurnal perlu memahami pembagian bobot tersebut untuk mengetahui aspek yang perlu diperkuat sebelum mengikuti proses akreditasi.
Ketentuan penilaian ini mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 9 Tahun 2026 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah serta Keputusan Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Nomor 374/DST/D.D1/HM.01.01/2026 tentang Petunjuk Teknis Akreditasi Jurnal Ilmiah.
Informasi ini juga penting menjelang berakhirnya penerimaan usulan akreditasi ulang jurnal ilmiah Gelombang I Tahun 2026 pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Pengajuan dibuka pada 8 Oktober melalui Sistem Akreditasi Jurnal Ilmiah Nasional (ARJUNA).
Periode tersebut khusus untuk akreditasi ulang, sedangkan jadwal penerimaan akreditasi baru akan diumumkan kemudian.
Tujuh Unsur Penilaian Akreditasi Jurnal Ilmiah 2026
Petunjuk teknis akreditasi jurnal ilmiah tahun 2026 membagi penilaian ke dalam tujuh unsur dengan total 100 poin.
Lima unsur berkaitan dengan tata kelola jurnal, sedangkan dua lainnya berfokus pada mutu artikel.
Berikut rincian bobot setiap unsur.
1. Mutu Artikel atau Substansi: 34 Poin
Mutu artikel atau substansi menjadi unsur dengan bobot terbesar, yakni 34 poin.
Penilaian ini menekankan kualitas ilmiah artikel yang diterbitkan.
Karena itu, pengelola perlu memastikan proses editorial dan penelaahan mendukung kualitas substansi, bukan sekadar memenuhi kelengkapan administratif.
Artikel yang diterbitkan harus melalui penelaahan sejawat sesuai kebijakan jurnal. Bukti penelaahan, rekomendasi perbaikan, dan keputusan editorial perlu tersedia sesuai mekanisme yang digunakan.
2. Tata Kelola dan Keberagaman Editor, Mitra Bestari, serta Penulis: 22 Poin
Unsur tata kelola jurnal ilmiah dan keberagaman mitra bestari, editor, serta penulis memperoleh bobot 22 poin.
Pengelola perlu memperhatikan kualitas pengelolaan jurnal dan keberagaman pihak yang terlibat dalam penerbitan.
Informasi mengenai editor, mitra bestari, dan penulis perlu dapat diverifikasi, termasuk rekam jejak publikasi serta keterlibatan dalam kegiatan editorial sesuai indikator penilaian.
3. Gaya Penulisan dan Penyuntingan Artikel: 20 Poin
Gaya penulisan dan penyuntingan artikel memperoleh bobot 20 poin.
Unsur ini mencakup kualitas penyajian naskah ilmiah dan penyuntingannya.
Pengelola perlu memastikan artikel disajikan secara sistematis, konsisten, dan sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah serta pedoman jurnal.
Penyuntingan tidak hanya berkaitan dengan kesalahan bahasa. Konsistensi format, kejelasan penyajian, dan ketepatan mengikuti pedoman penulisan juga perlu diperhatikan sesuai indikator penilaian.
4. Penyebarluasan Jurnal: 12 Poin
Penyebarluasan jurnal ilmiah memperoleh bobot 12 poin.
Pengelola perlu memperhatikan indikator penyebarluasan yang ditetapkan dalam petunjuk teknis, termasuk bukti yang relevan mengenai akses dan distribusi publikasi ilmiah.
Dengan bobot tersebut, penyebarluasan menjadi bagian penting yang perlu direncanakan, bukan sekadar pelengkap setelah artikel diterbitkan.
5. Kelengkapan Laman Jurnal: 7 Poin
Kelengkapan laman jurnal memperoleh bobot 7 poin.
Laman jurnal perlu menyediakan informasi yang dibutuhkan pembaca, penulis, editor, dan penilai. Informasi tersebut meliputi kebijakan etika publikasi, biaya pemrosesan artikel, prosedur penelaahan sejawat, petunjuk penulisan, identitas pengelola, serta akses terhadap teks lengkap artikel.
DOI dan tautan artikel juga perlu berfungsi dengan baik. Pengelola perlu memastikan kebijakan yang ditampilkan sesuai dengan praktik penerbitan, termasuk kebijakan penggunaan kecerdasan artifisial atau AI sesuai indikator yang berlaku.
6. Keberkalaan Penerbitan: 3 Poin
Keberkalaan penerbitan jurnal ilmiah memperoleh bobot 3 poin.
Aspek ini berkaitan dengan konsistensi penerbitan sesuai frekuensi dan jadwal yang ditetapkan jurnal.
Pengelola perlu menjaga kesesuaian volume, nomor, tanggal terbit, dan metadata artikel. Arsip penerbitan juga perlu disiapkan agar keteraturan terbitan dapat diperiksa.
7. Konsistensi Identitas Jurnal: 2 Poin
Konsistensi identitas jurnal memperoleh bobot 2 poin.
Aspek ini berkaitan dengan kesesuaian identitas jurnal, termasuk nama dan informasi penerbitannya. Pengelola perlu memastikan informasi pada laman jurnal, metadata artikel, dan dokumen publikasi tidak saling bertentangan.
Meskipun bobotnya paling kecil, konsistensi identitas tetap menjadi bagian dari penilaian akreditasi.
Tata Kelola Jurnal 46 Poin, Mutu Artikel 54 Poin
Jika dikelompokkan, lima unsur tata kelola jurnal memiliki total bobot 46 poin. Sementara itu, dua unsur yang berkaitan dengan mutu artikel mencapai 54 poin.
Rinciannya sebagai berikut:
Unsur tata kelola jurnal:
Konsistensi identitas jurnal: 2 poin.
Tata kelola dan keberagaman editor, mitra bestari, serta penulis: 22 poin.
Kelengkapan laman jurnal: 7 poin.
Keberkalaan penerbitan: 3 poin.
Penyebarluasan jurnal: 12 poin.
Unsur mutu artikel:
Mutu artikel atau substansi: 34 poin.
Gaya penulisan dan penyuntingan artikel: 20 poin.
Dengan komposisi tersebut, mutu artikel memiliki bobot 8 poin lebih besar daripada tata kelola jurnal.
Artinya, peningkatan kualitas jurnal perlu dilakukan secara menyeluruh. Pengelola tidak cukup hanya memperbaiki situs dan administrasi apabila kualitas substansi serta penyuntingan artikel belum memenuhi indikator yang ditetapkan.
Sebaliknya, artikel berkualitas juga perlu ditopang tata kelola yang konsisten, proses editorial yang dapat dipertanggungjawabkan, dan penerbitan yang teratur.
Berapa Nilai Minimal untuk Mendapatkan Peringkat Akreditasi?
Berdasarkan tabel peringkat dalam petunjuk teknis akreditasi jurnal ilmiah tahun 2026, kategori akreditasi ditentukan berdasarkan nilai total yang diperoleh.
Berikut kriteria peringkatnya:
Peringkat 1: nilai 90-100.
Peringkat 2: nilai 80 hingga kurang dari 90.
Peringkat 3: nilai 70 hingga kurang dari 80.
Peringkat 4: nilai 60 hingga kurang dari 70.
Tidak terakreditasi: nilai kurang dari 60.
Dengan ketentuan tersebut, jurnal harus memperoleh nilai minimal 90 untuk masuk Peringkat 1. Peringkat 2 dimulai dari nilai 80, Peringkat 3 dari nilai 70, sedangkan Peringkat 4 dari nilai 60.
Nilai akhir merupakan hasil penilaian keseluruhan. Karena itu, pemenuhan satu unsur saja tidak otomatis menentukan peringkat yang diperoleh.
Pengelola perlu mempelajari indikator setiap unsur dalam petunjuk teknis resmi agar dapat memahami aspek yang dinilai dan bukti yang perlu disiapkan.
Apa yang Perlu Menjadi Prioritas Pengelola Jurnal?
Berdasarkan pembagian bobot tersebut, ada beberapa aspek yang dapat menjadi perhatian dalam evaluasi internal jurnal.
Pertama, perkuat mutu substansi artikel. Dengan bobot 34 poin, kualitas ilmiah artikel perlu menjadi perhatian utama. Proses penelaahan harus berjalan sesuai kebijakan dan keputusan editorial didasarkan pada evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kedua, tingkatkan kualitas penulisan dan penyuntingan. Bobot 20 poin menunjukkan bahwa penyajian naskah merupakan komponen penting. Konsistensi penulisan, kejelasan penyampaian, dan kepatuhan terhadap pedoman jurnal perlu dijaga.
Ketiga, evaluasi tata kelola jurnal. Pengelola perlu memeriksa kesesuaian informasi editor, mitra bestari, dan penulis serta memastikan rekam jejak pihak yang terlibat dapat diverifikasi.
Keempat, perhatikan penyebarluasan publikasi. Pengelola perlu memahami indikator penyebarluasan dalam petunjuk teknis dan menyiapkan bukti yang relevan.
Kelima, pastikan seluruh unsur pendukung terpenuhi. Konsistensi identitas, kelengkapan laman, dan keberkalaan penerbitan tetap berkontribusi terhadap nilai total. Unsur dengan bobot kecil tidak boleh diabaikan.
Prioritas tersebut merupakan panduan evaluasi internal, bukan jaminan memperoleh peringkat tertentu. Hasil akhir tetap bergantung pada penilaian sesuai petunjuk teknis yang berlaku.
Rujukan Resmi Penilaian Akreditasi Jurnal 2026
Pengelola jurnal dapat mempelajari indikator dan ketentuan penilaian secara lebih terperinci melalui dokumen berikut:
Pemahaman terhadap bobot dan indikator penilaian membantu pengelola menyusun prioritas perbaikan secara lebih terarah.
Namun, upaya tersebut perlu didasarkan pada kondisi dan bukti nyata, bukan sekadar mengejar angka.
Pada akhirnya, akreditasi bukan hanya tentang mendapatkan peringkat. Kualitas substansi, integritas editorial, tata kelola yang baik, dan konsistensi penerbitan menjadi fondasi agar jurnal ilmiah dapat memberikan kontribusi berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan. ***




